Skip to main content

CHIAAAA!! (bab 16)

 Pindinginin sitilih ilihrigi singitlih pinting yi idik idik tirkidik kidik picinti bik...



BAB 16. PENDINGINAN


Berbeda dengan Bu Demen dan Pak Ratno yang diliputi awan gelap, aura ceria dan bahagia justru tengah mengelilingi Chia dan Luna yang sudah mengganti pakaian olahraga mereka. Sepanjang perjalanan menuju kantin, mereka berduet  menyanyikan lagu soundtrack dari ninja Hatori.

“Mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera... bersama teman bertualang...” lantun Luna dengan suaranya yang merdu.

“Tempat yang jauh belum pernah terjamah, suasana yang ramai di tengah kota, slalu waspadalah kalau berjalan, siap menolong orang dimana saja.” lantun Chia dengan suaranya yang jauh dari kata merdu.

“Gozaru Gozaru itulah asalnya. Pembela kebenaran dan keadilan. Hai! Ninja Gozaru!!” lantun Luna penuh semangat.

“Ninja Kakashi dia mulai beraksi. Menjaga anak-anak bermain di konoha. Shuriken-shuriken tajam terbang ke awan. Membawa hati kita jadi dag, dig, dug, dueeerrrr....” lantun Chia mulai ngaco dan tak bernada.

“Jangan ganti lirik seenaknya!! Inikan ost-nya hatori, bukan naruto!” sewot Luna.

“Konoha, Konoha itulah asalnya. Pembela kebenaran dan keadilan. Hai! Ninja Kakashi!!” lantun Chia tak menghiraukan sewotan Luna.

“Dasar perusak lagu aja. Bikin gak mood nyanyi lagi.” cibir Luna kesal.

“Ah, aku tahu apa yang bikin kamu mood lagi.”

“Apaan?”

“Tuh!!” tunjuk Chia ke arah seorang pria tinggi berambut coklat.

Mood Luna yang tadi buruk berubah menjadi ceria lagi saat melihat Ronald yang masih berpakaian olahraga berjalan tak jauh di depan mereka.

“Ayo kita susul!” ajak Chia sembari menarik tangan Luna. “Sasukeeeee!! Sasukeeee!!” panggil Chia.

Suara ituuuu..... nama ituuuu..... abaikan... abaikan...., batin Ronald mempercepat langkahnya.

“SAAASUUUKKKKEEEEE!!!!!!” panggil Chia keras-keras.

Ronald menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, ke arah Chia dan Luna yang berlari menghampirinya.

“Jangan teriak-teriak!” seru Ronald ke Chia. “Dan aku bukan Sasuke!”

“Tapi kamu noleh kan, hahahaha” goda Chia senang sambil meninju lengan Ronald.

 “Huh!!” Ronald menghembuskan napas panjang tanda dia kesal.

“Oh ya, Ron.. gimana tadi ujian geografi-nya?” tanya Luna.

“Lumayan. Gak begitu sulit.”

 “Kamu gak nyontek kan?” tanya Chia

“Emang kamu.”

“Bagus, sebagai Kakashi-Sensei, aku bangga punya murid sepertimu yang tidak mau mencontek. Itu berarti tekadmu benar-benar kuat.” kata Chia bangga sembari menepuk lengan Ronald. “Di dunia yang serba kacau ini, memang diperlukan sikap dan tekad dalam menghadapi semua rintangan yang ada. Menjadi seorang shinobi yang hebat sepertiku memang tidak mudah. Butuh keberanian dan kejujuran.” jelas Chia panjang lebar sembari menatap ke angkasa.

“Chi, ayo ke kantin, aku udah laper, nih.  Belum sarapan.” ajak Luna.

“Selain itu, juga dibutuhkan intelegensi yang tinggi dan semangat juang yang membara. Kegagalan adalah awal keberhasilan, begitu kata pepatah shinobi terkenal. Jadi, jangan takut untuk gagal.” jelas Chia, tak mendengarkan ajakan Luna.

Ronald melihat Chia yang asyik berbicara sendiri sambil menengadah ke langit. Lalu dia mengalihkan perhatiannya ke arah Luna yang terlihat pasrah dan tersiksa dalam menghadapi kelakuan sahabatnya tersebut. Tanpa diduga, Ronald tiba-tiba menarik tangan Luna, mengajaknya berjalan menuju kantin.

