cieee.... kiwkiw.... cieeee.... sigma rizz... skibidiicikiwir.... kurukuyuk kiwkiwkiwkkkknt pnjng bet babnya coyyy
BAB 13 : OPERASI PENYELAMATAN NARUTO part 2. Rencana kecil
"Hmm... ngomong-ngomong, emang kamu tau
tepatnya dimana keberadaan Naruto?” tanya Luna penasaran.
“Menurut rumor yang beredar sih, katanya ada di
salah satu lemari di dalam lab. Biologi.” jawab Chia.
“Tapi di Lab. Biologi kan ada banyak lemari, Chi.”
“Ssstttt kita sedang dalam penyamaran. Jangan
panggil nama asli, nanti bisa-bisa kedok kita terbongkar. Ingat panggil aku
Kakashi-Sensei.”
“Haik... Kakashi-sensei.”
“Bagus, Sakura. Soal pertanyaanmu tadi, melihat
tipikal orang seperti Bu Demen, ketua akatsuki yang kejam, keji dan tidak
berperasaan itu, tentu dia akan meletakkan tawanannya di tempat yang tak jauh
dari wilayah kekuasaannya.”
“Dimana itu, Kakashi-Sensei?”
“Di dalam lemari besar, tepat di sebelah meja
guru.”
“Apa?! Di dalam lemari besar yang bahkan tak
seorang pun pernah melihat Bu Demen membukanya?”
Chia menganguk pasti.
“Tapi, bukankah lemari itu terkunci rapat?”
“Benar sekali.”
“Kakashi-Sensei, sepertinya misi ini terancam
sia-sia. Lebih baik kita mundur saja.”
“Tidak. Kita tidak boleh menyerah sebelum
mencobanya.”
“Tapi kalau lemarinya terkunci rapat, bagaimana
kamu bisa membukanya?”
“Tenang, Sakura. Aku sudah begadang semalaman demi
mempelajari teknik khusus untuk membuka lemari, hanya dengan menggunakan ini,
lemari apapun bisa terbuka. Dapatnya klip ini hanya dengan 9.999 rupiah saja.”
kata Chia berpromosi sambil menunjukkan dua buah klip yang sudah
dibengkok-bengkokkan dan berbentuk tak beraturan.
“Wow kereen. Emang beneran bisa buat buka lemari?”
tanya Luna tak yakin.
“Bisa dong. Dengan klip ini aku berhasil membobol
lemari Kak Nathan, tempat dia menyimpan seluruh hasil ulangannya, yang hampir
semua nilainya di bawah rata-rata. Alhasil dia kena semprot ibuku. Hahaha...
rasakan pembalasanku, kakak kribo!!” kata Chia sambil menyeringai menakutkan.
“Oiii..!!” seru Ronald memotong pembicaraan Chia
dan Luna. “Mau sampai kapan kalian disitu terus?”
“Ssstttt... kita sedang sembunyi, jangan sampai
ada orang yang tau keberadaaan kita.” bisik Chia. Luna menganguk setuju.
“Kalau emang niatnya mau sembunyi, nggak di atas
genteng juga kali.” kata Ronald sambil memandang Chia dan Luna yang asyik
nangkring di atas genteng . “Lagian.....” lanjut Ronald, wajahnya tiba-tiba
memerah dan secepat mungkin dia mengalihkan perhatiannya dari Chia dan Luna “...celana
dalemmu keliatan.”
“Kyyyaaaaaaaa!!!!” teriak Luna sambil menutup
roknya. Tidaaakkk.... Ronald ngeliat
celana dalemku, padahal kita kan belum nikah. Apa yang harus aku lakukan?
batin Luna malu, wajahnya merah padam.
“Aku kan gak pake celana dalem.” kata Chia datar.
“Whattt??” pekik Luna.
“Maksudku, aku pakai double-an celana olahraga.”
“Ohh...”
