Cerita ini dibuat ketika saya masih SMP dan SMA, jadi harap maklum kalau ceritanya aneh xixixixixii semoga terhibur!
*****
"Chia, Chiaa… Chiaaaaaaaaaa…..!!" panggil namanya 3 kali, niscaya dia akan datang menghantui kehidupan kalian dengan tingkah brutal dan imajinasinya yang di luar akal sehat. Tak jarang pula karena ulah nakal Chia, sahabatnya yang cantik dan pintar, Luna, juga ikut kena imbasnya.
Penasaran? Kalau penasaran silahkan baca cerita ringan CHIAAAA!!
(Kalau gak penasaran, ya sudahlah… gak papa… aku ikhlas…)
BAB 1. RONALD DAN DRAMA UPIL
Bel berbunyi tiga kali, tanda bahwa pelajaran akan segera dimulai. Murid-murid SMP Two Hero pun langsung memasuki kelas masing-masing.
Di kelas IX-C duduk seorang cewek yang gak berhenti ngomong, meskipun gak ada yang ngajak ngomong, dia adalah Chia dengan abdi setianya alias teman dekatnya, Luna. Tanpa mereka sadari, ternyata guru biologi sudah mengamati mereka sedari tadi sambil berkacak pinggang.
“Chia, Luna, apa ngomongnya sudah selesai?” tanya guru biologi yang bernama Bu Demen. Sontak kedua cewek tersebut kaget setengah mati.
“Eh….Bu Dhe.” jawab Chia sambil tersenyum penuh makna, makna ketakutan.
“Chia, panggil saya Be Demen, jangan Bu Dhe! Emang sejak kapan saya menikah sama Pak Dhe-mu?”
“Sampai dunia kiamat pun, gak bakalan Pak Dhe- ku menikah ama Bu Demen. Lha wong Pak Dhe-ku udah punya istri hihihi…” gumam Chia terkikik sendiri.
“Kamu tadi bilang apa?”
“Nggak Bu, saya nggak bilang apa-apa. Suer. Saya hanya bergumam kok, Bu.” jawab Chia panik.
Bu Demen terlihat tak ambil pusing.
“Sekarang buka buku biologi kalian halaman 96.” kata Bu Demen pada murid kelas IX-C, “Chia...” panggil Bu Demen, “kamu baca yang keras, biar temen-temenmu semua dengar.”
Tanpa segan-segan, Chia membaca dengan suara yang keras dan lantang bak seorang vokalis band metal, hingga suaranya yang cempreng kayak kaleng pecah itu terdengar sampai kelas yang berada di ujung sekolah.
Alhasil, karena perbuatan Chia yang membuat polusi suara di sebagian wilayah SMP Two Hero, Bu Demen pun harus turun tangan menghadapi beberapa guru yang berprotes ria sembari membawa spanduk Turunkan Suara Chia; Jangan Keras-Keras Wooooiii Ada Murid Belajar; Hormati Kami sebagai Guru Kelas Lain; dan Kutunggu Jandamu, eits, yang ini kayaknya gurunya nge-fans sama Bu Demen, deh.
Berkat kejadian tersebut, waktu pelajaran pun otomatis berkurang 35 menit.
“Untung kamu tadi bacanya keras-keras, ya Chi.” kata Luna, cewek berambut panjang dan bermata lebar sehingga membuatnya terlihat manis.
“Iya, tapi bikin suaraku yang seksi ini jadi abis,” kata Chia, cewek berambut bob ala kadarnya yang jauh dari kata manis sembari memegang tenggorokannya yang serak.
Setelah Bu Demen meminta maaf kepada para guru yang tadi protes, sekarang Bu Demen sudah siap untuk memarahi Chia. Tetapi apa daya tangan tak sampai karena tiba-tiba seorang pria masuk ke dalam kelas.
“Permisi Bu Demen …” kata pria setengah baya yang memiliki kumis kotak ala Charlie Chaplin namun berwarna putih.
“Eh Pak Kepala Sekolah, maaf atas kejadian tadi. Tapi tenang saja, semua sudah terkendali kok Pak.” kata Bu Demen merasa sungkan dan takut.
“Emang ada kejadian apa?” tanya pria yang ternyata adalah Kepala Sekolah SMP Two Hero, tak tahu apa-apa.
Bu Demen tersenyum lega, “Jadi, maksud Bapak kesini, ada perlu apa ya?”
