Sinopsis cerita… yang pasti sih ceritanya gak jelas seperti hidupmu xixixixiii
BAB 10. TRAGEDI DI KELAS IX-C
Pada hari Sabtu, hujan deras mengguyur sekolah. Para murid kelas IX-C sedang sibuk mengerjakan PR sebelum Bu Demen datang.
“Eh Chi, mana buku biologiku?” tanya Luna kepada Chia yang lagi nulis.
“Bentar Lun, masih nyalin.”
“Cepetan dong, Bu Demen keburu dateng nih.”
“Iya… iyaaa… orang sabar jidatnye lebar..”
“Kok gak dari tadi aja sih nyonteknya pas waktu istirahat?”
“Istirahat ya buat istirahat, bukannya buat ngerjakan PR, Lun...”
“PR tuh dikerjakan di rumah tahu, namanya juga Pekerjaan Rumah...”
“Pekerjaan? Hmm... Masa anak sekolah disuruh kerja, gak dapat gaji pula...”
“Ah, bener juga ya...” gumam Luna mulai setuju dengan pendapat Chia.
“Bu Demen datang!!” seru beberapa anak yang sedang menjaga pintu kelas IX-C. Otomatis semua murid yang sibuk ngerjain PR langsung kembali ke bangku masing-masing.
Sebelum memasuki kelas, tak lupa Bu Demen berpose dulu layaknya seorang model yang sedang menahan boker. Melihat pose Bu Demen yang jauh dari kata seksi tersebut, membuat para murid kelas IX-C sebisa mungkin untuk tidak tertawa. Naas bagi Niko, cowok tambun dengan wajah polos ini tak kuasa menahan tawa sehingga suara tawanya keluar melalui pantatnya yang beraroma tak sedap.
“TUUT…. TUUUUT… TTTTTTUUUUUUUUUUUUUTTTTT….” begitu bunyinya.
“Wkwkwkwkww…………. si Niko kentut!!!!” seru seorang anak di sebelahnya, anak-anak sekelas pun ikut menertawakan Niko. Tapi satu per satu dari mereka mulai berhenti tertawa dan menutup hidung karena tak tahan dengan aroma bunga bangkai bercampur bau bangkai tikus.
“Huuueeekkkk….” kata Chia tak tahan ingin muntah, “Teman-teman cepat keluar, selamatkan diri kalian!” seru Chia memberi komando ke temannya sambil berlari keluar kelas.
Akhirnya semua anak kelas IX-C mengikuti perintah Chia dan keluar kelas guna menghirup udara segar. Niko masih dirundung kebingungan di dalam kelas. Rasa malu menjalarinya sampai dia tak berani beranjak dari tempat duduknya.
“Eh… eh…. ngapain ini? Kok kalian semua pada keluar kelas? Ayo cepat masuk.” kata Bu Demen tak tahu apa-apa.
“Haahh…. It-ituuuu Buuuu…. si Nikooo…” kata Chia sambil mengambil napas.
“Kenapa sama Niko? Saya liat dia gak apa-apa.” kata Bu Demen sambil melihat Niko yang duduk diam di pojokkan. “Ayo semua masuk ke kelas.” lanjut Bu Demen sambil masuk ke dalam kelas.
Sesaat kemudian, Bu Demen yang tak tahu apa-apa, langsung disambut dengan aroma kentut Niko, dan dalam hitungan detik saja, Bu Demen pun jatuh pingsan di dalam kelas. Anak-anak yang melihat kejadian tersebut sontak berteriak histeris.
“Bu Demen mati!!!” seru salah satu anak di luar kelas sembari memegang kepalanya tak percaya.
“Niko telah membunuh Bu Demen!!” seru anak lainnya sembari menunjuk ke arah Niko.
Semua anak pun menatap tak percaya pada Niko yang saat itu sedang duduk sendiri di dalam kelas dengan dihantui rasa takut. Dia menatap tubuh Bu Demen yang tak bergerak.
Pak Ratno, guru olahraga yang kekar dan berambut ala samurai Jepang datang karena mendengar kegaduhan dari kelas IX-C.
“Ada apa ini? Kok semua di luar? Emang gak ada pelajaran apa?” tanya Pak Ratno.
“Itu Pak, si Niko meracuni Bu Demen dengan kentutnya, sampai Bu Demen mati.” kata Chia menjelaskan.
“Ah… kamu ini ada-ada saja. Masa Bu Demen mati karena kentut…” kata Pak Ratno tak percaya. Tapi setelah melihat Bu Demen tergeletak tak bergerak di dalam kelas, Pak Ratno langsung panik.
“Gawat. Ternyata benar.” kata Pak Ratno terkejut. “Sebentar saya akan ambil peralatan dulu, saya akan mencoba menyelamatkan Bu Demen.” lanjutnya.
Pak Ratno bergegas ke UKS.
Tak berapa lama Pak Ratno sudah kembali dengan menggunakan masker oksigen dan juga pakaian ala astronot-astronot. Sembari bergaya akan ke ruang angkasa, Pak Ratno melambaikan tangan sebelum memasuki ruang kelas. Anak-anak yang lain pun bersorak dan melambaikan tangan. Chia yang berada di depan barisan melambaikan tisu, pura-pura menangis. Ketika Pak Ratno memasuki ruang, suasana tampak sunyi, semua anak berdebar-debar.
