Skip to main content

CHIAAAA!! (bab 15)

 Pemanasan mah tinggal lihat gebetan jalan bareng sama cwk lain huehehe geramnya aku




BAB 15. PEMANASAN


Beberapa hari kemudian, tak ada tanda-tanda bahwa Bu Demen mengetahui tindakan tak terpuji yang telah dilakukan Chia dan kawan-kawan. Semua berjalan normal layaknya tak terjadi apa-apa. Ronald terlihat cool seperti biasa. Luna tetap rajin dan masih suka curi-curi pandang ke Ronald. Sedangkan Chia, masih tetap kukuh merancang rencana penyelamatan Naruto season kedua, walaupun tak seorang pun yang mau berpartisipasi dalam rencana absurdnya tersebut.

Pagi itu, pelajaran pertama di kelas IX-C adalah olahraga. Semua siswa-siswi sudah mengenakan pakaian olahraga dan bersiap-siap melakukan pemanasan.

“Tony, kamu yang pimpin pemanasan, ya... Bapak mau ambil absen dulu.” ujar Pak Ratno selaku guru olahraga.

“Baik, Pak.” ujar Tony penuh semangat.

Pak Ratno pun pergi menuju kantor guna mengambil buku absen murid kelas IX-C. Di dalam kantor, Pak Ratno hanya melihat Bu Demen yang sedang membaca majalah flora dan fauna.

“Pagi, Bu... gak ngajar?” tanya Pak Ratno.

“Jam pertama sama kedua kosong. Jadi saya disini aja.”

“Ohh.. gitu..”

“Pak Ratno lagi ngajar kelas IX-C ya?” tanya Bu Demen setelah melihat buku absen di tangan Pak Ratno.

“Iya, Bu..”

Bu Demen menghela napas panjang.

“Pasti berat pagi-pagi harus mengajar anak kelas IX-C. Di luar kelas pula.”

“Nggak juga, Bu...”

“Anak kelas IX-C itu memang susah diprediksi. Apalagi si Chia, bandelnya itu minta ampun.”

“Menurut saya, mereka hanya penuh semangat saja. Jiwa muda mereka memang selalu menggebu-gebu.” kata Pak Ratno penuh percaya diri.

 “Kalau begitu, semangat ya, Pak.” ujar Bu Demen tersenyum mengejek.

“Okey. Toh mereka sebenarnya gak sebandel itu.” gumam Pak Ratno sambil pergi meninggalkan Bu Demen.

  Di lapangan, Pak Ratno kaget bukan main setelah melihat murid kelas IX-C sedang asyik tiduran di atas matras sambil mengenakan kacamata hitam, bahkan beberapa murid wanita malah sibuk mengoleskan sun block di tangan mereka.

“Apa-apaan ini?” tanya Pak Ratno

“Pemanasan, Pak. Kan katanya tadi saya disuruh mimpin pemanasan. Jadi, saya suruh mereka berjemur biar langsung panas.” jawab Tony sembari mengoleskan sun block.

“Emang kamu pikir ini lagi di pantai?” geram Pak Ratno. “Lagian kenapa kalian kompakan pake kacamata hitam semua?”

“Oh ini....” kata Tony sembari memegang kacamata hitamnya, “kita dapet dari Shima, Pak. Orang tuanya kan punya perusahaan kacamata.”

“Iya, Pak. Dan semua kacamata ini dibayar pake uang kas kelas lho.” kata Shima, cowok berkulit gelap dan berambut jabrik ini dengan perasaan senang. “Oh iya, kita juga sudah nyiapin satu buat Bapak.” lanjut Shima sambil memberikan sebuah kacamata hitam dengan frame lebar kepada Pak Ratno. 

“Ohh... terimakasih.” kata Pak Ratno malu-malu.

“Ayo Pak, kita juga musti berjemur, biar bisa dapetin kulit eksotis kayak Beyonce. Nah, ini matras buat Bapak.” kata Tony sambil menyiapkan matras untuk Pak Ratno.

“Oh.. makasih, maaf merepotkan.” kata Pak Ratno sembari memakai kacamatanya dan tiduran di atas matras.

Saat ini lapangan yang lebar tersebut dipenuhi dengan murid kelas IX-C plus Pak Ratno yang asyik berjemur menikmati indahnya mentari pagi sambil bercakap-cakap ringan. Beberapa menit kemudian, Pak Ratno tersadar akan tindakannya dan langsung bangkit berdiri.

“Huh, apa-apaan ini!!! Kok saya bisa sampai ikut-ikutan berjemur segala. Semuanya ayo bangun!! Ini waktunya olahraga bukan buat nyantai-nyatai!!” omel Pak Ratno.

“Yaaahhhhh........ padahal kan lagi in the hoi...Pak...” gerutu beberapa murid sambil bangkit berdiri.

“Sekarang, kembalikan matrasnya ke tempat semula!” perintah Pak Ratno, para murid pun dengan malas mengembalikan matras tersebut ke sisi lapangan. Setelah itu, mereka kembali berbaris di tengah lapangan.

“Kenapa kalian masih pakai kacamata? Emang kalian pikir ini lagi fashion show?” tanya Pak Ratno yang melihat semua muridnya masih mengenakan kacamata hitam.

“Bapak sendiri juga masih pake kacamatanya.” ujar Tony.

“Oh Iya, Bapak lupa.” kata Pak Ratno seraya melepas kacamata hitamnya dan mengantonginya di dalam kantong celananya. “Baiklah, semuanya, lepas kacamata hitamnya dan taruh di atas matras.” perintah Pak Ratno.

Semua murid mengikuti perintah Pak Ratno walaupun sepertinya Tony tak rela melepas kacamata tersebut.