“Jadi begini Bu, saya mau mengenalkan seorang siswa baru.” jawab Pak Kepsek. “Ron, sini! Masuk aja, gak dikunci kok.” panggil Pak Kepsek pada seseorang di luar kelas, kemudian dia berbalik ke Bu Demen, “Saya bilang gak dikunci, padahal jelas-jelas pintunya kebuka hahahahaaaa..... saya lucu ya, Bu..” lanjutnya tertawa puas karena joke-nya sendiri.
“He..he..he.... iya...” Bu Demen menganguk sambil memaksakan diri untuk tertawa.
Tak lama kemudian, seorang cowok blasteran, tinggi, putih dengan rambut gondrong curly berwarna coklat masuk ke dalam kelas. Semua mata memandang pada cowok tersebut, seakan tersihir oleh ketampanannya.
“Baiklah, anak-anakku tercinta, kini kalian akan mempunyai teman baru, sahabat baru, yang datang dari jauh, dari SMP yang lebih elite dan mewah. Tapi, tentu saja tidak semewah SMP kita.”
“Emang SMP kita mewah darimana, Pak?” tanya Chia penasaran.
“Ah, kamu masa gak tau? SMP Two Hero itu mewah, alias Mepet Sawah.... hahahahaaa.....” jelas Pak Kepsek tertawa terpingkal-pingkal mendengar perkataannya sendiri.
Krik...
Krik...
Krik....
Sunyi sejenak, semua mata yang tadi memandang cowok blasteran, kini beralih ke arah Pak Kepsek yang masih tertawa. Menyadari kesunyian yang panjang ini, Pak Kepsek langsung menghentikan tawanya dan berdehem, “Ehem.... kalian mustinya bersyukur bisa sekolah di SMP ini. Disini kalian bisa belajar langsung dari para petani. Mungkin juga, kalian kelak bisa membuat beras daerah ini menjadi mendunia sehingga dapat membanggakan SMP kita. Maka dari itu, mulai sekarang kalian kudu rajin belajar dan sem....”
“Pak, kapan nih saya boleh duduk?” potong cowok blasteran tadi dengan cuek.
Beberapa cewek di kelas tersebut langsung terpesona dengan ke-cool-an cowok tersebut, termasuk Luna, yang tak melepaskan pandangannya dari cowok itu.
Pak Kepsek mengatupkan bibirnya dan memandang ke arah cowok blasteran tersebut, seolah berpikir. “Oh ya, saya lupa.” kata Pak Kepsek menepuk jidatnya yang lebar. “Nah, anak-anak ini teman baru kalian, namanya Donald... Zoo..zooo...zoooo...”
“Ronald Zorya, Pak.”
“Nah itu maksud saya! Abis namamu keberat-beratan sih, jadi susah diingat. Oh ya, Ronald ini murid pindahan dari SMP 05. Semoga dengan kehadiran Ronald disini bisa mengangkat SMP kita menjadi lebih bagus dan bisa bersaing dengan SMP-SMP negeri lainnya. Hidup SMP Two Hero!!!”
“Hiduuup!!!” sorak Chia dan beberapa murid lainnya.
“Baiklah sekian dulu pengenalan murid baru dari saya, kurang lebihnya mohon diikhlaskan, sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas perhatian serta waktunya. Semoga kelak, kalian semua bisa lulus dengan membanggakan orang tua dan juga sekolah ini. Ingat, jangan sampai putus sekolah. Putus cinta aja sakit apalagi putus sekolah.” Pak Kepsek berhenti sejenak dan menoleh ke Bu Demen. “Wah, bagus itu kata-kata saya, putus cinta saja sakit apalagi putus sekolah. Gimana Bu, bisa buat motto baru sekolah ini, kan?”
Bu Demen hanya tersenyum getir, tak menjawab pertanyaan Pak Kepsek.
“Bapak masih lama?” tanya Ronald, “Kalau masih lama saya langsung duduk aja dah.”
“Oh, ini juga saya mau pamit. Kamu ini masih kecil udah buru-buru aja.” kata Pak Kepala Sekolah sambil menepuk pundak Ronald, “Ya udah Bu Demen saya pamit dulu, titip nih anak ya dan makasih atas waktunya.”
“Iya, Pak, sama-sama.” kata Bu Demen tersenyum lega.
“Anak-anak, ingat sekolah itu penting, kalau kalian gak sekolah terus yang jadi muridnya siapa? Terus saya kerjanya apa kalau itu sampai terjadi? Hahaha... masa kepala sekolah gak ada muridnya....hahahhaaaa.... aduh saya ini memang lucu.” kata Pak Kepsek tertawa sambil keluar kelas, meninggalkan murid IX-C yang bersamaan mengernyitkan dahi.