Di dalam kelas, Pak Ratno berjalan dengan slow motion, Niko yang melihat Pak Ratno dengan pakaian ala astronotnya sontak bingung, tapi juga lega. Pak Ratno berjalan menuju ke arah Bu Demen yang tergeletak tak berdaya. Dia mengecek denyut nadi Bu Demen, lalu menoleh ke arah anak-anak di luar kelas yang menunggu dengan penuh kecemasan. Dengan wajah sedih Pak Ratno menggelengkan kepalanya.
“TIIIIIIDDDDDDDDAAAAAKKKK!!!!!” teriak Chia histeris dari luar kelas, suaranya menggema ke seluruh sekolah. Dia langsung jatuh terduduk dan menangis tersedu-sedu. Beberapa anak yang melihat itu ikut meneteskan air mata, mereka merasakan kesedihan yang dialami Chia.
“Sabar Chi…. mungkin ini emang sudah takdirnya Bu Demen…” kata Luna sambil membelai lembut punggung Chia, mencoba membesarkan hatinya.
“Tapi Lun….” kata Chia dalam isak tangis.
“Betul kata Luna, kamu kudu sabar, Chi. Kita tau kalau kamu merasa bersalah sama Bu Demen gara-gara beribu kenakalanmu” kata Ira, teman Chia yang dewasa dan berparas cantik.
“Iya… kamu harus tabah Chi..” tambah beberapa teman yang lainnya bersimpati.
“Bukan itu masalahnya….” kata Chia masih terisak. “Kalau Bu Dhe meninggal, trus nasib komik Naruto-ku yang disita sama Bu Demen gimana? Kan bukunya ditaruh di lemarinya, dan yang punya kunci lemarinya cuma Bu Demen doang…. Huuuuuuuaaa…… Naruto-ku…………..” jelas Chia kali ini air matanya jatuh bercucuran dengan deras.
Mendengar penuturan Chia, teman-temannya langsung diam seribu bahasa. Mereka seakan dihantam truk gandeng yang lagi gandengan mesra sama bus tingkat, melindas semua akal sehat yang mereka punya. Bengong antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar, akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan Chia yang masih menangis tersedu-sedu.
“Hikkss... hikss… lho kok pada pergi? Gak ada yang mau menghiburku lagi nih?” tanya Chia tanpa penyesalan melihat ke teman-temannya yang menjauhinya. “Lun, kok kamu pergi juga? Lho emangnya ada yang salah sama kata-kataku?” tanya Chia bingung melihat temennya memandang marah ke arahnya.
“Hah, kirain emang beneran sedih tuh bocah.” gerutu Ira.
“Iya, hatinya dibuat dari baja kayaknya.” sahut Nissa, cewek manis blasteran Cimahi-Malang.
“Disaat genting kayak gini yang dipikirin malah komik Naruto… haddeeuuhhh.” balas Siti, cewek centil sambil mengibaskan rambut panjangnya sampai kena wajah Nissa yang teriak kesakitan.
“Dasar Chia, dia mah gak bakal berubah.” kata Tony, cowok gemulai yang doyan gossip.
“Lun, temenmu tuh bilangin suruh insaf.” saran Diah, cewek pintar dengan wajah baby-face.
“Yaelah dari dulu mah udah dibilangin, namanya juga Chia pasti bikin Chiaapeeek deeh.” jawab Luna.
“Kayaknya udah akut tuh sakitnya, kudu diperiksain secepatnya.” ujar Ira, teman-teman yang lain menganguk setuju.
“Periksa ke dokter jiwa aja, kali aja bisa sembuh.” saran Diah.
“Emang dia gila apa?” tanya Luna.
“Kayaknya dokter-dokter udah angkat tangan deh ngurusin tuh anak.” gumam Tony.
“Iya, mending ke dukun aja, biar disembur.” usul Tata, cewek manis namun rada lemot.
“Emang dia kesambet, apa?’ tanya Luna lagi.
Saking asyiknya ngerumpi, Luna dan kawan-kawan sampai lupa tentang Bu Demen. Mereka bahkan nyempet-nyempetin beli kopi di tengah hujan deras untuk membahas masalah otak Chia yang rada kongslet. Dan hampir semua perhatian anak-anak kelas IX-C berada pada topik Chia. Sedangkan orang yang lagi jadi bahan gossip masih saja duduk menangis memikirkan komik naruto.
Selain Chia, ada beberapa murid yang tidak tertarik untuk nge-rumpi, salah satunya Ronald yang malah asyik ujan-ujanan sambil maen sepakbola bareng beberapa anak cowok IX-C. Sesekali Luna curi-curi pandang ke arah Ronald yang sedang merayakan gol-nya.
Dan saat itu, tak ada lagi yang peduli akan nasib Bu Demen, Pak Ratno dan Niko yang masih di dalam kelas. Naas bagi mereka mempunyai murid dan teman seperti anak kelas IX-C. Ckckckckckckc……
*****

Comments
Post a Comment