Jangankan balas dendam, balas chat-nya saja aku tidak berani huhuhu….
BAB 8. BALAS DENDAM TERSELUBUNG
Beberapa saat setelah Alan pergi, suara gelak tawa Chia menggema di seluruh bangunan sekolah yang sudah sepi tersebut. Mendengar suara Chia, emosi Luna bangkit lagi dan siap menyemburkan api ke Chia.
“Chiiiiiaaaaaaaaaaaaaa…………dasar kurang ajar!!!!!!!” teriak Luna sambil mengarahkan sapunya ke Chia. Melihat Luna bak kerasukan setan, Chia pun panik.
“Nyebut Lun….nyebut……!!!” teriak Chia sambil berlari ke dalam kelas, menghindari pukulan sapu Luna.
“Nyebut…. nyebut… emang aku kesurupan apa?” tanya Luna masih terus mengejar Chia.
“Lah kalo bukan kesurupan, ngapain kamu ngejar-ngejar aku pake sapu segala? Mau minta tanda tangan?”
“Tanda tangan gundulmu kuwi!!!” bentak Luna. “Ini semua gara-gara kamu tau….. ninggalin aku piket sendirian.”
“ Oh, gara-gara piket. Tenang Lun biar aku jelasin dulu duduk permasalahannya. Jadi bisa nggak kita berhenti lari-lari muterin kelas?” kata Chia bernegosiasi. Luna menghentikan langkah kakinya. Mereka berdua sama-sama terengah-engah karena kecapekan.
“Okey, jadi sekarang apa alasanmu?” tanya Luna menginterogasi.
“Begini ceritanya,” Chia mengatur napas, “tadi aku ninggalin kamu piket sendirian tuh bukan tanpa alasan. Aku punya urusan extra penting yang kudu dilaksanakan demi menjaga kemakmuran rakyat di SMP Two Hero ini.”
“Emang urusan apaan?”
“Urusannya adalah….” Chia mendekatkan wajahnya kepada Luna dan berbisik, “...mencari tahu tentang cowok yang nabrak aku. Orang yang telah merusak kedamaian hidupku, dan mungkin bisa berdampak pada hilangnya kestabilan nasional sehingga terjadi situasi yang tidak kondusif di dalam bidang sosial budaya, politik, pemerintahan, keamanan, dan perekonomian di dalam sekolah ini”. Luna hanya mengernyitkan dahi dan mengaruk-garuk kepalanya, tanda bahwa dia tidak mengerti omongan Chia.
“Ternyata cowok yang bernama Alan Mahendra Raharjo ini anak baru di kelas IX-E.”
“Oh… Alan, dia tadi…” kata Luna mencoba menjelaskan tapi sudah terlanjur dipotong oleh Chia.
“Gini, tadi kan aku ke lapangan voli mau maen sama anak kelas VII, sayangnya anak kelas VII-nya sudah pada cabut duluan.”
“Jelas aja, mereka pada kabur, kamu kan maennya mesti ugal-ugalan”
“Luna, kalau orang ngomong tuh jangan dipotong.!”
“Oke dah.”
“Trus gara-gara kesel gak ada yang bisa diajak maen, alhasil aku tendang aja sepeda yang parkir di situ sampe jatuh. Nah, daripada tuh sepeda dianggurin, aku pakai aja buat sepedaan muter-muter sekolahan. Eh, ternyata pas di lapangan basket banyak anak kelas VIII lagi maen basket. Mereka langsung aja ngantri minjem tuh sepeda. Berhubung aku kan orangnya baik hati dan tidak pelit, langsung aja kupinjemin sepedanya, secara cuma-cuma lagi.” cerita Chia dengan penuh semangat, lalu dia menghela napas panjang. “Tapi kamu tahu kan gimana anak kelas VIII? Mereka tuh ceroboh, dah gitu bandelnya minta ampun lagi. Masa sepedanya ditabrakin ke ring basket, belum lagi ada yang berlagak jadi binaragawan trus tuh sepeda dilemparin ke ring basket. Sampai Pak Resa, penjaga sekolahan marah-marah gak jelas ke mereka, untung aku cuma nonton doang..”
“Uh sadis amat….” kata Luna yang sudah melupakan amarahnya pada Chia.
“Luna...”
“Iya, iya aku bakal diem.”
