Bab ini panjang beud dah... mending turu ae awkwoakwoakkk
BAB 12. OPERASI PENYELAMATAN NARUTO part 1. Rencana besar
Jam pelajaran sekolah telah usai. Sebagian murid
SMP Two Hero sudah pulang ke rumah masing-masing. Namun, di dalam kelas IX-C
masih tersisa tiga orang murid yang sepertinya ditakdirkan untuk bersama dalam
duka dan luka, siapa lagi kalau bukan si pembuat onar, Chia, bersama
sahabatnya, Luna, dan seorang cameo
ganteng, Ronald.
Ronald duduk di salah satu bangku di depan sambil
sibuk menyalin tugas dari buku Luna. Sedangkan, Luna bersandar pada meja guru
dan mengamati apa yang sedang dilakukan oleh Chia, yang sedari tadi menutup
matanya sembari menggambar sesuatu di papan tulis.
“Kamu
ngapain Chi?” tanya Luna penasaran.
“Gambar peta.” jawab Chia, masih menutup mata.
“Emang musti tutup mata segala ya?”
“Lun, namanya juga peta buta, otomatis kalau
gambar kudu sambil merem. Masa kamu gak tau? Kan ada di pelajaran geografi.“
“Ngawur! Peta buta tuh bukannya
digambar sambil merem tapi sebuah peta gambar dunia, negara atau wilayah tertentu yang gak disertai sama tulisan keterangan
nama-nama daerahnya.” jelas Luna.
“Yes!! Akhirnya selesai juga peta buta sekolah
ini.” kata Chia tak menghiraukan penjelasan Luna sehingga membuat Luna kesal.
“Gimana petaku Lun, bagus kan?” tanya Chia yang sudah kembali membuka matanya.
“Bagus apanya, Ga mirip sama peta sekolah, malah
kayak kumpulan cacing lagi unjuk rasa.” ejek Luna.
“Ahh masa? Mirip
ah.. iya kan, Ron?” tanya Chia ke Ronald. Ronald hanya melirik sekilas dan
menggelengkan kepalanya.
“Tuh kan, Ronald aja tau.”
“Yah.. padahal aku udah susah-susah bikinnya. Tapi
gak papa, walaupun menurut kalian kurang bagus, tapi dengan adanya peta ini,
kita pasti bisa melakukan sebuah misi yang penting dan bersejarah bagi umat
manusia.”
“Misi?” tanya Luna.
“Iya, kita akan melakukan sebuah misi,” Chia
mengambil napas panjang dan berbisik ke arah Luna dan Ronald, “...misi untuk
menyelamatkan Naruto.”
Sunyi sejenak, bahkan suara gesekan bolpoint dari
tangan Ronald sudah tak terdengar lagi. Seketika, ketiga orang tersebut
mematung. Ronald menghentikan catatannya, Luna menatap kosong ke arah Chia,
sedangkan Chia menunggu tanggapan dari Luna dan Ronald dengan antusias.
“Oh ya!! Aku baru inget, aku musti ngembaliin buku
Bahasa Indonesia ke perpus!” seru Luna memecahkan keheningan. Ronald pun seakan
tersadar dan meneruskan catatannya kembali. Luna sudah bersiap beranjak keluar
kelas, tapi tiba-tiba Chia memanggilnya.
“Lun.”
“Ya?”
“Katanya mau balikin buku, tapi kok gak bawa
bukunya.”
“Oh ya, aku lupa.” kata Luna sambil berjalan
kembali menuju ke tempat tasnya. Dengan cepat, Luna mengambil salah satu buku
dari dalam tasnya dan beranjak keluar kelas lagi.
“Lun..” panggil Chia lagi. Luna berhenti. “katanya
mau balikin buku bahasa Indonesia, tapi kok yang dibawa malah buku cetak Mat?”
Luna melihat buku ditangannya dan dia tersentak
kaget, “Aduh salah ambil buku nih.”
Luna berjalan menuju tasnya lagi, lalu mencari-cari
buku Bahasa Indonesia dari dalam tasnya. Beberapa menit berlalu, tak
ditemukannya buku Bahasa Indonesia itu, keringat dingin mulai bercucuran dari
dahi Luna.
“Kenapa Lun?” tanya Chia tiba-tiba dari balik
punggung Luna, membuat bulu kuduk Luna berdiri.
“Nggak papa Chi.” jawab Luna panik.
“Gak ketemu ya buku bahasa Indonesia-nya?”