“Baiklah, sepertinya kita tidak perlu sembunyi
lagi. Saatnya kita landing, Sakura.”
“Baik, Kakashi-Sensei.” kata Luna masih menahan
malu.
Chia dengan gesit turun dari genteng melalui pohon
besar yang ada di sampingnya. Sedangkan Luna mengikuti di belakangnya. Setelah
mereka berada di bawah, dengan segera mereka berlari mengejar Ronald yang sudah
berjalan mendahului mereka menuju lab. Biologi.
Sesampainya di depan Laboratorium Biologi, waktu
sudah menunjukkan pukul 16.30 WIB. Suasana di sekitar lab. Biologi sepi, tak
terlihat seorang pun disana kecuali Chia, Luna, dan Ronald.
Lab. Biologi sendiri berada diantara gudang dan
ruang seni rupa, letaknya yang nyaris di pojok sekolah membuat daerah ini
jarang dilalui siswa.
“Okay, sekarang saatnya kita beraksi. Sasuke kamu
tunggu disini. Sakura, kamu bantu saya mencari jendela yang tak terkunci.” kata
Chia memberi aba-aba. Luna menganguk semangat, sedangkan Ronald hanya bersandar
malas di depan pintu laboratorium biologi.
Luna dan Chia bergegas mengecek beberapa jendela
laboratorium yang berjarak 1,5 meter dari lantai. Mereka mencoba mencari celah
untuk masuk ke dalam lab.
“Kakashi-Sensei, seperti dugaanmu, jendela ini
tidak terkunci dengan sempurna!” seru Luna senang sambil membuka salah satu
jendela di pojok ruangan.
“Bagus Sakura!!” kata Chia menghampiri Luna.
“Kalau begitu aku akan menyelamatkan Naruto.
Kalian berdua tunggu disini. Beri kode jika kalian melihat orang yang datang.”
“Kode seperti apa, Kakashi-Sensei?”
“Bagaimana kalo kodenya seperti ini?” tanya Chia
sambil menari tarian Hawai, menggoyangkan pinggul dan tangannya ke kanan dan ke
kiri.
“Ide cemerlang! Tapi bagaimana kalau kamu tak
melihatnya? Kode itu malah akan sia-sia.”
“Benar juga. Kita butuh sebuah lagu untuk
melengkapi tarian ini.” kata Chia berpikir keras. “Bagaimana kalo lagunya Tasya
yang libur tlah tiba? Cuma kata-katanya diganti akatsuki tlah tiba.”
“Jenius!!” seru Luna takjub. “Akatsuki tlah tiba,
akatsuki tlah tiba... aduh... aduhhh...” Luna menyanyi sembari menari tarian
hawaii.
“Ya, seperti itu.” kata Chia. “ Akatsuki tlah
tiba...akatsuki tlah tiba... aduh... aduh.....” Chia ikut menyanyi dan menari
bersama Luna. Sementara itu, di sisi lain, Ronald melongo melihat tingkah kedua
makhluk itu. Sepertinya aku telah
terlibat dalam sekumpulan orang-orang aneh, batin Ronald menyesali
keikutsertaannya.
“Semua rencana telah matang. Saatnya menyelamatkan
Naruto.” kata Chia setelah mempraktekkan kode buatannya.
“Semoga berhasil, Kakashi-Sensei!!”
“Terima kasih, Sakura!”
Chia meloncat masuk ke dalam Lab. Biologi melalui
jendela yang terbuka. Dengan penuh gaya dia mendarat di atas meja praktikum dan
berlagak keren seperti ninja. Tapi, tiba-tiba kekerenannya musnah ketika
dilihatnya Ronald sudah berada di dalam laboratorium.
“Bagaimana bisa?” tanya Chia tak percaya.
“Pintunya gak dikunci.” jawab Ronald datar.
“Sial, kenapa tak terpikir olehku.” gumam Chia
sembari memukul pelan dahinya.