“Ronald, kamu bisa duduk di belakang Chia.” kata Bu Demen sambil menunjuk ke arah Chia yang sedang asyik memancing…. upil.
Ronald pun berjalan menuju kursi tepat di belakang Chia, menatap jijik ke arah Chia yang masih ngupil. Luna yang duduk di sebelah Chia, tak mau melepaskan pandangannya dari Ronald.
“Baiklah, setelah begitu banyak cobaan dalam memulai pelajaran biologi hari ini, akhirnya kita bisa kembali pada pelajaran ini. Sekarang mari kita….” belum sempat Bu Demen meneruskan kata-katanya, tiba-tiba bel berbunyi satu kali, tanda pergantian pelajaran.
Bu Demen hanya bisa menjerit dalam hati sambil meremas buku biologi di tangannya. Sedangkan murid-murid yang lain bersorak-sorai sembari memasukkan buku biologi mereka ke dalam tas dan mengeluarkan buku cetak Bahasa Indonesia karena jam pelajaran berikutnya adalah Bahasa Indonesia.
Bukannya mengeluarkan buku Bahasa Indonesia, Chia malah memamerkan hasil pancingannya yang berupa upil segede gajah ke arah Luna dan beberapa orang yang duduk di dekatnya, termasuk Ronald. Otomatis mereka menjerit jijik dan mencoba menghindarinya. Tetapi dari banyak anak yang melihat upil masterpiece Chia, hanya Ronald saja yang tetap stay cool. Dia duduk tenang di bangkunya, walaupun jempol kakinya sudah merinding disko saking jijiknya.
*****
Bel istirahat telah dibunyikan. Semua siswa langsung berhamburan keluar kelas, mencari makanan dan minuman, atau sekedar mejeng di depan lapangan basket buat tebar pesona ke adik-adik kelas. Bahkan beberapa murid cowok asyik tebar paku di lapangan parkir sekolah (jangan ditiru ya, adegan ini hanya dilakukan oleh para profesional!!).
Di dalam kelas IX-C masih bertahan beberapa makhluk, baik itu makhluk halus atau pun kasar, salah tiganya adalah Chia, Luna dan Ronald.
“Ronald, namamu bagus deh. Ngomong-ngomong blasteran mana nih?” tanya Luna kepada Ronald, tapi Ronald tidak menjawab satu kata pun.
“Ke kantin yuk, Na, aku mau beli peralatan dapur nih. Panci di rumahku habis dicemilin tikus.” ajak Chia mengalihkan perhatian Luna dari Ronald.
“Hm…okey, tapi kantin kan tempat jualan kue, kamu pikir ini pasar apa?”
“Hehehe… kali aja kantin ini sudah menganut perdagangan bebas. Lumayankan, sekali dayung dua tiga pulau terjelajahi.” kata Chia sambil menarik tangan Luna.
“Eh ngomong-ngomong, kamu udah cuci tangan belum? Tadi kan kamu abis ngupil.” tanya Luna sambil menghentikan langkahnya.
“Ah masalah cuci tangan mah gampang, ntar aja. Upilku steril kok, gak ada kumannya” kata Chia cuek.
“CHIIIIAAAAA…. JIJIK TAAAUUUU!!!!!!!!” teriak Luna langsung melepaskan genggaman tangan Chia. Dia melihat tak percaya pada tangannya yang telah ternoda bekas upil Chia. “Ini tidak mungkin terjadi. Tanganku.... ooooohhh….… TIIIDAAKK!!”, Luna langsung berteriak seperti artis-artis di sinetron, dan dengan tampang seperti orang yang kesetanan, dia berlari keluar kelas menuju kamar mandi.
Chia dan Ronald yang melihat kejadian tersebut terpaku di tempat masing-masing, bengong, bingung, melongo seolah tak percaya gadis secantik itu bisa berteriak seperti itu.
“Lebainya………” Chia sambil berlari mengejar Luna. “TUNGGGU... LUNA! AKU TAK BERMAKSUD MENODAIMU DENGAN UPILKU” teriak Chia mengikuti gaya Luna.
Dalam sekejap mereka pun hilang bagai ditelan bumi, Ronald yang sedari tadi menyaksikan adegan drama dari dua orang tersebut, masih melongo, bahkan semakin lebar, sampai-sampai ilernya netes dimana-mana.
*****

Comments
Post a Comment