“Hmmm....” Luna hanya bergumam sambil terus
mencari-cari bukunya.
“ Jelas aja gak bakal ketemu, kan tadi pagi udah
kamu balikin ke perpus.”
“Ohhh iyaaa...yaa... aku lupaa....” kata Luna
tersenyum getir. Chia menyipitkan matanya.
Di sisi lain, Ronald terlihat tak mempedulikan
tingkah kedua makhluk ini, dia hanya berharap secepatnya menyelesaikan tugasnya
dan segera pergi menjauh dari kedua begundal kelas IX-C ini.
“Udah gak usah cari alesan buat melarikan diri.
Aku tahu apa yang ada dipikiranmu. Sekarang yang harus kita lakukan adalah
menyelamatkan Naruto.”
“Chi, relain aja Naruto-mu. Kan kalau kamu lulus,
tuh komik juga bakal dibalikin lagi sama Bu Demen.” saran Luna.
“Sakura, bagaimana mungkin kamu bisa berbicara
seperti itu, disaat temanmu, Naruto sedang ditawan oleh kelompok Akatsuki. Apa
kamu tidak peduli akan keadaannya? Bagaimana kalau dia menderita. Sakura kamu
benar-benar keterlaluan.”
“Hah... Sakura?” gumam Luna bingung.
“Iya, jadi mulai sekarang kita akan melakukan
penyamaran. Kamu jadi Sakura, aku jadi Kakashi-sensei dan Ronald...” kata Chia
sambil menunjuk ke arah Ronald, “ kamu jadi Sasuke.”
“Sorry, aku gak ikut-ikutan.” kata Ronald yang
menyadari bahwa dia akan terlibat komplotan geng
geje ini.
“What!!” pekik Chia. Dia memincingkan matanya ke
Ronald.
“Aku gak mau terlibat dalam aksi apapun yang
sedang kalian rencanakan.” kata Ronald masih meneruskan mencatat.
“Ckckckckc...... aku sudah tahu saat ini akan
tiba, ketika kamu, Sasuke Uchiha, akan menghianati kami.” kata Chia sambil
mondar-mandir di depan tempat duduk Ronald. “Padahal semua rencana sudah
matang, tugasmu hanya menemani Sakura menjaga di luar Lab. biologi, sementara
aku masuk ke dalam untuk mengambil Naruto. Rencana yang simple dan mudah.”
jelas Chia sambil mencorat-coret gambar petanya di papan tulis.
Menemani
Sakura?Jangan-jangan, itu artinya aku bisa berduaan sama Ronald di luar
Laboratorium Biologi. Asyikkk berduaan sama Ronald. Kencan sama Ronald. Ronald.
Ronald. Ronald.... oh....Sasuke........ batin Luna sambil senyum-senyum sendiri.
“Bukannya itu namanya nyuri. Diam-diam masuk ke
Lab trus ngambil Naruto.”
“Nyuriii? Heeelloooooooo..... kita tuh bukan mau
nyuri, tapi mengambil kembali barang milikku.” Chia sewot. “Gini aja, tuh komik
naruto punya siapa?” tanya Chia.
“Punya Chia.” jawab Luna
“Belinya pake uang siapa?”
“Uang Chia.”
“Trus yang seenaknya ngambil paksa, siapa?
“Chia... ehhh Bu Demen maksudku.”
“Tuh kan!!! Itu artinya Bu Demen yang udah nyuri
komik Narutoku.”
“Yah terserah kalau kalian tetep mau ngelakuin
rencana itu. Silakan aja, asal jangan bawa-bawa aku.” kata Ronald tak peduli.
“Sasuke oh Sasuke.... kamu benar-benar egois. Kamu
tidak merasakan kepedihan Naruto yang sendirian mendekam di dalam lemari lembab
bersama kegelapan pekat. Sebagai Kakashi-sensei, aku tak bisa membiarkan anak
didikku menderita begitu saja, dan kamu, Sasuke, sebagai sahabatnya malah tidak
peduli sedikit pun.”
“Bisa gak, berhenti memanggilku Sasuke...?”
“Sasuke.....” kata Chia dan Luna bersamaan, mereka
menatap syok ke arah Ronald. Chia lalu menarik tangan Luna dan menyeretnya
menjauh dari Ronald.
“Sakura ini benar-benar tidak bisa dibiarkan.”
bisik Chia
“Benar, Guru Kakashi, sepertinya Sasuke sudah
kehilangan jati dirinya.”