“Eh...” tanya Luna bingung sambil melihat ke tangan Ronald  yang menggenggam tangannya.

“Kamu belum sarapan, kan?”

“Iya.. tapi Chia....”

“Biarin aja.”

“Ahh... tapi...”

“Anak itu pasti bakal nyusul sendiri.”

“Hmm... tapi... Ron...”

“Kalau gak cepet-cepet ke kantin nanti kamu gak sempet sarapan.”

“Tapi....”

“Tapi apa?” tanya Ronald sedikit kesal. Dia menghentikan langkahnya dan melepaskan pegangannya dari tangan Luna.

“Tapi.... uangku kutitipin di Chia. Jadi, kalau gak ada dia, aku gak bisa jajan.” jelas Luna, dia tak berani melihat wajah Ronald karena malu.   

Sial, disaat moment yang pas, kenapa malah berakhir memalukan gini. Huaaa.... tau gini uangku bakal aku bawa sendiri. Tapi kantong rokku kan bolong. Ahhh... kenapa ini terjadi padaku......batin Luna berteriak dalam hati.

Ronald melihat wajah Luna yang memerah dan sepertinya dia tahu pergolakan batin yang sedang dialami oleh Luna.

“Pake uangku aja.” kata Ronald.

“Nggak, nggak usah.” kata Luna menggelengkan kepalanya.

 “Kamu bisa pakai uangku dulu, ntar kalau Chia nyampe kantin kan bisa kamu balikin lagi.”

“Tapi aku gak mau ngerepotin kamu.”

“Udah gak papa. Ayo..” ajak Ronald.

“Thanks Ron...”

Mereka pun pergi menuju kantin, meninggalkan Chia yang masih berdiri di tengah jalan sembari berbicara dengan awan di langit yang luas. Chia masih belum sadar jika Luna dan Ronald sudah tidak berada disampingnya lagi.

Ronald,baik banget. Apa kamu gak berniat megang tanganku lagi? batin Luna ngarep.

Perasaan Luna begitu senang bisa berjalan berdua dengan Ronald. Walaupun itu hanya untuk sekedar ke kantin. Sepanjang perjalanan mereka berbincang-bincang tentang pemanasan yang telah dilewatkan Ronald sebelumnya. Mendengar cerita Luna tentang pemanasan yang dilakukan teman sekelasnya, membuat Ronald sadar bahwa dia masuk di kelas yang salah, dimana dia memiliki teman-teman yang aneh-aneh.

Saat melewati tikungan, tanpa disangka mereka berpapasan dengan Alan. Sekilas Luna melihat dua pasang mata tersebut saling bertemu dan tak acuh satu sama lain, seperti dua orang yang tak saling kenal. Ronald maupun Alan menunjukkan ekspresi dingin. Ketika Alan melewati mereka, Luna melihat tangan Alan mengepal, menahan emosi. Namun kali ini tak ada pukulan, mereka berlalu begitu saja. Diam, tak ada yang mengucapkan sepatah kata pun.

Ada apa sih sebenernya diantara mereka? batin Luna bertanya-tanya dalam hati.

“Apa.....?” tanya Ronald ketika menyadari Luna menatapnya terus.

“Ahhh... gak .... gak papa..” jawab Luna terbata-bata.

Beberapa saat kemudian, di tempat Chia berdiri dan masih berbicara sendiri.

“...nah, jadi kalau kamu mau jadi shinobi sepertiku, kamu harus ngelakuan hal-hal tersebut, Sasuke.” kata Chia menoleh ke tempat Ronald tadi berdiri. Namun, dia terkejut karena Ronald dan Luna sudah tak ada disana lagi. Dia malah mendapati Alan berjalan di depannya.

“Hei!!!” panggil Chia ke Alan yang berjalan melewatinya. Alan menoleh ke arah Chia.

“Cewek gila ini lagi.” gumam Alan kesal.

“Apa yang telah kamu lakukan pada Sasuke dan Sakura? Kamu pasti menculik mereka kan? ” tuduh Chia ke Alan.

“Hah?! Menculik?” tanya Alan bingung.

“Katakan dimana mereka!”

“Kamu salah minum obat ya?”

“Obat? Emang kamu pikir aku sakit?”

“Otakmu tuh rada gak beres.”

