Sepeda, sepeda apa yang bikin penasaran, hayoooo….??
BAB 9. Sepedaku sayang, sepedaku malang
Jam 4 sore, tanda bahwa extra voli akan segera dimulai. Luna dan Chia beserta para pengikut exta voli lainnya sudah bersiap-siap di lapangan. Mereka terlihat gembira dan tak sabar mengikuti extra voli. Tapi ada seorang cewek yang hanya menunduk terus. Yup, dia adalah Chia.
“Hei, ngapain nunduk terus? Lagi nyari uang jatuh ya?”
“Bukan urusanmu.” jawab Chia jutek, masih tetap menunduk.
“Apa jangan-jangan malu gara-gara punya tampang jelek?”
Kampret, siapa sih nih cowok? pikir Chia.
“Ngomong-ngomong gimana kadonya? Puas, Neng?”
Chia yang mendengar pertanyaan tersebut langsung emosi dan menengadahkan wajahnya ke arah sosok cowok tinggi, berjambul yang tengah tersenyum puas ke arah Chia.
“Hahahaha…. idungnya merah,” kata Alan sambil menunjuk ke hidung Chia, “jadi mirip banget ama badut. Pas banget ma tingkahmu.” ejek Alan.
Chia mendengus dongkol. “Oh… ternyata SI ALAN toh! Jadi kamu yang naruh kado gak jelas itu ke tasku. Thanks ya, tapi aku gak butuh!”
“Sebenernya itu tanda terima kasihku karena kamu udah ngerusakin sepedaku.”
“Aku gak ngerusakin kok. Lagian kamu tega banget ngelukain wajahku yang cantik ini.” kata Chia sembari memegang wajahnya dengan hati-hati.
“Wajahmu tuh mendingan kayak gini, lebih bernilai seni, barang antik. Hahahaha…..” tawa Alan, “kayaknya tonjokkannya hebat banget tuh sampe bisa bikin hidungmu merah kayak tomat. Lain kali aku kasih lagi dah yang sekalian bisa nendang.”
“Kampret! Cari gara-gara nih orang. Jangan kira aku takut sama kamu ya. Bentar lagi kamu bakal ngerasain tonjokkan super mautku.”
“Siapa takut? Orang kamunya yang salah kok, malah gak mau ngakuin.”
“Yang salah tuh kamu, bikin hidungku kayak gini!” seru Chia sambil menunjuk hidungnya yang merah. “Lagian aku juga gak pernah ngelakuin apapun ke kamu.” Chia berhenti sejenak. Alan menatap tajam matanya, “Yah… paling cuma ngasih goresan dikit doang ke sepedamu.” lanjutnya lirih. “Tapi itu gak sengaja kok. GAK SENGAJA.” Chia menegaskan.
“Hahahahaa….. goresan dikit katamu?” tanya Alan dengan sinis. “Lihat tuh sepedaku!!” seru Alan sambil menunjuk ke arah sepedanya yang mungkin sudah tak bisa dibilang sepeda lagi. Setirnya sudah tidak pada tempatnya alias putus, ban depan gembos, sadelnya gak karuan, gak ada rantainya, ban belakang bentuknya sudah tidak bulat lagi melainkan sudah berbentuk persegi panjang.
“Ta… ta-ta-tapi waktu aku tinggalin masih utuh kok, masih ada setirnya...” kata chia gugup, “...kalau rantainya sih, kayaknya jatuh di kolam hehe...”
“Oh ya… emang masih ada setirnya, tapi pas dipegang tuh setir langsung jatuh tak bernyawa!” Alan mulai emosi.
“Salah kamu sendiri megang setirnya.” kelak Chia.
“Heh jangan asal ngomong ya! Kamu kan yang minjemin ke anak kelas delapan yang terkenal nakal itu? Emang berapa orang sih yang minjem sampai sepedaku bisa kayak gini?”
“Cuma sedikit kok, paling anak lima belas doang. Gak parah-parah amat kok, cuma jatuh berkali-kali, nabrak ring, masuk ring, nabrak tembok terus nyebur kolam, dah gitu doang.”
“Hah? 15 anak?! Masuk Ring?!? What the hell?!?!!”
“Masa gitu aja udah rusak? Dasar sepeda gak bermutu!!”
“Eh sekarang malah nyalahin sepedaku. Kayaknya otakmu itu gak beres deh, perlu direparasi secepatnya. Apa jangan-jangan emang kamu gak punya otak, makanya bisa seenaknya sendiri minjemin sepeda orang trus ga ngaku salah lagi.”
“Jangan ngomong seenaknya ya, kamu tuh yang gak punya otak!!”
