Pertemuan merupakan awal dari sebuah interaksi yang kelak akan menciptakan kawan, lawan, atau pun pacar. Tapi apa maksud dari takdir Chia bertemu dengan cowok berjambul di sekolahnya? Apakah ini awal dari munculnya benih-benih cinta seperti di cerita-cerita romance? Atau malah akan menjadi malapetaka?
Entahlah…
BAB 2. SI…ALAN!!
Sesudah mencuci tangan di kamar mandi, Chia dan Luna memutuskan untuk meneruskan perjalanan ke barat, seperti yang dilakukan oleh Tong Sam Cong dan si kera sakti, Sung Go Kong. Mereka bukannya hendak mengambil kitab suci, tapi mereka akan membeli makanan ke kantin yang berada di barat sekolah. Perjalanan panjang ini pun dilalui mereka dengan penuh canda dan tawa, suka dan duka, letih dan lesu, lebai dan alay.
“ Ronald tuh nyebelin, masa dia gak respect ma upilku, padahal anak-anak lainnya pada lari, dia doang yang tetep stay cool.” curhat Chia kesal.
“Bisa gak, kalo gak ngebahas soal upilmu?” tanya Luna sensi, dia trauma dengan ‘upil’.
“Sorry, keceplosan.” kata Chia sambil tertawa, “Tapi emang beneran Ronald tuh nyebelin. Masa kamu ngomong, dia ngacangin seenak jidatnya. Mentang-mentang anak baru, jadi belagu.”
“Udahlah Chi, dia malu kali. Biasa sindrom anak baru, malu bertanya sesat di hatiku…….” kata Luna sambil senyum-senyum sendiri.
“Wah, jangan-jangan kamu suka sama Ronald ya?”
“Enggak! Kata siapa?”
“Tapi kok wajahmu jadi merah kayak tomat, tandanya kamu suka tuh. Ciee... cieee... ihhhhiiiirr….. suiiit…. suiit….” goda Chia, Luna hanya tersenyum malu.
Saking asyiknya menggoda Luna, Chia sampai tak melihat jalan hingga akhirnya tanpa sadar dia menabrak seorang cowok.
BRUUUUKK!!! suara kedua orang tersebut bertabrakan dengan keras sampai terjatuh. Luna langsung membantu Chia untuk berdiri lagi, sedangkan cowok yang ditabraknya bangkit berdiri dengan sendirinya.
Dengan semangat empat lima, Chia hendak berbicara pada cowok tinggi di depannya. Namun tak satu kata pun terucap dari bibir tipis Chia, karena si cowoknya udah nyerocos duluan.
“Hei, kalo jalan tuh pake mata, jangan pake dengkul.” bentak cowok berjambul tersebut.
“Heeeiii... asal tau aja ya, jalan tuh pake kaki bukan pake mata. Otakmu kali yang ditaruh dengkul.” bentak Chia tak mau kalah.
“Dah salah, nyalahin orang lagi.”
“Yang nabrak duluan tuh kamu, malah lempar pisang sembunyi tangan.”
“Yang bener lempar batu, Chi….” kata Luna membenarkan perumpamaan Chia.
“Hahaha bego kok dipelihara.” ejek cowok tersebut.
“Hei, jaga omonganmu ya. Kayak kamu pinter aja. Dasar cowok stres, bego, tolol, dungu, jelek, bambes, jambul, jorok, jelek, hiiidup lagi!!”
“Dasar cewek extra super duper hiper edan!!!”
Chia dan cowok tersebut saling berdebat dan menatap penuh amarah satu sama lain. Sedangkan Luna hanya berdiri mematung di antara kedua orang itu, dia seperti wasir…eh wasit, yang berada diantara dua petinju kelas teri.
Dari kejauhan, Pak Ringgo, seorang guru sejarah yang mempunyai kumis lebat karena sering dipupuk dan disirami, tengah mengawasi kedua orang tersebut. Tapi mereka tak menyadari hal tersebut karena sibuk dengan perdebatan tiada artinya ini.
“Heiii…kalian berdua, sini!!!!” panggil guru sejarah berkepala botak tersebut ke arah Chia dan cowok tersebut, karena ditakutkan akan terjadi peperangan yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi dan turunnya nilai inflasi pada jam istirahat di sekolah tersebut.
“Eiii, kalian di panggil Pak Ringgo tuh.” kata Luna memotong perdebatan dua buah insan yang dirudung rasa kesal ini. Chia dan cowok berjambul tersebut langsung berhenti berdebat dan melihat ke arah Pak Ringgo yang melambaikan tangannya kepada mereka.
Dengan senyum dipaksakan, Chia dan cowok itu membalas lambaian tangan Pak Ringgo dan langsung kabur dengan kecepatan kilat meninggalkan Pak Ringgo yang kebingungan plus marah karena panggilannya diabaikan. Ternyata, bukan hanya Pak Ringgo saja yang marah, Luna yang ditinggalkan oleh Chia, juga ngambek sampe-sampe dia ngemilin daun-daun yang berguguran.