Sasuke
memang pintar, gak salah kalau aku menyukainya, batin
Luna setelah dia menyusul Ronald ke dalam Lab. Biologi.
Sia-sia
aku tadi berpose ala ninja, batin
Chia.
“Kamu mau kemana?” tanya Luna saat dilihatnya Chia
keluar melompati jendela lagi.
Beberapa detik kemudian, Chia berlari masuk ke
dalam lab.biologi melalui pintu.
“Ya masuk ke dalam lab-lah, ngapain lagi coba?”
jawab Chia kesal.
“Bukannya kamu tadi sudah ada di dalam lab?” tanya
Ronald
Sunyi sejenak. Chia terlihat berpikir keras.
“Benar juga.” jawab Chia.
“Bodoh.” gumam Ronald.
“Kalau gitu kembali ke rencana awal. Kalian berdua
tunggu di luar, aku akan menyelamatkan naruto dengan seluruh kemampuanku. Ingat
kalau ada yang datang, beritahu lewat kode. Dan jangan lupa tutup pintunya.”
“Baik Kakashi-Sensei.”
Luna dan Ronald keluar dari lab. biologi, tak lupa
mereka menutup pintu sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Chia. Ronald
bersandar malas di dinding lab. Sesekali dia mengamati daerah sekitar yang
sepi.
Yess...
akhirnya bisa berduaan sama Sasuke di
luar lab. Menikmati indahnya sore hari. Ahh...romantisnya. Ini adalah
kesempatan emas untuk menaklukan hatinya yang beku. Semangat Sakura, kamu pasti
bisa! batin Luna membelakangi
Ronald.
“Kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Lagi
kesambet?” tanya Ronald.
“Eng.... enggak....” jawab Luna kaget saat melihat
wajah Ronald tepat berada disampingnya “Aku cuma seneng Sasuke mau ikut bantuin
kita ngambil Naruto.” kata Luna mencoba mencari alasan sembari menetralkan
detak jantungnya.
“Bukannya kalian yang memaksaku?”
“Ah... sorry...” kata Luna merasa bersalah.
“It’s okay. Btw, thanks ya buat tugas Mat-nya
tadi.”
“Sama-sama. Itulah gunanya teman, selalu ada untuk
membantu.” kata Luna sambil tersenyum manis. Sejenak Ronald tertegun.
“Hmm... tapi lain kali tolong jangan bohong lagi
demi aku.”
“Hah?” tanya Luna bingung.
“Soal Pak Ali tadi, pas aku bolos pelajarannya.”
“Oh... soal
itu...” kata Luna mencoba mengingat. “Sebenernya, waktu itu aku pikir Sasuke emang
di UKS. Abis sebelumnya, Sasuke kelihatan gak bersemangat gitu. Eh, tapi pas
Kakashi-Sensei nge-check ke UKS, ternyata Sasuke-nya gak ada disana. Untung aja
Pak Ali gak ikut nge-check. Hehehe.... aku emang sok tau ya. Gomen ne
Sasuke-kun.”
“Lain kali, jangan ngelakuin itu lagi ya. Aku cuma
gak mau kamu kena masalah gara-gara aku.” ujar Ronald bersungguh-sungguh.
Sekilas Luna melihat raut muka Ronald berubah
menjadi sedih, seakan dia teringat akan suatu kenangan pahit.
“Ya, aku gak akan ngelakuin itu lagi. Jadi, Sasuke
gak perlu kuatir.” kata Luna sembari tersenyum, wajahnya memancarkan keceriaan
yang membuat Ronald sedikit terpana. “Oh ya, emang tadi kenapa Sasuke bolos
pelajaran matematika?” tanya Luna ingin tahu.
“Kalau itu sih... bukan urusanmu.”
“Yah..Sasukee...” gumam Luna sambil menyandarkan
tubuhnya di tembok biologi.
