Skip to main content

CHIAAAA!! (bab 14)

 Cukup baca judulnya, tahu inti ceritanya. Tamat. GG Gamink!!


BAB 14 : OPERASI PENYELAMATAN NARUTO part 3. Rencana gagal


 “Kenapa aku juga harus ikut beresin buku-buku ini?” tanya Ronald sembari mengumpulkan buku-buku yang berserakan di sekitar meja praktikum.

“Kita kan team 7, jadi sebagai sebuah team, kita harus saling membantu satu sama lain.” jelas Chia seraya menata buku yang ada di dekat meja guru.

“Padahal semua ini kan gara-gara ulah kalian.”

“Maaf, Ronald.” kata Luna sambil memasukan buku ke dalam lemari.

“Sudah jangan komplain melulu. Kita musti secepatnya keluar dari TKP ini sebelum malam.”

Ronald hanya bisa pasrah dan menata kembali buku-buku yang berserakan.

Di saat bersamaan, di tempat lain, tak jauh dari lab. biologi, seorang cowok berjambul sedang berjalan menuju ke arah lab.

“Semprul! Kenapa bisa sampai kelupaan ngunci lab. biologi segala? Padahal tadi siang pas ambil daftar nilai, udah diwanti-wanti sama Bu Dhe buat ngunci lab. Eh, tapi gara-gara si Tora ngajakin main basket, jadi kelupaan deh. Kalau sampai ketahuan Bu Dhe, bisa diceramahin nih.” gerutu cowok berkaos oblong dan bercelana pendek ini. “Huh, mana udah jam setengah enam lagi. Sekolah kan udah pada sepi.” lanjut Alan seraya melihat jam tangannya.

Sementara itu, di dalam Lab. biologi, Chia dan Ronald sedang duduk di lantai, bersandar pada sisi samping meja guru, membelakangi pintu. Mereka tengah sibuk menata buku yang berhamburan di lantai. Sedangkan Luna berdiri di depan lemari, untuk memasukan buku–buku yang sudah ditata oleh kedua orang ini. Mereka bertiga tak akan menyangka apa yang akan terjadi selanjutnya.

Di sisi lain, jarak Alan dengan lab. biologi hanya terpaut 3 meter. Namun, tiba-tiba dia berhenti ketika melihat pintu lab. biologi sedikit terbuka.

 “Lho, kok pintunya kebuka? Perasaan tadi siang udah ditutup.” gumam Alan bingung.

Dengan rasa penasaran yang tinggi, Alan mendekati pintu tersebut dan membukanya secara perlahan. Saat itulah dia mendapati Luna sedang memasukan buku ke dalam lemari. Luna yang sudah selesai memasukan buku tanpa sengaja melihat ke arah Alan yang menatap bingung padanya.

Apa yang harus kulakukan? batin Luna bingung. Oh ya!!!

“Akatsuki tlah tiba, akatsuki tlah tiba.... aduuh... aduuuh.......” nyanyi Luna sembari menari hula-hula. Alan semakin terlihat bingung dengan ulah Luna, sampai-sampai dia tak bisa berkata-kata.

“Kamu ngapain sih? Ini bukan saat yang tepat untuk nari.” kata Chia ketika melihatnya Luna masih menyanyi dan menari sambil sesekali memutar  matanya ke arah pintu.

“Bukannya itu kode yang kamu ciptakan?” gumam Ronald.

“Ohhh.... jangan-jangan” ujar Chia baru ngeh. Dia langsung bangkit berdiri dan melihat ke arah pintu.

“A... kat... suki.....” gumam Chia saat melihat Alan sedang berdiri di depan pintu.

Luna menghentikan tariannya dan menoleh ke arah Chia sembari berbisik, “Apa yang harus kita lakukan?”. Chia menggeleng panik.

Pandangan Alan tertuju pada Luna, Chia, lemari buku yang terbuka di belakang mereka, dan beberapa tumpuk buku yang ada di lantai.

“Ahhh!!! Kamu pasti mau nyuri naruto kan?” tanya Alan sambil menunjuk ke Chia. “Hm... sudah kuduga. Sayangnya, Naruto sudah diamankan ke tempat yang aman. Hahahahaha......” lanjut Alan seraya berjalan mendekati Chia dan Luna. “Bu Dhe pasti bakalan shock kalau tahu muridnya berani ngebobol lemarinya. Wah...wah... bisa kena hukuman berat nih. hehehe...” cibir Alan sambil menyeringai puas melihat ketakutan di wajah Chia. Keringat dingin mulai bercucuran di dahi Chia dan Luna.

Suara ini...., batin Ronald terlonjak saat mendengar suara Alan. Dengan perlahan dia bangkit berdiri.

“Alan.” gumam Ronald sewaktu melihat Alan yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.

Seketika seringai lebar yang tadi diperlihatkan Alan kepada Chia dan Luna langsung hilang begitu melihat Ronald. Kini seringai itu berganti dengan sorot mata penuh amarah ke arah Ronald. Mukanya merah padam menahan emosi.