“Dasar Akatsuki sialan. Sudah menjadi kaki tangan Bu Demen untuk menculik Naruto. Sekarang kamu mencoba mengambil murid-muridku yang lainnya, Sasuke dan Sakura. Katakan dimana mereka!”

“Sasuke? Sakura? Heh?” tanya Alan bingung. “ Kamu lagi delusi? Sono buruan berobat.”

“Emangnya siapa kamu? Berani-beraninya nyuruh aku, HAH?”

“Emang kamu gak kenal siapa aku? Aku tuh orang yang udah jadi korban kebiadabanmu!! Dasar cewek streeessss!!!!” jawab Alan terpancing emosinya.

“Seenaknya aja nuduh-nuduh orang sembarangan. Dasar tidak berperikemanusiaan!!”

“Kamu tuh yang nuduh duluan!!!”

“Kammuuu!!”

“Kammmmuuuuuu!!!!!”

“KAAMMUUUUUU!!!!!!!!”

“KAAAAAAMMMMUUUUUU!!!!!!!!!!!!!!”

“KUUUUAAAAAMUUUUUUUUUUUUUUU!!!!!!!!!!!!!”

Dan mereka terus berteriak satu sama lain sampai jam istirahat selesai, sampai hari berganti dengan bulan, sampai bulan berganti dengan pluto, sampai mereka jadi kakek nenek, sampai penulisnya lelah dan memutuskan untuk resign. Ya nggaklah.

“AAAAAKKKUUUUUUUUU!!!!!” teriak seseorang secara tiba-tiba.

Sekejab, Chia dan Alan berhenti berteriak-teriak dan menoleh ke arah suara tersebut. Ternyata, suara itu berasal dari seorang cowok jangkung dengan senyuman yang lebar.

“Tora...” kata Alan kaget melihat Tora yang secara mendadak berada di tengah-tengah mereka.

 “IYAAA AKUUUU!!! EMANG SALAHKU, SALAH TEMEN-TEMENKU. SUDAH CUKUP, RANGGA, CINTA!!!” teriak Tora  mendramatisir keadaaan.

“Rangga, Cinta....” gumam Chia dan Alan mengernyitkan dahi.

“Pecahkan saja gelasnya, biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh.
Ah... ada malaikat menyulam jaring laba - laba belang di tembok keraton putih.
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya, biar terdera, atau aku harus lari kehutan, belok kepantai...” ucap Tora, berpuisi ala Dian Sastro dengan penuh penghayatan.

“EMANG INI FILM ADA APA DENGAN CINTA ??!!” berang Chia dan Alan sambil meninju Tora hingga dia terbang ke angkasa bersama burung-burung merpati dan nyangkut di atas pohon jati.

“Cieee..cieeee....kompakan nih yeeee Rangga sama Cinta.........” goda Tora dengan muka lebam dari atas pohon jati.

“DIAM KAMU!!” teriak Chia dan Alan sambil melempari Tora dengan sepatu mereka. Dengan gesit Tora bergelantungan dari satu dahan ke dahan yang lain guna menghindari lemparan sepatu mereka. Namun naas, salah satu sepatu Chia tepat mengenai kepala Tora hingga dia terjatuh dari atas pohon jati yang teramat sangat tinggi sekali, yaitu setinggi 2000 milimeter dari atas tanah.

 “Rasain tuh ... makanya jangan suka godain orang...” kata Chia puas.

“Tor... bangun!” seru Alan pada Tora yang terkapar tak berdaya di atas tanah. Tapi tubuh Tora bergeming, diam tak bergerak. “Jangan-jangan dia mati.”.

“Ahh.... masa? Gak mungkin ah. Masa jatuh dari situ doang bisa bikin mati.”.

“Tapi aku pernah baca berita, emang pernah ada kejadian kayak gini.”

“Ahh yang bener?” tanya Chia mulai panik. “Aduh... aku kan gak sengaja.”

“Wah aku gak ikut-ikutan loh.” Kata Alan angkat tangan

“Tapi kamu ikut ngelempar juga, kan? Berarti kamu juga terlibat dalam aksi pembunuhan tak disengaja  ini.”

“Habis nih anak bikin emosi, sih.” kata Alan yang disetujui dengan anggukan Chia.

“Terus sekarang gimana?”

“Mene ketehek....”

