Perpustakaan. Kita biasanya mencari buku dan pengetahuan di dalam perpustakaan, tapi apakah mungkin kita juga dapat menemukan jodoh di dalam perpustakaan? Mungkin begitulah harapan Luna ketika bertemu dengan Ronald, pujaan hatinya, di perpustakaan sekolah.
Hayooo, siapa di sini yang ingin bertemu pujaan hati di perpustakaan?
BAB 3. PERPUSTAKAAN
Sepulang sekolah Chia dan Luna langsung menuju perpustakaan untuk meminjam beberapa buku pelajaran. Luna yang sejak tadi melipat wajahnya karena kesal ditinggal Chia mulai unjuk suara.
“Lain kali kalau mau kabur, ajak-ajak dong, jangan ninggalin orang seenaknya.” kata Luna mengungkit-ungkit kejadian di kantin.
“Sorry Lun, habis wajahnya Pak Ringgo mengalihkan duniaku, jadi nge-blank dah otakku.” kata Chia beralasan. “Belum lagi tuh cowok sialan, bisanya bikin gara-gara doang.”
“Dasar tukang cari alesan. Lagian kamu ma tuh cowok sama-sama kompak. Kompak keras kepalanya, gak ada yang mau ngalah.”
“Emang dia yang salah kok!” seru Chia nyolot.
“Ya udah deh, mari kita buka lembaran baru dan melupakan semua kejadian ini.” kata Luna bijak. Chia hanya menganguk setuju. “Tapi awas aja kalau kamu ninggalin aku lagi, aku pecat kamu jadi temenku.”
“Siap, Bos!” kata Chia memberi hormat pada Luna. “Baiklah, sekarang saatnya kita mencari komik atau novel yang bagus.”
“Loh bukannya kita kesini mau pinjem buku Biologi buat ulangan lusa?”
“Itu mah gampang, besok-besok juga bisa. Jangan belajar melulu, ntar pinter loh. Mending kayak aku, santai tapi pasti.”
“Pasti apaan? Pasti nyontek kalau ulangan?”
“Hmm……pinjem Buku Harry Potter aja dah, lebih mendidik.” kata Chia tak menghiraukan perkataan Luna.
Diambilnya buku Harry Potter dari salah satu rak. “Mau pintar? Baca ini.” lanjut Chia mengikuti iklan-iklan di TV sembari menunjukkan buku Harpot tersebut ke arah Luna.
“Ah, tau ah… mending aku cari buku biologi aja.” seru Luna, pergi meninggalkan Chia yang masih memamerkan buku Harpot-nya sambil senyum tiga jari.
Luna menelusuri rak-rak di bagian buku pelajaran matematika, dengan gigih dia mencari buku biologi (jelas gak bakal ketemu lah ckckckc……). Sedangkan Chia sudah asyik duduk di kursi baca. Saking senengnya dengan buku Harpot, dia bahkan masih tersenyum tiga jari, alhasil giginya garing kriuk-kriuuuk dan lalat-lalat pun membuat sarang dimulutnya (lebay mode on).
“Aduh mana sih buku biologi, kok buku mat semua isinya.” gerutu Luna yang sedari tadi hanya berkutik di rak buku pelajaran matematika. “Ini perpustakaan sekolah tapi kok bukunya gak lengkap sih.” lanjutnya sambil mundur-mundur mencoba mencari lebih seksama.
Tiba-tiba tanpa sengaja Luna menabrak seseorang.
“Eh, sorry...” kata Luna membalikkan badannya dan mendapati orang yang ditabraknya adalah Ronald.
Luna langsung terperanjat kaget, wajahnya mulai memerah. Ronald hanya melihat sejenak ke Luna kemudian kembali melihat buku-buku yang tertata rapi di rak depannya.
“Lagi cari buku ya?” tanya Luna, tapi Ronald tak menanggapi. “Ah, ya jelaslah cari buku, masa nyariin aku. Lagian ngapain nyariin aku, orang akunya kan sudah di hatimu hehehehe……” canda Luna mencoba merayu ala Ratu Gombal, tapi lagi-lagi Ronald tak menghiraukannya.