“Orang sepertimu...”geram Alan seraya mendekati Ronald yang berdiri terpaku di tempatnya, “...gak pantas nyebut namaku!” seru Alan sembari memukul wajah Ronald hingga dia terpelanting ke belakang.

Chia dan Luna yang melihat kejadian tersebut hanya bisa memekik.

Alan berpaling, berjalan keluar dari lab. biologi.

“Kamu gak papa?” tanya Luna sambil mencoba membantu Ronald berdiri, namun Ronald langsung menepis tangan Luna. Dia bangkit berdiri sendiri. Hati Luna pun terasa mencelos.

“Heyy!!! Jangan seenaknya main pukul ya! Kita emang salah, tapi bukan berarti kamu bisa mukul Ronald. Dia kan cuma bantuin kita. Dia gak salah apa-apa, tau!!!” teriak Chia ke arah Alan.

Alan menghentikan kakinya, masih membelakangi ketiga orang itu.

“Gak salah apa-apa...”, Alan bergumam lirih mengulang perkataan Chia. Giginya menggeretak, tangannya mengepal. “Cih!!” ejek Alan lalu berjalan begitu saja meninggalkan ketiga orang tersebut di dalam lab.

“Heyyy!! Tunggu!!! Jangan pergi seenaknya!!” teriak Chia mencoba mengejar Alan.

“Hentikan, Chi!”seru Ronald.

Chia menghentikan langkahnya dan menoleh ke Ronald.

“Tapi dia kan habis muk....”

“Sebaiknya kita membereskan buku-buku ini.” sela Ronald sambil mengumpulkan buku-buku di lantai.

“Percuma. Kita udah ketahuan, Alan pasti bakal bilang ke Bu Demen.” tukas Chia.

“Dia gak akan bilang.” ujar Ronald sembari memasukkan buku-buku tersebut ke dalam lemari. Dari balik punggungnya, suara Ronald terdengar begitu sedih. Chia dan Luna saling berpandangan, seakan tahu alangkah baiknya jika mereka mengikuti perkataan Ronald.

Mereka pun kembali menata buku-buku ke dalam lemari. Tapi kali ini suasana tak seceria sebelumnya. Ronald lebih banyak diam. Luna jadi merasa bersalah telah mengajaknya. Sedangkan Chia tak henti-hentinya mengeluh karena lapar.

Sesudah mereka selesai menata rapi semua buku biologi ke dalam lemari, Chia pun mengunci kembali lemari tersebut dengan menggunakan klip-nya. Setelah itu, mereka keluar dari lab.biologi.

 “Ron, maafin kita yah...” kata Luna lirih.

Ronald melihat Luna dan dia tersenyum sambil berkata, “Bukan salah kalian kok.”.

Sejenak Luna terperangah. Senyum Ronald terlihat begitu tulus namun di sisi lain juga menyiratkan kepedihan.

“Aku duluan ya.” ujar Ronald.

“Thanks ya....” kata Chia dan Luna bersamaan.

Ronald pun berlalu meninggalkan Chia dan Luna yang masih menutup pintu laboratorium dan mengecek kembali semuanya, memastikan keadaan lab tersebut seperti sebelum mereka datangi.

“Arrgghhh... si Alan itu emang nyebelin. Ngapain juga dia mukul Ronald segala. Kita emang salah sih udah nyuri. Tapi kan dia gak harus main hakim sendiri.” berang Chia setelah selesai memastikan semuanya dan berjalan pulang.

“Hmm.... kayaknya ini bukan cuma gara-gara masalah nyuri deh.” 

“Hah?”

“Buktinya ekspresi Alan pas ngelihat Ronald langsung berubah 180 derajat.”

“Hmm... bener juga. Alan juga ngomong ‘orang sepertimu ga pantas nyebut namaku’,” ujar Chia mengikuti perkataan Alan. “emang Ronald itu orang seperti apa?” tanya Chia.

“Entahlah. Mungkin mereka sebelumnya emang sudah ada masalah.”

“Apa besok kita coba tanya ke Ronald soal masalahnya sama Alan?”

“Jangan ah. Mending kita pura-pura gak terjadi apa-apa. Kasihan Ronald kalau kita ikut campur urusannya.”

“Iya, ya. Tapi gimana kalau Alan ngadu ke Bu Demen, bisa-bisa kita kena skors, atau bahkan disuruh bersihin toilet...... huuuuaaaa..... aku gak mau.”

“Kan tadi Ronald bilang kalau Alan gak akan bilang ke Bu Demen. Mending kita percaya aja omongannya.”

“Semoga aja bener. Aku gak mau kena hukum.” kata Chia ketakutan.

“Aku jadi gak enak ati sama Ronald. Gara-gara kita maksa dia ikutan ngambil naruto, dia jadi kena masalah.” kata Luna menghela napas panjang.

“Udahlah, Lun. Toh, kita gak bisa memutar waktu. Yang sudah terjadi biarlah berlalu.” ujar Chia bijak sembari menepuk pundak Luna. “berhubung sekarang udah malam, mending kita cari ramen. Perutku udah keroncongan dari tadi. Operasi penyelamatan Naruto ini benar-benar melelahkan.”