“Ciee.....cieeeee...... panik bareng.......” ucap Tora yang tiba-tiba membuka mata sambil tersenyum lebar.

“Toorrrraaaaaa...........” geram Chia dan Alan bersamaan sambil men-smackdown Tora sampai KO.

“Aaaammppppuuunn.........” teriak Tora diantara jepitan tangan Alan dan Chia.

 

*****


Comments

Popular posts from this blog

Menikmati Pedasnya Ayam Gepuk Pak Gembus Malang

Ayam Gepuk Pak Gembus Malang Sudah dengar belum kalau Ayam Gepuk Pak Gembus buka cabang di Kota Malang? Sebenarnya saya juga baru tahu dari kawan saya yang berada nun jauh di Kota Jakarta. Dia, -sebut saja “Mawar Melati Indah Sekali”, disingkat MMIS- ini sangat merekomendasikan Ayam Gepuk Pak Gembus. Di Kota Jakarta, Jogjakarta dan beberapa daerah lainnya, nama Ayam Gepuk Pak Gembus memang sudah terkenal. Konon kabarnya, nama “Pak Gembus” ini berasal dari nama panggilan sang juragan, Rido Nurul semasa kecilnya. Sedangkan imbuhan “Pak” ditujukan sebagai kata sapaan untuk orang tua di Indonesia. Jadi, terciptalah nama “Ayam Gepuk Pak Gembus”. Nah, berhubung si MMIS ini bercerita dengan menggebu-gebu soal kelezatan rasa pedas Ayam Gepuk Pak Gembus, otomatis saya pun jadi tertarik. Tak butuh waktu lama bagi saya untuk merealisasikan cita-cita saya untuk mencicipi pedasnya Ayam Gepuk Pak Gembus cabang Malang yang berada di daerah Ruko Kalpataru Kav.3, tepatnya di sebel...

Yuk, Mampir ke Bakso Sudi Mampir Malang!

Bakso Sudi Mampir Malang Selain dikenal sebagai kota bunga dan kota pendidikan, Malang juga terkenal dengan berbagai macam kulinernya. Salah satu kuliner yang menjadi ciri khas Kota Malang adalah bakso. Siapa sih yang nggak tergoda dengan cita rasa bakso Malang yang gurih dan lezat? Hampir semua orang pasti setuju kalau bakso Malang memang enak. Nah, kalau kalian pergi ke Malang, jangan lupa untuk meluangkan waktu mencicipi kelezatan baksonya. Tenang saja, hampir di setiap sudut kota Malang terdapat rumah makan, restoran, warung sampai pedagang keliling yang menjual bakso. Jadi, kalian nggak akan kesulitan mencari kuliner khas Malang ini. Salah satu tempat yang   saya rekomendasikan dan sering sekali saya kunjungi adalah Bakso Sudi Mampir Malang. Letaknya berada di Jl.S.Supriadi, Sukun, Kota Malang, tepat di depan jalan raya, sangat mudah dijangkau dengan berbagai kendaraan. Menu Bakso Sudi Mampir Malang Bakso Sudi Mampir Malang menyediakan berbagai mac...

CHIAAAA!! (bab 21)

Ngomong-ngomong soal voli, dulu pas lagi jalan santai ke kantin, palaku pernah di smash sama salah satu anak voli. kampret tuh bocil, gak sekali dua kali coeg tapi berkali2!! Cemen beraninya nyerang dari belakang. Biar Tuhan yang balas #membekasdihati maaf tracing Haikyuu hehe BAB 21 LOKI DAN KLUB VOLI Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, jam dimulainya ekskul voli. Semua peserta ekskul sudah mengenakan pakaian olahraga masing-masing dan berbaris rapi di lapangan. Mereka sedang bersiap-siap melakukan pemanasan. “Tunggu!!” seru Chia sambil berlari tergopoh-gopoh menuju barisan. Dia berbaris tepat di sebelah Luna. ”Fuihh..... hampir aja telat.” kata Chia lega.             “Dari mana aja, Chi?” tanya Luna ingin tahu. Chia melihat ke Luna dengan ekspresi sedih.”Lun.... dari ruang kesehatan, disuruh bersih-bersih sama ganti kaca....hiks......hiksss......uang jajanku jadi abis buat beli kaca baru.... huaaa..... kejamnya dunia ini......”...