Perasaan Luna pun jadi campur aduk antara malu, seneng, sepet, tengsin, kesal, pegel linu, encok, kepala cenat-cenut pokoknya kayak gado-gado yang ditemplokin ke mukanya. Sakit. Rasanya pingin pake jubah gaibnya Harpot atau pake cincinnya Bilbo biar bisa menghilang, sayangnya itu cuma ada di buku. Jadi, dengan akal sehat yang masih tersisa, Luna pun memutuskan untuk lari, alias kabur.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula, baru saja Luna mencoba berlari untuk menyelamatkan harga dirinya tapi yang terjadi dia malah kesandung kakinya sendiri. Alhasil, dia pun jatuh menelungkup, terkapar tak berdaya di lantai. Ronald yang baru mengambil salah satu buku dari rak, sontak terkejut.
“Kamu ngapain?” tanya Ronald syok melihat Luna di bawah, menelungkup.
“Ehh... anu... anuu.....” Luna mulai gugup, “ini... ini... lantainya kotor. Jadi musti dibersihin.” jawab Luna panik sambil pura-pura mengepel lantai dengan tangannya. Luna dapat merasakan Ronald tengah menatap aneh padanya, maka dengan cepat dia bangkit berdiri. “Nah, sekarang kan udah bersih.” kata Luna pura-pura puas sambil menunjuk ke arah lantai yang tadi dibersihkan. “Okay, kalau gitu..., bye.” lanjut Luna berbalik meninggalkan Ronald.
Aduh, kenapa semua ini terjadi padaku, di depan Ronald lagi. Benar-benar memalukan. Jangan-jangan dia tahu kalau aku jatuh. Pokoknya aku harus secepatnya keluar dari tempat ini dan mengurung diri di gua terdekat. batin Luna berkecamuk. Saking malu dan salting-nya, Luna sampai berjalan seperti robot.
“Heii...” panggil Ronald tiba-tiba.
Luna menghentikan langkah kakinya. Dengan perlahan, dia menoleh ke arah Ronald yang sedang berjalan menghampirinya.
“Nih....” kata Ronald sambil menyodorkan buku ke arah Luna.
Luna melihat buku biologi di tangan Ronald, Apa maksudnya ini? Apa dia menyuruhku untuk mempelajari jenis-jenis bakteri yang ada pada lantai sehingga aku bisa mengepel dengan baik dan benar dari buku ini? Tidaaakkk.... batin Luna bingung, lalu dia mengalihkan pandangannya ke sepasang mata coklat Ronald.
“Tadi kan kamu nyari buku biologi dan gak bakal ketemu kalau nyari di rak matematika.” jelas Ronald mengetahui kebingungan di wajah Luna.
“Oh iya…ya…” Luna menggaruk-garuk kepala karena kebodohannya. ”Thanks ya.” katanya sembari mengambil buku biologi dari tangan Ronald.
Sejenak mereka terdiam. Tiba-tiba Ronald mengambil sesuatu dari sakunya dan memberikannya pada Luna.
“Eh...” Luna melihat plester luka pemberian Ronald ditangannya.
“Lututmu berdarah tuh.” kata Ronald sembari menunjuk ke arah lutut Luna.
Luna melihat ke lututnya yang memar dan berdarah. Ahhh...ini pasti gara-gara jatuh tadi, batin Luna.
“Buruan bersihin lukanya sebelum kena infeksi.”
“Ah iya...” kata Luna menganguk, “Kalo gitu aku duluan ya, makasih buat ini.” kata Luna tersenyum malu sambil menunjukan buku dan plester pemberian dari Ronald.
“Yo.” Ronald menganguk.
Luna pun beranjak menuju ke bagian peminjaman, sementara Ronald memandangnya dari jauh. Tiba-tiba tanpa sengaja, matanya bertemu tatap dengan mata Chia yang sedari tadi mengintip melalui buku Harpot-nya. Cewek berambut bob acak-acakan ini menyeringai menakutkan lalu terkikik-kikik sendiri, melihat hal itu, Ronald secara refleks langsung mengalihkan pandangannya menuju rak dan menyibukkan diri mencari buku.
“Sihirku berhasil.” Chia sambil melihat buku harpot di tangan kirinya dan pensil di tangan kanannya. Aku bisa membuat Luna jatuh tanpa menyentuhnya. Mungkin selama ini aku adalah penyihir. “Wingardium leviosa.” katanya bangga.
*****

Comments
Post a Comment