Kedua orang tersebut saling menatap dengan penuh amarah yang membara sehingga membuat orang-orang disekitar mereka jadi terbakar (lebay mode on). Chia sudah menyisingkan lengan kaosnya bersiap untuk memukul Alan, sedangkan Alan sudah mulai mengambil ancang-ancang untuk menangkis pukulan Chia. Mereka hendak memukul satu sama lain, anak-anak disekitarnya langsung bersorak sorai, bahkan ada yang berlagak jadi cheerleaders dan memberikan yel-yel kepada kedua pihak yang dipenuhi dengan emosi dan amarah tersebut. Sebelum perang dunia ketiga berlangsung, Pak Kusno selaku wasit,….eh guru extra volly langsung melerai mereka berdua.
“Hei apa yang kalian lakukan? Ini ekskul voli bukannya arena tinju. Jadi jangan berkelahi disini. Kalau mau berkelahi mending ikut extra tinju aja sana!” seru Pak Kusno sambil marah-marah diikuti suara omelan khas Pak Kusno yang tak dapat diprediksi dari bahasa mana. Para penonton pun kecewa. Huuuuuu… “Kalian berdua kembali ke tempat masing-masing.” perintah Pak Kusno kepada Alan dan Chia.
Chia dan Alan segera berjalan menjauh, berbaris di tempat mereka masing-masing.
“Ricky, pimpin pemanasan,” kata Pak Kusno kepada cowok pendek, tambun dan berkacamata, “Kiki, kamu bantu saya mengambil bola di gudang.” kata Pak Kusno kepada cewek kalem, cantik, berkacamata, dan berambut panjang. Sekedar informasi Pak Kusno adalah ayah dari Ricky, sedangkan Kiki adalah pacar dari Ricky. Yah, semoga informasi ini dapat membantu banyak karena porsi mereka hanya sedikit dalam cerita ini, kali aja keluar di ujian nasional hehehhe…
Pemanasan berlangsung dengan tertib. Walaupun di tiap sudut barisan terdapat dua makhluk yang dongkol dan sebal. Mereka berdua adalah Alan dan Chia yang masih saja merengut sedari tadi.
“Eh Lun, sejak kapan si Alan ikut ekskul voli?” tanya Chia sambil melirik benci ke arah Alan yang sedang pemanasan.
“Kayaknya sih sejak minggu lalu.” jawab Luna
“Minggu lalu? Tapi minggu lalu aku gak pernah ketemu ama dia deh.”
“Yaiyalah, kan minggu lalu kamu bolos gara-gara bela-belain nonton Spongebob. Masa lupa sih..?”
“Ohh…. tau gini aku gak bakalan ikut voli. Mending juga liat Spongebob, gak bikin mood jelek.”
“Hei kalian berdua dari tadi ngomong aja. Sebagai hukuman, sana lari dua kali putaran!” perintah Ricky.
“Duh! Jadi anak guru aja dah belagu.” geram Chia.
Apes deh aku kalau sama Chia. Bakal kena hukuman terus, batin Luna.
“Hahahaha….. rasain makanya ngoceh terus aja!!!” ejek Alan kepada Chia yang berlari memutari lapangan bersama Luna. Naas bagi Alan karena saking asyiknya ngetawain Chia, dia gak ngeliat kalau ada bola voli yang datang ke arahnya. Dan dalam kecepatan 250 m/s bola itu langsung mengenai wajah Alan yang lumayan kece. “Wuuuadoohh!!! Siapa yang berani-beraninya nge-smash aku?” teriak Alan emosi sembari mencari sumber smash-an tersebut.
“Saya. Kenapa?” tantang Pak Kusno yang baru saja kembali dari gudang dan membawa beberapa bola voli. Nyali Alan pun langsung menciut.
“Gak papa, Pak. Smash-an Bapak manteb. Akurasi dan presisinya pas.” kata Alan nyengir sambil mengacungkan jempol ke arah Pak Kusno.
“Dari tadi kamu ketawa-ketiwi gak jelas, padahal anak lainnya pada konsentrasi latihan volly. Sana kamu lari 5 kali putaran!”
“Tapi, Pak...”
“Apa kamu mau saya smash lagi?” tanya Pak Kusno sembari mengambil ancang-ancang untuk smash ke arah Alan.
“Oh, jangan Pak. Kasihan wajah ganteng saya nanti.” jawab Alan sambil berlari secepat mungkin memutari lapangan.
“Wkwkwkwkw…. rasain kualat. Weks.” tawa Chia melet-melet sambil berlari memutari lapangan bersama Luna dan Alan.
*****

Comments
Post a Comment