“Dan gagal pula. Semua idemu yang katanya cemerlang itu, akhirnya berakhir sia-sia.” cibir Luna.

“Yah mau gimana lagi. Lebih baik mencoba dari pada bertanya-tanya. Sekarang kita jadi tahu sisi positifnya, kan?”

“Apaan emang?”

“Nilai berharga yang dapat kita petik dari operasi ini adalah.......”, jeda Chia, “...kalau Naruto gak ada di lab biologi. Jadi, kemungkinan Naruto sekarang ada di kantornya Bu Demen. So, rencana berikutnya, gimana kalau kita membobol lemari kantornya Bu Demen dan menyelamatkan Naruto. Kali ini pasti sukses.” usul Chia dengan mata berbinar-binar.

“OGAAAHHH AAHHHH!!!!  Jadi orang kok gak pernah kapok-kapok ckckckckckckc.......” tolak Luna sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

 


*****

 



Comments

Popular posts from this blog

Menikmati Pedasnya Ayam Gepuk Pak Gembus Malang

Ayam Gepuk Pak Gembus Malang Sudah dengar belum kalau Ayam Gepuk Pak Gembus buka cabang di Kota Malang? Sebenarnya saya juga baru tahu dari kawan saya yang berada nun jauh di Kota Jakarta. Dia, -sebut saja “Mawar Melati Indah Sekali”, disingkat MMIS- ini sangat merekomendasikan Ayam Gepuk Pak Gembus. Di Kota Jakarta, Jogjakarta dan beberapa daerah lainnya, nama Ayam Gepuk Pak Gembus memang sudah terkenal. Konon kabarnya, nama “Pak Gembus” ini berasal dari nama panggilan sang juragan, Rido Nurul semasa kecilnya. Sedangkan imbuhan “Pak” ditujukan sebagai kata sapaan untuk orang tua di Indonesia. Jadi, terciptalah nama “Ayam Gepuk Pak Gembus”. Nah, berhubung si MMIS ini bercerita dengan menggebu-gebu soal kelezatan rasa pedas Ayam Gepuk Pak Gembus, otomatis saya pun jadi tertarik. Tak butuh waktu lama bagi saya untuk merealisasikan cita-cita saya untuk mencicipi pedasnya Ayam Gepuk Pak Gembus cabang Malang yang berada di daerah Ruko Kalpataru Kav.3, tepatnya di sebel...

Yuk, Mampir ke Bakso Sudi Mampir Malang!

Bakso Sudi Mampir Malang Selain dikenal sebagai kota bunga dan kota pendidikan, Malang juga terkenal dengan berbagai macam kulinernya. Salah satu kuliner yang menjadi ciri khas Kota Malang adalah bakso. Siapa sih yang nggak tergoda dengan cita rasa bakso Malang yang gurih dan lezat? Hampir semua orang pasti setuju kalau bakso Malang memang enak. Nah, kalau kalian pergi ke Malang, jangan lupa untuk meluangkan waktu mencicipi kelezatan baksonya. Tenang saja, hampir di setiap sudut kota Malang terdapat rumah makan, restoran, warung sampai pedagang keliling yang menjual bakso. Jadi, kalian nggak akan kesulitan mencari kuliner khas Malang ini. Salah satu tempat yang   saya rekomendasikan dan sering sekali saya kunjungi adalah Bakso Sudi Mampir Malang. Letaknya berada di Jl.S.Supriadi, Sukun, Kota Malang, tepat di depan jalan raya, sangat mudah dijangkau dengan berbagai kendaraan. Menu Bakso Sudi Mampir Malang Bakso Sudi Mampir Malang menyediakan berbagai mac...

CHIAAAA!! (bab 21)

Ngomong-ngomong soal voli, dulu pas lagi jalan santai ke kantin, palaku pernah di smash sama salah satu anak voli. kampret tuh bocil, gak sekali dua kali coeg tapi berkali2!! Cemen beraninya nyerang dari belakang. Biar Tuhan yang balas #membekasdihati maaf tracing Haikyuu hehe BAB 21 LOKI DAN KLUB VOLI Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, jam dimulainya ekskul voli. Semua peserta ekskul sudah mengenakan pakaian olahraga masing-masing dan berbaris rapi di lapangan. Mereka sedang bersiap-siap melakukan pemanasan. “Tunggu!!” seru Chia sambil berlari tergopoh-gopoh menuju barisan. Dia berbaris tepat di sebelah Luna. ”Fuihh..... hampir aja telat.” kata Chia lega.             “Dari mana aja, Chi?” tanya Luna ingin tahu. Chia melihat ke Luna dengan ekspresi sedih.”Lun.... dari ruang kesehatan, disuruh bersih-bersih sama ganti kaca....hiks......hiksss......uang jajanku jadi abis buat beli kaca baru.... huaaa..... kejamnya dunia ini......”...