*****
Chia dan cowok tersebut berlari kencang bagaikan atlit lari profesional yang dikejar anjing gila. Mereka berdua berlari serentak menuju kantin. Yang ada dalam pikiran mereka hanyalah sejauh mungkin menghindari Pak Ringgo. Sejenak mereka melupakan perdebatan yang baru saja terjadi. Tanpa segan-segan mereka mendorong setiap orang yang menghalangi jalur lari mereka.
“Wooii! Emang ini jalan nenek moyangmu apa?” teriak seorang cowok berkacamata setelah didorong oleh Chia sampai guling-guling di tanah dan berakhir menjadi daging guling di warung Cak Ling-ling.
“Dasar wong edan!!” teriak seorang cowok cungkring yang nyangkut di pohon gara-gara kesenggol sama cowok berjambul.
“Semprul!!” teriak seorang cewek yang kena senggol Chia sampai masuk ke dalam got.
Tapi segala umpatan dan makian yang terucap dari orang-orang tersebut tak mempengaruhi Chia ataupun cowok berjambul ini dalam hal melarikan diri. Sampai akhirnya kedua orang tersebut lelah dan memutuskan berhenti tepat di kantin.
“Kayaknya Pak Ringgo udah gak bakal ngejar lagi deh.” kata cowok berjambul sambil mengambil napas panjang.
“Iya, lagian dia kan udah tua, pasti encoknya kumat. Aman dah.” kata Chia ngos-ngosan.
Tak berapa lama, Chia dan cowok berjambul tersebut tertawa bersama-sama dan hendak melakukan tos. Namun saat kedua pasang mata tersebut saling melihat satu sama lain, mereka urung melakukannya. Emosi pun kembali datang.
“Ini semua gara-gara kamu, coba kalo kamu gak nabrak, gak bakalan aku dipanggil sama Pak Ringgo, kan? Aku juga gak perlu buang-buang tenaga buat lari gak penting gini.” Ujar Chia sembari berkacak pinggang.
“Apa? Gara-gara aku? Yang nabrak duluan tuh kamu. Kamu tuh yang bikin sial. Dasar cewek aneh.”
“Hah? Cewek aneh? Kamu tuh yang aneh bin gila. Dasar cowok gak punya otak.”
“Seenaknya aja ngomong. Kayak kamu punya otak aja.”
“Otakku emang pinter kok. Kenapa? Iri?!? Weks!!” kata Chia menunjuk ke kepalanya sambil melet-melet gak jelas.
“Otak udang aja bangga.”
“Yang penting kan punya otak daripada situ, gak punya otak. Dasar Patrick!” kata Chia membanggakan diri.
“Kurang ajar.” geram cowok tersebut kesal.
“Heii…Alan!” panggil seorang cowok jangkung yang menghampiri mereka, menghentikan perdebatan Chia versus cowok berjambul.
“Tora...?” gumam cowok berjambul yang bernama Alan tersebut
“ Cieee….cewek baru nih?” kata Tora, sambil menyenggol tubuh Alan.
“Cih…amit-amit dah.” kata Alan dan Chia bebarengan.
“Ciiieee….ciieee.... kompakan nih ye ngomongnya.” goda Tora
“Apaan sih, Tor?” kata Alan mulai kesal.
“Ciiiieee……yang malu-malu kucing nih yeeeee……..”
“Ciaaa…. ciiieeee… ciiiiaaaa…. ciiieeee aja bisanya. Kata lain kek.” kata Alan sebal.
“Ngapain sebut-sebut namaku segala?” kata Chia ke-ge-er-an.
“Hah? Siapa yang nyebut namamu?” tanya Alan bingung.
“Tuh tadi nyebut Chia-chia segala.” jawab Chia sambil menyipitkan mata.
“ Oh jadi namamu Chia-chia?” Alan sambil memandang remeh ke Chia.
“Chia!! Emang kenapa?”
“Bagusan namanya ketimbang orangnya.”
“Semprul!!!!” seru Chia emosi
“Eh, kok malah pada berantem to….” potong Tora, “Oh ya, Lan, kamu tadi dipanggil ma Bu Demen.”
“Aduh, gara-gara cewek aneh ini jadi kelupaan dah. Alamat diceramahin nih.” kata Alan sambil menepok jidatnya.
“Rasain tuh.” kata Chia senang melihat Alan dalam masalah.
Alan dan Tora pun memutuskan untuk pergi ke kantor, tempat dimana Bu Demen sedang galau menunggunya. Sedangkan Chia mulai asyik makan bakso di kantin, sampai tiba-tiba.... Aduh, Luna-nya ketinggalan, bisa ngambek tuh anak. batin Chia teringat pada sahabatnya. Ah, biarin aja, ntar juga baik-baik sendiri, yang penting sekarang perut kenyang, hati senang. lanjutnya sambil melahap tiga bakso sekaligus.
*****

Comments
Post a Comment