Tiba-tiba Ronald berdiri di depan Luna, menatap
lekat kedua mata Luna, membuat Luna salah tingkah.
“Tolong berhenti memanggilku Sasuke.” kata Ronald
sembari mengetuk pelan dahi Luna dengan ujung jari telunjuk dan jari tengahnya,
seperti yang biasa dilakukan Itachi pada Sasuke di komik Naruto.
“Sasukee....” gumam Luna tersipu malu.
GEDEBUUUUKKKKK!!!!!!!!!!!
“GYYAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!”
Terdengar
suara dentum keras yang diikuti dengan teriakan Chia dari dalam Lab. biologi.
Luna dan Ronald langsung menyerbu masuk ke dalam Lab. biologi. Disana mereka
mendapati pintu lemari di dekat meja guru sudah terbuka lebar, beberapa buku
berhamburan di bawah. Dari dalam tumpukan buku di lantai, tiba-tiba sebuah
tangan keluar, melambai-lambai.
“Sakura.... Sasuke... tolong aku.....” ujar yang
empunya tangan tersebut.
“Kakashi-Sensei!” seru Luna menghampiri tangan
tersebut dan menariknya sampai terlihat wajah Chia yang dipenuhi debu.
“Terimakasih, Sakura.” ujar Chia terengah-engah.
“Apa yang terjadi?” tanya Luna.
“Saat aku berhasil membuka lemari itu, tiba-tiba
semua rongsokan ini jatuh menimpaku.”
“Oh.... pantesan aja Bu Demen gak pernah buka
lemari ini.”
“Naruto!! Kita harus mencari Naruto!” seru Chia
Chia dan Luna pun mencari Naruto di antara
tumpukan buku di lantai. Sementara itu, Ronald berdiri di belakang mereka,
bersandar malas pada meja praktikum.
“Buku
Pintar Biologi untuk Kelas IX SMP. Buku paket Biologi bagi siswa Kelas VIII
SMP. Biologi Asyik Sekali. Biologi favorit-ku. Super Biologi. Habis Fisika
terbitlah Biologi.” kata Chia membaca tiap judul buku yang ada di tangannya
lalu melempar buku-buku tersebut jauh-jauh. Luna pun mengikuti apa yang
dilakukan Chia.
“Oiii...” seru Ronald. “Bisa gak, berhenti
ngelempar buku biologi?”
“Emang kenapa?” tanya Chia masih melempar buku
biologi yang ada di dekatnya.
“ Kena aku tau!” kata Ronald kesal.
Chia dan Luna menoleh ke arah Ronald dan melihat
beberapa buku yang tadi mereka lempar berada di sekitar Ronald.
“Maaf...” kata Luna merasa bersalah.
“Salah
sendiri gak mau minggir.” tukas Chia
“Lagian kalian tuh malah bikin berantakan lab,
tahu.”
Mereka melihat ke sekeliling lab, dan benar saja
apa yang dikatakan Ronald, terlihat banyak buku berserakan tak karuan di dalam
lab.
“Tapi kita musti menyelamatkan Naruto, gak ada
waktu buat mikirin lab.”
“Kalau Bu Demen sampai tahu lab.nya berantakan,
bisa bahaya lho.”
Chia langsung membayangkan wajah Bu Demen yang
berubah menjadi hulk, hal ini membuat Chia merinding sendiri.
“Bener kata
Ronald. Dan kayaknya Naruto gak ada disini deh, semua buku disini kebanyakan
cuma buku Biologi sama kumpulan soal-soal biologi aja.” kata Luna.
“Apaaa??!!!! Jadi aku tertipu rumor sialan ini?”
tanya Chia. Luna hanya menganguk. “TIDAAAAAAAAAAAAAKKKK!!!!!!!” teriak Chia
penuh emosi seraya mengadah ke atas.
“Lebay.” gumam Ronald dan Luna.
*****

Comments
Post a Comment