Persahabatan antara Chia dan Luna sedang diuji, bukan melalui tes pilihan ganda ataupun tes uraian, tapi melalui tes… tes… tes… 1, 2, 3… wah mic-nya rusak nih *narator menggganti mic menjadi mic tyson
BAB 6. PIKET KELAS
Bel berdentang empat kali tanda bahwa sekolah telah usai. Semua murid berhamburan keluar kelas meninggalkan Bu Mary, guru fisika. Tapi, Chia dan Luna masih tetap berada di dalam kelas dengan tampang suntuk.
“Chia, Luna, jangan lupa kalian harus piket kelas sendirian karena dari tadi kalian tidak tertib dan malah asyik ngobrol sendiri.” perintah Bu Mary .Chia dan Luna hanya menganguk. “Ingat, lain kali jangan diulangi lagi.” tegas Bu Mary sambil bergegas pergi meninggalkan kedua cewek tersebut .
“Gara-gara kamu sih ngajak ngobrol terus, kita jadi kena hukuman.” gerutu Luna.
“Sorry, abis mulutku kesepian kalau gak dibuat ngomong.” ujar Chia beralasan. “Sekali-kali piket juga gak papa kan, Lun? Kita kan jarang piket hehehe…”
“Udah diem!! Kamu tuh ngomong terus kayak bebek aja.” bentak Luna sambil mengambil sapu.
Chia syok mendengar perkataan Luna, dia langsung berjalan ke pojokan kelas dan jongkok disana. Kepalanya tertunduk, tatapan matanya kosong, kedua jari telunjuknya mengetuk-etuk lantai. Suasana kelam langsung mengelilinginya, membuatnya terlihat kecil dan terasingkan.
“Ngapain kamu jongkok di pojokkan? Pingin ngikutin yang ada di komik-komik? Daripada gitu, mending ke laut aja sono sekalian.” kata Luna ketus.
“Udah nyesel masih aja dimarahi.”
“Salah kamu sendiri.”
“Perjalanan ini terasa sangat menyakitkan, sayang engkau tak duduk di sampingku kawan….” sebuah lantunan lagu dari Ebiet terdengar dari suara parau Chia.
“Udah jangan nyanyi lagi. Aku gak betah denger suaramu yang extra fals itu!” seru Luna sambil menutupi kupingnya.
Chia semakin mengeraskan suaranya sehingga makin mirip dengan suara kucing kawin di tengah sawah.
“Oke deh. Aku maafin kamu.” kata Luna menyerah.
“Bener?” tanya Chia sambil berdiri dengan wajah berbinar-binar. Luna hanya mengangukkan kepalanya.
“Gitu dong, itu yang namanya temen mau maapin kalau ada salah.” kata Chia sembari berjalan ke arah Luna.
Perasaan Luna tak enak, ditatapnya seraut wajah bundar di depannya yang tengah tersenyum penuh kelicikan dan terlihat bagaikan seringai serigala berbulu roma.
“Baiklah, sebagai sohibku yang paling baik dan pengertian, mau kan kamu piket di kelas ini sendirian? Karena aku ada urusan yang super penting dan tidak bisa ditinggalkan. Ini demi keselamatan umat manusia di muka bumi ini.” kata Chia dengan tampang meyakinkan. Luna hanya melongo.
Ketika Luna hendak mengatakan sesuatu, Chia langsung berlari dengan kecepatan 250 km/jam, meninggalkan Luna sendirian.
“Nyesel dah aku maafin dia. Seharusnya aku tahu ini bakal terjadi.” Luna sambil melihat ke seisi kelas yang besar dan penuh dengan sampah-sampah berserakan. Luna menghela napas panjang dan mulai menyapu sambil mendendangkan lagu dari Ebiet dengan penuh penghayatan.
*****

Comments
Post a Comment