Skip to main content

CHIAAAA!! (bab. 5)

 Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Selain butuh kemampuan mengajar, menjadi guru juga butuh kesabaran ekstra dalam menghadapi murid-murid. Apakah Chia yang terkenal sebagai murid bandel bisa menjadi seorang guru? Hmmm….




BAB 5. TERLAMBAT...


Waduh, sialan aku terlambat. Ini semua gara-gara Kak Nathan. batin Chia kesal seraya berjalan menuju kelasnya. Gimana nih, pake alasan apalagi coba? Masa mesti bilang kejadian yang sebenarnya? Ntar Pak Ringgo malah gak percaya, trus temen-temen bakal ngetawain aku. Ahhh tengsin dong.

 Sesampainya di depan pintu kelas IX-C, Chia berdoa terlebih dahulu sebelum mengetuk pintu.

TOK…TOK…TOK….. “Bunyi hujan di atas genting, airnya turun tidak terkira. Cobalah tengok, daun dan ranting, Pohon dan kebun basah semua. Tok...Tok...tok...” Chia malah nyanyi sembari mengetuk pintu kelasnya. 

 “Masuk.” seru Pak Ringgo.

Chia pun masuk ke dalam kelas. 

Pak Ringgo sudah berdiri di depan papan tulis sambil menyipitkan matanya, melihat Chia dengan ekspresi terganggu. 

“Maaf Pak, saya terlambat.” kata Chia dengan tampang memelas.

“Hm… coba kamu lihat, sekarang jam berapa.” perintah Pak Ringgo sambil menunjuk ke arah jam dinding di belakang kelas.

“Jam tujuh, Pak.”

“Seharusnya kamu masuk jam berapa?”

“Jam setengah tujuh, Pak.”

“Jadi, coba hitung, berapa jam kamu telat?”

“Cuma 30 menit saja kok, Pak.”

“30 menit? Kamu bilang cuma 30 menit?” tanya Pak Ringgo geram, sampai urat di kepalanya yang botak terlihat seperti tanda petir milik Harry Potter. “Lagian kamu kok bisa masuk ke dalam sekolah? Gerbangnya kan udah ditutup jam setengah tujuh?”

Chia menghela napas panjang, “Maaf Pak, sebenarnya saya sudah berada di sekolah ini dari kemarin. Tapi saya tersesat di jalan yang bernama kehidupan.”

“Kayak pernah dengar kata-kata itu...” gumam beberapa murid. 

“Jangan banyak alasan kamu ya!” seru Pak Ringgo melotot penuh amarah. 

“Eits…. Tenang dulu, Pak.” kata Chia mencoba meredakan emosi Pak Ringgo. “Saya tidak beralasan, ini adalah fakta, kejadian yang terjadi pada masa lampau yang disusun berdasarkan ingatan saya. Jadi, tolong dengarkan baik-baik, Pak.” kata Chia bernegosiasi dengan pada Pak Ringgo.

“Baiklah, kenapa kamu terlambat?” tanya Pak Ringgo yang sedikit penasaran dengan cerita Chia. 

Chia menghela napas panjang kembali, “Teman-teman, kalian juga dengarkan baik-baik cerita saya. Kalau perlu catat di buku tulis masing-masing, barangkali keluar di ulangan besok.” lanjut Chia bak seorang guru kepada teman-temannya. 

Beberapa murid menganguk setuju dan bersiap mencatat di buku mereka.

“Begini ceritanya, alkisah waktu saya dalam perjalanan menuju sekolah, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang ditabrak sama becak beroda tiga sehingga membuat anak kecil tersebut terjatuh dan terluka. Sementara tukang becaknya sendiri malah melarikan diri. Bayangkan setelah menabrak anak kecil tak berdosa itu, dia malah melarikan diri! Siapa yang tega berbuat demikian, teman-teman?”

“Tukang becak...” jawab beberapa murid. 

Chia menganguk puas. Sedangkan Pak Ringgo dan Ronald terlihat syok melihat respon murid IX-C tersebut.

“Oleh karena itu, hati kecil saya terpanggil. Maka dengan kecepatan kilat, saya mengejar becak itu di tempat yang menurun. Mengejar, mengejar dan terus mengejar hingga sampai di depan gerbang sekolah.” ujar Chia sembari memperagakan beberapa adegan dalam cerita tersebut.  “Setelah tertangkap, becak itu pun langsung saya giring ke kantor polisi terdekat. Kalau saja, saya tidak melakukan tindakan mulia ini, pastinya saya gak akan telat. Saya sudah mengambil resiko telat demi keadilan dunia. Benar-benar mulia.”.

Chia kembali menghela napas panjang, wajahnya terlihat sedih. Teman-temannya sudah tidak sabar menunggu kelanjutan cerita tersebut. “Sayangnya ketika saya jelaskan semua duduk permasalahnya di kantor polisi, mereka tidak percaya dengan cerita saya.”

“Loh kok bisa?” tanya Niko, cowok tambun yang asyik mencatat cerita Chia.

 “Hmm.... kata mereka, seharusnya saya membawa pelakunya alias tukang becaknya, bukan becaknya saja. Padahal menurut saya, yang salah itu becaknya karena telah menabrak anak kecil yang tidak berdosa.” papar Chia dengan tampang meyakinkan diikuti dengan angukan beberapa teman sekelasnya. “Dan oleh sebab itulah, saya terlambat untuk sebuah alasan yang mulia tentunya.”