“Karena kasihan sama sepedanya, jadi aku mau balikin lagi ke tempatnya semula. Tapi waktu di perjalanan tuh sepeda nginjek paku yang ditebar sama murid-murid yang tidak bertanggung jawab, alhasil bannya bocor. Lha pas dinaiki jadi oleng dan gak seimbang sampai-sampai sepedanya nabrak tembok trus nyebur ke kolam deh. Untungnya aku bisa turun dari sepeda tepat waktu, kalau nggak, aku pasti bakal ikut nyebur ke kolam juga. Karena aku tipe cewek yang bertanggung jawab, jadi aku angkat sepeda itu walaupun jijik.” kata Chia membanggakan dirinya.
Padahal biasanya kalau pegang ulat, cicak, ular gak pernah jijik. pikir Luna dalam hati.
“Luna......”
“Hah!! Apa???” tanya Luna bingung.
“Aku tahu apa yang ada di pikiranmu. Jadi, tolong jangan mikir yang aneh-aneh tentang kebiasaanku.” kata Chia sambil menyipitkan matanya. Luna speechless, dia terkesima dengan kemampuan Chia dalam membaca pikirannya.
“Okey, aku lanjutin ya ceritanya.” lanjut Chia, “Nah, waktu dah di lapangan voli, aku taruh sepedanya seperti keadaan semula. Yah walaupun ada sedikit goresan-goresan kecil yang penuh makna mendalam.” Chia mengambil jeda sejenak, “Rencananya sih aku mau minta maaf ke orangnya secara langsung soal sepedanya. Tapi waktu aku tanya ke Kiki ma pacarnya si Ricky katanya tuh sepeda punya Alan. Ya gak jadi minta maaf dah, mungkin itu sudah rejekinya hahahahahaahhhaaaaaa…………..” tawa Chia menggema di seluruh ruangan kelas. Luna hanya mengernyitkan dahi. “Nah, gitu tuh ceritanya. Udah mau sore, ayo buruan pulang. Ntar ada ekskul voli lagi. Musti cepet-cepet ganti pakaian.” ajak Chia.
Tiba-tiba mata Chia menatap ke arah bolpoin yang tergeletak di atas meja. “Wah ada bolpoin, masih ada isinya lagi. Lumayan...” kata Chia sambil mengambil bolpoin itu.
Ketika Chia membuka tasnya untuk memasukan bolpoin temuannya tersebut, dia terkejut melihat sebuah kotak dengan gambar lucu di dalam tas birunya. Wajahnya langsung sumringah.
“Lun, liat deh. Ada yang ngasih aku kado hehehehe… padahal sekarang kan bukan ulang tahunku. Pasti ini dari fans beratku.”
“Eh…itu tadi dari….”
“Ternyata hari ini emang hari baikku, udah balas dendam sama Alan eh dapet kado lagi. Uh so sweet banget. Apa ya isinya, coklat, boneka, baju, uang, tiket jalan-jalan ke luar negeri apa berlian ya? Susah emang jadi cewek terkenal.” kata Chia berlagak sok ngartis. Luna langsung sepet dan mengurungkan niatnya untuk memberitahu Chia.
Dengan penuh perasaan bahagia, Chia membuka bungkusan kado tersebut. Dan ketika kado dibuka, terdengar suara letusan, diikuti dengan sebuah kepalan tangan mainan yang keluar dari kotak tersebut dan menghantam wajah Chia.
“ADDOOOHHH!!!” jerit Chia kesakitan. Luna yang menyaksikan itu langsung tertawa terbahak-bahak sampe gelindingan di lantai.
“Aduh sialan. Siapa sih yang ngasih nih kado. Ngajak berantem nih orang.” geram Chia sambil menahan rasa sakit di sekitar hidungnya.
“Hahahahahaha….emang susah jadi orang terkenal ya……” sindir Luna masih menggelinding di lantai.
“Luna, temen sengsara kok malah diketawain. Mestinya dibantuin dong.”
“Sorry… sorry abis lucu sih, jarang-jarang kan kamunya yang dikerjain.” kata Luna menahan ketawa. Dia bangkit berdiri dan menepuk pundak Chia. “Chi, sebenernya tuh kado dari yang empunya sepeda, alias Alan.”
“APAAAA????!!!!” teriak Chia tak percaya. Luna hanya menganguk. “Kenapa kamu gak bilang dari tadi sih?”
“Abis aku mau bilang tapi dipotong terus sih. Lagian kan kamu yang ngerusakin sepedanya duluan, gak minta maaf lagi.”
“Ahhhhhh…….dasar SI ALAN Kampret!!! Bikin mukaku yang cantik dan manis ini jadi jelek. Lihat aja nanti bakal aku gebukin tuh cowok sialan.” kata Chia dengan tatapan penuh dendam.
*****

Comments
Post a Comment