“Dia sudah lupa siapa dirinya, dia bahkan tidak
menganggapku sebagai guru lagi.” kata Chia dengan ekspresi sedih.
“Sabar Guru Kakashi....” bisik Luna sambil menepuk
pundak Chia.
“Mungkin sebentar lagi dia akan meninggalkan team
7 malah bisa-bisa dia akan berkhianat menuju akatsuki. Ini sudah keterlaluan.
Sudah susah-susah aku mendidiknya, mengajarinya jurus chidori, tapi sekarang
apa yang ku dapat, dia tidak mau ikut serta dalam misi ini di saat Naruto
sedang dalam bahaya besar.”
“Tenang Guru Kakashi, kita pasti bisa membawanya
ke jalur yang benar lagi. Percayalah Guru.”
“Sakuraa...”
Sementara Chia dan Luna saling berbisik, Ronald
semakin mempercepat tulisannya. Dia merasakan firasat buruk dari aura yang
terpancar di pojok ruangan tepat dimana Chia dan Luna berdiri. Sesekali kedua
cewek tersebut melirik ke arah meja Ronald.
“Eheemm....” Chia berdehem sembari menghampiri
Ronald. “Jadi, Sasuke apakah kamu benar-benar tidak mau ikut dalam misi ini?”
“Ya.” jawab Ronald tak menghentikan tulisannya.
“Sebagai Kakashi-Sensei, aku bisa menghargai
keputusanmu. Sayangnya, kamu sudah mendengar terlalu banyak. Dan mungkin kamu
akan membocorkan rencana ini pada kelompok akatsuki. Jadi, kami tidak bisa
membiarkanmu pergi begitu saja.” Chia menghela napas panjang. “Terpaksa aku
harus membunuhmu.” lanjut Chia dingin.
Ronald berhenti menulis dan melihat ke arah Chia.
Dia bertanya-tanya dalam hati, apa maksud dari perkataan Chia barusan. Apakah
Chia benar-benar akan membunuhnya hanya demi komik Naruto semata. Apakah hati
nurani Chia sudah dibutakan oleh ambisinya untuk merebut kembali narutonya.
“Guru Kakashi, bukankah rencana kita tadi tidak
sejauh itu?” tanya Luna terkejut.
“Maafkan aku Sakura, tapi dia sudah melewati
batas, aku harus membunuhnya. Demi menghilangkan saksi mata.”
“Tapi Guru....”
Chia saling berhadapan dengan Ronald. Tiba-tiba
suasana kelas tersebut berubah menjadi dingin dan mencekam. Langit di luar
kelas seketika berubah gelap, gemuruh pun mulai terdengar. Aura membunuh
menyelimuti ruangan tersebut.
“Sasuke rasakan ini!” seru Chia di depan Ronald
sambil mengangkat tangan kanannya dengan cepat. Luna mulai panik dan Ronald
mulai was-was. “MANGEKYOU SHARINGAN!!!!” teriak Chia penuh ekspresi sambil
menutup mata kanannya, sedangkan mata kirinya masih menyorot tajam Ronald.
Keheningan kembali menyelimuti kelas tersebut.
Mereka terlihat sibuk dengan pikiran masing-masing hingga tak sanggup
mengucapkan sepatah kata pun. Ronald dan
Luna seakan mencoba mencerna apa yang sedang dilakukan Chia.
“Kamu ngapain?” tanya Luna yang sudah tak mampu
lagi mencerna tingkah sahabatnya itu.
“Ngeluarin jurus terkuatnya Kakashi, mangekyou
sharingan. Masa kamu gak tau? Di komiknya kan gitu ceritanya.” jawab Chia masih
tak melepaskan pandangannya dari Ronald.
“Hmm....jadi, kamu bakal bunuh aku dengan cara
itu?” tanya Ronald sembari menunjuk ke arah Chia.
“YA!!!” seru Chia menganguk pasti.
“Bodoh.” gumam
Ronald sambil tersenyum mengejek.
“Siapa yang
bodoh?” tanya Chia sewot, tapi Ronald tak mengacuhkannya. Dia kembali sibuk
menyalin.
“Guru
Kakashi, percuma aja pakai jurus sharingan, dia kan klan uchiha, pasti dia bisa
menangkis jurus itu.” jelas Luna sok tau.
Ronald yang mendengar penuturan Luna, langsung
berhenti menulis dan tanpa diduga, tiba-tiba Ronald tertawa.