“Jadi anak kecilnya kamu biarin gitu aja?” tanya Pak Ringgo.

 “Tentu saja saya tolong.”

“Kok bisa? Kan kamu lagi ngejar becak tak berpenghuni.”

“Kan masih rencana, Pak.”

“Oh begitu...” kata Pak Ringgo sambil menganguk. “Baiklah kalau gitu, rencananya abis ini kamu lari 10 kali putaran di lapangan basket.”

“Hah? Saya tidak berencana seperti itu, Pak. Rencana saya hari ini adalah menerima pelajaran, main dan makan.”

“Sudah, sana lari 10 kali putaran.”

“Tapi, Pak ini demi keadilan dunia. Cerita saya itu sangat mengharukan, saya pantas mendapatkan noble prize.”

“Lagian siapa yang percaya sama cerita karanganmu itu?! Daripada ngarang alesan gak jelas, mending kamu banyak-banyak belajar!”

“Apa? Jadi, semua ini bohong?!?” tanya Niko tertohok sambil melihat ke catatan bukunya. “Kalau gitu buat apa aku susah-susah nyatet?” Niko terlihat depresi.

“Chia, lebih baik kamu lari 10 kali putaran sekarang, atau saya adukan ke Kepala Sekolah.”

“Baiklah Pak.” kata Chia pasrah. Dengan langkah gontai, dia meletakkan tas ransel birunya di samping tempat duduk Luna, lalu dia keluar dengan tampang memelas.

*****

Comments

Popular posts from this blog

Menikmati Pedasnya Ayam Gepuk Pak Gembus Malang

Ayam Gepuk Pak Gembus Malang Sudah dengar belum kalau Ayam Gepuk Pak Gembus buka cabang di Kota Malang? Sebenarnya saya juga baru tahu dari kawan saya yang berada nun jauh di Kota Jakarta. Dia, -sebut saja “Mawar Melati Indah Sekali”, disingkat MMIS- ini sangat merekomendasikan Ayam Gepuk Pak Gembus. Di Kota Jakarta, Jogjakarta dan beberapa daerah lainnya, nama Ayam Gepuk Pak Gembus memang sudah terkenal. Konon kabarnya, nama “Pak Gembus” ini berasal dari nama panggilan sang juragan, Rido Nurul semasa kecilnya. Sedangkan imbuhan “Pak” ditujukan sebagai kata sapaan untuk orang tua di Indonesia. Jadi, terciptalah nama “Ayam Gepuk Pak Gembus”. Nah, berhubung si MMIS ini bercerita dengan menggebu-gebu soal kelezatan rasa pedas Ayam Gepuk Pak Gembus, otomatis saya pun jadi tertarik. Tak butuh waktu lama bagi saya untuk merealisasikan cita-cita saya untuk mencicipi pedasnya Ayam Gepuk Pak Gembus cabang Malang yang berada di daerah Ruko Kalpataru Kav.3, tepatnya di sebel...

Yuk, Mampir ke Bakso Sudi Mampir Malang!

Bakso Sudi Mampir Malang Selain dikenal sebagai kota bunga dan kota pendidikan, Malang juga terkenal dengan berbagai macam kulinernya. Salah satu kuliner yang menjadi ciri khas Kota Malang adalah bakso. Siapa sih yang nggak tergoda dengan cita rasa bakso Malang yang gurih dan lezat? Hampir semua orang pasti setuju kalau bakso Malang memang enak. Nah, kalau kalian pergi ke Malang, jangan lupa untuk meluangkan waktu mencicipi kelezatan baksonya. Tenang saja, hampir di setiap sudut kota Malang terdapat rumah makan, restoran, warung sampai pedagang keliling yang menjual bakso. Jadi, kalian nggak akan kesulitan mencari kuliner khas Malang ini. Salah satu tempat yang   saya rekomendasikan dan sering sekali saya kunjungi adalah Bakso Sudi Mampir Malang. Letaknya berada di Jl.S.Supriadi, Sukun, Kota Malang, tepat di depan jalan raya, sangat mudah dijangkau dengan berbagai kendaraan. Menu Bakso Sudi Mampir Malang Bakso Sudi Mampir Malang menyediakan berbagai mac...

CHIAAAA!! (bab 21)

Ngomong-ngomong soal voli, dulu pas lagi jalan santai ke kantin, palaku pernah di smash sama salah satu anak voli. kampret tuh bocil, gak sekali dua kali coeg tapi berkali2!! Cemen beraninya nyerang dari belakang. Biar Tuhan yang balas #membekasdihati maaf tracing Haikyuu hehe BAB 21 LOKI DAN KLUB VOLI Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, jam dimulainya ekskul voli. Semua peserta ekskul sudah mengenakan pakaian olahraga masing-masing dan berbaris rapi di lapangan. Mereka sedang bersiap-siap melakukan pemanasan. “Tunggu!!” seru Chia sambil berlari tergopoh-gopoh menuju barisan. Dia berbaris tepat di sebelah Luna. ”Fuihh..... hampir aja telat.” kata Chia lega.             “Dari mana aja, Chi?” tanya Luna ingin tahu. Chia melihat ke Luna dengan ekspresi sedih.”Lun.... dari ruang kesehatan, disuruh bersih-bersih sama ganti kaca....hiks......hiksss......uang jajanku jadi abis buat beli kaca baru.... huaaa..... kejamnya dunia ini......”...