Apa itu kenyataan pahit yang sebenarnya? Pare. Ya, itu punchline-nya. Singkat, padat, pare.
BAB 11. KENYATAAN PAHIT
Akhirnya dengan bantuan dari tim medis PMR, Bu Demen berhasil diselamatkan dan dibawa ke UKS. Sedangkan tersangka utamanya, Niko, harus diamankan menuju laboratorium biologi guna menghindari amukan murid kelas IX-C. Selain itu, Niko juga harus melakukan uji lab untuk mengetes kandungan gas pada kentutnya.
Para guru dan staff medis takut kalau ternyata Niko adalah salah satu mutant dari X-men yang mencoba untuk menghancurkan umat manusia dengan gas beracun yang dimilikinya. Namun, setelah melakukan serangkaian tes, dapat dipastikan bahwa Niko bukanlah seorang mutant. Aroma yang terdapat pada kentutnya ternyata berasal dari makanan yang dia makan, yaitu sebakul pete dengan lauk jengkol rica-rica dicampur dengan kaldu duren dan ditambah taburan bawang putih seember (beberapa staff medis yang melihat campuran makanan ini langsung mengalami muntah kronis dan dibawa ke Rumah Sakit terdekat).
Setelah kejadian itu, kelas IX-C harus disterilkan
dari bau kentut Niko. Sehingga mau tak mau para murid IX-C diminta untuk
belajar sendiri di perpustakaan. Bukannya belajar, mereka malah asyik ngerumpi,
bahkan ada yang kabur ke kantin atau malah main sepakbola di lapangan. Tapi,
dari sekian banyak murid kelas IX-C, hanya ada satu murid yang dengan setia
menemani Bu Demen yang berbaring lemah di UKS. Ya, dia adalah Chia yang tak
henti-hentinya mengguncang tubuh Bu Demen.
“Bu Dhe, bangun Bu Dhe, jangan tinggalkan kami...”
mohon Chia sambil terisak. Sesaat kemudian Bu Demen membuka mata dan melihat
Chia.
“Chiaa....” ujar Bu Demen lemah.
“BU DHEEE!!!!” seru Chia senang.
“Chiaaa...”
“BUU DHEEEE!!!”
“Chiaaaa....”
“BUUU DHHEEEE!!!!
“Chiaaaaaa... sejak kapan saya nikah sama Pak
Dhe-mu? Panggil yang bener.” geram Bu Demen namun dengan suara yang lemah.
Perlahan, dengan bantuan Chia, Bu Demen mencoba
duduk bersandar pada bantal.
“Maaf Bu
Dhe... eh Bu Demen. Saya seneng akhirnya Bu Demen siuman juga, udah hampir 10 menit
saya nunggu disini. Saya bener-bener takut kalau Bu Dhe... eh, Bu Demen
kenapa-napa. Untungnya Bu Demen sekarang udah siuman. Lega sekarang rasanya.”
cerocos Chia.
“Chia, kamu
nangis?” tanya Bu Demen saat melihat air mata Chia.
“Iya, Bu Dhe, eh Bu Demen. Saya takut kalau Bu Dhe
gak bangun lagi.” jawab Chia sambil menghapus airmatanya.
“Chiaa ... ” gumam Bu Demen terharu melihat
kepedulian Chia, matanya mulai berkaca-kaca.
”Soalnya kalau Bu Demen gak bangun lagi, nasib
komik Naruto saya gimana? Kan ada 17 komik Naruto yang sudah ibu sita. Kasihan
komik naruto saya kalau gak ada yang baca.” lanjut Chia, seketika bukan hanya
mata Bu Demen yang berkaca-kaca melainkan tubuhnya pun ikut berubah menjadi
gelas-gelas kaca yang rapuh dan pecah. Hatinya hancur berkeping-keping melihat
pengakuan Chia. “Nah, apa begini saja Bu Dhe, eh Bu Demen, mumpung Bu Demen
udah siuman dan untuk mengantisipasi kalau kejadian ini terulang lagi. Gimana
kalau Bu Demen ngembaliin 17 komik Naruto saya yang Ibu sita?” tanya Chia penuh
harap.
“Chiaaa....”geram Bu Demen. “Jadi dari tadi kamu
nangis itu gara-gara kamu takut saya gak bakal ngembaliin komik Naruto-mu kalau
saya mati ya?” tanya Bu Demen memperjelas. Chia tersenyum dan menganguk pasti. Kini wajah Bu Demen berubah
menjadi merah, menahan emosi.
“Bu Demen suka saya ya, kok wajahnya merah...”
goda Chia yang tak menyadari kemarahan Bu Demen. “Atau jangan-jangan Bu Demen
kena radiasi kentutnya Niko. Gawat!”
Bu Demen yang tadinya lemah tak berdaya kini
berubah menjadi Bu Demen yang kuat dengan penuh amarah membara. Kedua bola
matanya yang merah menatap marah ke arah Chia yang langsung mundur
ketakutan menjauhi Bu Demen.
“Tenang Bu, semua bisa dibicarakan.
Tenang...”
“Chiaa...” geram Bu Demen sambil mengepalkan
tangannya. Tiba-tiba, dari arah luar datang seorang cowok yang tak asing lagi
bagi Chia.