“Kenapa dia ketawa?” tanya Chia ke Luna, “Ah
mungkin saja jurus ku telah mengenai syaraf tertawanya. Hahahaha aku memang
hebat.” kata Chia jumawa.
Luna melihat Ronald yang sesekali menunjuk ke arah
Chia dan Luna secara bergantian, dan tertawa terbahak-bahak.
“Sepertinya
dia ngetawain kita.” gumam Luna. “Udah ku bilang, kan, mending pake rencana
yang itu aja. Sekarang malah kita diketawain ma Ronald”.
“Ya, maaf. Kirain jurusku bakal berhasil. Baiklah,
kita pake rencana itu saja. Mumpung dia lengah.” bisik Chia.
Di saat Ronald asyik tertawa sendiri, Chia
langsung mengambil buku tulis Luna. Seketika tawa di wajah Ronald menghilang.
“Hei balikin bukunya!” seru Ronald
“Enak aja! Buku ini bakal aku balikin kalau kamu
ikut dalam operasi penyelamatan Naruto.”
“Ogah. Lagian itu kan bukunya Luna. Balikin.”
“Emang. Tapi sebagai warga negara yang baik, maka
hak perwakilan bukunya Luna ada di tanganku... hahahaha........” kata Chia
sambil memamerkan buku tulis Matematika tersebut.
Ronald melihat ke arah Luna, berharap Luna akan membantunya
mengambil kembali bukunya.
“Sorry, Sasuke-kun...” kata Luna lirih.
Ronald terlihat kecewa.
“Udah ikut bantuin kita aja. Kan tugasmu cuma jaga
di luar doang bareng Luna.”
“Dia kan bisa jaga sendirian.”
Kata-kata Ronald tersebut langsung menohok hati
Luna. Seketika jiwa Luna seakan keluar dari tubuhnya. Tatapan matanya kosong,
mulutnya menganga dan hatinya menjerit sedih, Ronald gak mau nemenin
aku.....remuk sudah hatiku..... huuaaaa, batin Luna.
“Apa kamu tega, ngeliat dia jaga sendirian?” tanya
Chia.
Ronald memandang Luna yang terlihat depresi dan
muram.
“Lagian, kalau kamu gak ikut kita, kamu gak bisa
nyalin tugasnya Luna. Apa kamu pingin ngelihat Pak Ali marah-marah? Kamu tahu
sendiri kan, guru matematika kita tuh orangnya gimana? Dia paling benci sama
anak yang suka bolos. Kebetulan banget kamu tadi bolos pelajarannya, gak
ngerjain tugasnya pula. Ckckckckckck..... “ lanjut Chia sambil menggelengkan
kepalanya. “Untungnya Luna tadi bilang kalau kamu ada di UKS. Berhubung Luna
itu murid kesayangan Pak Ali, otomatis Pak Ali percaya. Tapi, kalau sampai Pak
Ali tahu kamu gak ada di UKS, bisa-bisa orangtuamu dipanggil ke sekolah atau
yang lebih parah kamu bakalan di-S-K-O-R-S...... SKORS!”
Ronald
berpikir sejenak. Dia menimbang-nimbang perkataan Chia. Sementara Chia terus
membisikkan kata SKORS di telinga Ronald.
“Skors...skors....skors....skor....skors...skor...skor.....skors...skors...”
“Berisik!!” kata Ronald sambil mendorong kepala
Chia menjauh dari telinganya.
“Ahh... padahal kan itu gemanya biar lebih
dramatis.” gerutu Chia. “Jadi gimana? Kamu ikut dalam operasi penyelamatan
Naruto?” Chia dan Luna menatap Ronald penuh harap.
”Yaah apa boleh buat” jawab Ronald dengan malas.
“Deal?” tanya Chia sambil mengulurkan tangan.
Ronald menghela napas panjang dan dengan enggan
menjabat tangan Chia. “Deal.”
Chia dan Luna tersenyum lebar.
“Nih, buruan disalin trus kumpulin ke mejanya Pak
Ali, sebelum kantornya ditutup.” perintah Chia sambil mengembalikan buku tulis
matematika Luna ke Ronald. Ronald hanya mendengus kesal dan kembali mencatat.
Sedangkan Luna memandang Ronald sambil senyum-senyum sendiri. Yes, akhirnya nanti bisa berduaan sama
Ronald. Hatiku yang hancur, kini sudah kembali seperti semula. Horee!!
Sasukeee.....
*****

Comments
Post a Comment