“Alan?!” seru Chia kaget.
“Bu Dhe gak papa kan?” tanya Alan ke Bu Demen.
“Hati-hati Bu Demen bentar lagi bakal berubah jadi
Hulk. Dia sudah terkena radiasi kentut Niko.” kata Chia mengingatkan Alan. Alan
hanya memandang aneh ke arah Chia.
“Chiaa.... kamu ini ..... bener-bener murid kurang
ajaaaarrrrr!!!!!!” seru Bu Demen sambil meloncat ke arah Chia dan menjewer
kuping Chia.
“Ampunnnnnnn Bu Demen tolong jangan jewer saya,
saya terlalu baik untuk disakiti. Jewer saja kuping dia.” mohon Chia sambil
menunjuk ke arah Alan yang kebingungan. “ Dia lebih nakal dibanding saya, Bu
Dhe. Tolong lepaskan jeweran Ibu.”
“Bu Dhe...Bu Dhe... saya ga sudi punya ponakan
kayak kamu. Panggil saya Bu Demen. Lagian kamu itu ada orang sakit, yang
dipikirin malah komik naruto.”
“Aduhh.... duuuhhh.... Buuuu.... maaf Bu... tolong lepas jewerannya... sakit
Buu Demen.” mohon Chia. Di sisi lain, Alan tersenyum puas melihat kejadian
tersebut.
“Sudah Bu Dhe, tenang, nanti darah tinggi Bu Dhe
kumat cuma gara-gara dia.” kata Alan
menenangkan Bu Demen sehingga Bu Demen mau melepaskan jewerannya.
Dengan cepat Chia langsung mengelus-elus kupingnya
yang merah dan nyut-nyutan.
“Jangan manggil Bu Dhe, nanti Bu Demen ngamuk
lagi” kata Chia sambil melotot ke arah Alan.
“Alan emang
ponakan saya, jadi dia bebas manggil saya Bu Dhe.” jelas Bu Demen sehingga
membuat Chia syok dan tak bisa berkata apa-apa. Alan tersenyum penuh kelicikan.
“Bagaimana keadaan Bu Dhe sekarang?” tanya Alan
“Bu Dhe udah mendingan kok. Untung ada kamu jadi
darah tinggi saya gak kumat lagi.” kata Bu Demen sambil melirik ke arah Chia
yang perlahan demi perlahan berjalan mundur.
“Aahh.... syukurlah. Tadi Pak Dhe telepon, dia
kuatir sama keadaaan Bu Dhe.”
“Pak Dhe mu itu, orangnya emang gampang kuatiran.
Ya udah, ntar biar saya telpon dia biar gak kuatir lagi. Oh ya, sepeda kamu
gimana? Masih bisa diperbaiki?” tanya Bu Demen ke Alan.
“Udah gak ada harapan lagi, Bu Dhe.” jawab Alan
sambil menggelengkan kepala. Sesekali dia menatap penuh amarah ke Chia yang
semakin lama semakin menjauh.
“Kalo Bu Dhe sampe tahu siapa yang nyuri tuh
sepeda. Bakal Bu Dhe laporin ke kantor polisi, kalau perlu Bu Dhe cincang
sekalian tuh orang. Udah nyuri, ngerusakin lagi. Kurang ajar memang tuh orang.”
Chia ketakutan setengah mati, sedangkan Alan
melirik penuh dendam ke arah Chia. Ada sedikit kepuasan melihat wajah ketakutan
Chia. Dengan penuh kehati-hatian tingkat tinggi, Chia berjalan menjauhi Bu
Demen dan Alan.
“Chia kamu mau kemana?” tanya Bu Demen.
“Ehh... inii... Bu.... aduuh... saya lupa kalau
habis ini ada pelajaran Bahasa Inggris, so I must go fast fast, nanti keburu di-angry-i same Miss Dewi.” jawab Chia mencari alasan. Bu demen menganguk. Chia
berjalan keluar dengan perasaan lega.
“Oh ya, Chia.” panggil Bu Demen, seketika Chia
berhenti berjalan, dia merasa was-was. “Soal 17 komik naruto mu itu... akan
saya simpan sampai kamu lulus dari SMP ini.”
“Haahhhhh....” ucap Chia syok. Kedua tangannya
berada di pipinya, mulutnya terbuka lebar, hidungnya kembang kempis tak karuan,
sampai-sampai matanya meloncat keluar negeri, halaahhh lebaayyy.
“Kan habis ini kamu ujian nasional, jadi kamu
musti belajar yang rajin biar lulus. Kalau gak lulus yah apa boleh buat, komik
naruto-nya gak bakal saya balikin. Atau mungkin bakal saya kasih ke murid lain.
Hmmm.... mungkin, bakal saya kasih ke Alan.” jelas Bu Demen sembari tersenyum
puas diikuti oleh Alan. Chia mematung di depan pintu, masih dengan ekspresi ala
Patung Asmat. Hatinya hancur lebur berantakan. “ Oh ya, katanya kamu ada
pelajaran Bahasa Inggris.” ucap Bu Demen mengingatkan Chia. Chia langsung sadar
dari lamunannya dan segera beranjak pergi dari tatapan senang kedua buah
makhluk yang diliputi dendam tersebut.
*****

Comments
Post a Comment