“Gimana kalau paparazi sampai mengabadikan mataku yang belum dipoles ini.” gumam Tony setelah kembali ke barisan sembari menepuk lembut wajahnya.

“Emang ada paparazi yang mau moto kamu? Yang mereka cari tuh pasti seseorang yang lembut dengan kecantikan alami yang sudah tak perlu dipoles lagi.” sahut Chia dari samping Tony.

“Emang siapa?” tanya Tony.

“Siapa lagi kalau bukan aku.” jawab Chia penuh percaya diri.

Tony melihat Chia dari ujung kaki sampai ujung kepala.

“Gak mungkin, gak mungkin, gak mungkin.” kata Tony, diikuti beberapa cewek di belakangnya sambil menggelengkan kepala.

“Apa? Kalian juga berpikiran begitu?” kata Chia syok melihat teman-teman ceweknya kompak geleng-geleng kepala. “Bahkan Luna juga mikir gitu...” kata Chia, lebih syok melihat Luna yang menggeleng paling kencang, saking kencangnya sampai mirip baling-baling bambu.

“Hey, kalian, jangan ngerumpi aja.” seru Pak Ratno ke arah sekumpulan wanita  yang sedang geleng-geleng tersebut. “Tony, saya benar-benar kecewa dengan pemanasanmu tadi. Mulai sekarang kamu gak akan saya suruh mimpin pemanasan lagi.” ujar Pak Ratno kepada Tony.

“Maaf, Pak...”

“Okey, saya minta Chia buat mimpin pemanasan hari ini.”

“Siipp, Pak!!” kata Chia mengancungkan jempol.

Chia berjalan maju ke depan barisan, menghadap ke arah teman-temannya.

“Teman-teman, tolong ikutin gerakan saya ya....” kata Chia bersemangat. “Pertama-tama bungkukan badan kalian sampai tangan kalian hampir menyentuh lantai.” perintah Chia sambil membungkukkan badannya ke depan. Murid kelas IX-C yang lainnya pun mengikuti gerakan Chia.

“Ini baru yang namanya pemanasan.” gumam Pak ratno senang.

“Lalu tekuk kedua lutut kalian, dan sentuhlah lantai, jangan lupa berteriak DOTON  DOURYUHEKI!!”

“DOTOONNN DOURYUHEKIIII!!” teriak semua murid IX-C mengikuti instruksi Chia.

“Beton dorayaki?” gumam Pak Ratno salah dengar.

“Selanjutnya...” kata Chia bangkit berdiri lagi. Dia mengambil ancang-ancang, lalu tangan kanannya mengadah ke atas, seakan-akan sedang memegang bola. Sedangkan tangan kirinya ditekuk ke belakang “Baik, mari kita lakukan dengan cepat dan penuh dengan energi. Satu, dua, tiga!!” Chia lalu menggerakan tangan kirinya memutari tangan kanannya “ RASENGAN!!!” teriak Chia diikuti teman-temannya.

“Rasa enggan....?” gumam Pak Ratno bingung.

“Setelah itu, tekuk kedua lutut kalian dan ikuti gerakan saya.” lanjut Chia sambil membuka lebar kedua tangannya dan dengan cepat membentuk tanda plus dengan kedua tangannya. “KAGEBUNSHIN NO JUTSU!!!!

“KAGEBUNSHIN NO JUTSU!!!” teriak semua murid kelas IX-C.

“Kagak basin no susu....?” gumam Pak Ratno sama sekali tak mengerti pemanasan yang sedang dilakukan Chia.

“Inikan jurus-jurus di Naruto.” celetuk seorang siswa.

“Iya bener, mungkin abis ini jurus chidori.” sahut siswa lain.

“Naruto.....” geram Pak Ratno sambil memukul kepala Chia dengan buku absen kelas IX-C.

“Aduhh!!” pekik Chia

“Emang kamu pikir ini sekolah ninja? Sana kembali ke barisan.”.

Chia pun kembali ke barisan dengan muka kesal.

“Coba saya minta Fian, kamu yang pimpin pemanasan.” tunjuk Pak Ratno ke arah seorang cowok tinggi, berkepala gundul. Cowok tersebut maju ke depan barisan dengan wajah ogah-ogahan.

 “Sebenarnya saya gak mau membagi pemanasan yang biasa saya lakukan ini. Tapi berhubung ini permintaan Pak Ratno, jadi apa boleh buat.” kata Fian sombong. “Pertama-tama letakan kedua tangan di pinggang. Setelah itu, toleh kanan dan kiri.” instruksi Fian diikuti oleh seluruh siswa.

“Hmm... ini pemanasan yang betul.” gumam Pak Ratno lega.

“Nah, sekarang, kalau sudah aman, langkahkan kaki ke depan,” ujar Fian mempraktekkan, “...trus secepat mungkin lempar paku-pakunya di jalan.” lanjut Fian sembari berpura-pura melempar sesuatu ke depan.

“Paku....” gumam Pak Ratno mencoba mencerna maksud dari instruksi pemanasan Fian.

“Kalau semua udah beres, baru kita lari.” lanjut Fian yang sudah bersiap-siap untuk lari, tapi naas, Pak Ratno sudah menjewer kupingnya.

“Jadi, selama ini kamu yang suka nabur paku di parkiran?” berang Pak Ratno.

“Aduh ketahuan...” gumam Fian ketakutan.

“Gara-gara kamu, saya musti bolak-balik ganti ban. Habis ini kamu harus nemuin Pak kepsek!” omel Pak Ratno seraya melepas jewerannya. “Sekarang kamu balik ke barisan. Jangan lupa, habis pelajaran ini kamu kudu nemuin Pak Kepsek!!”

“Iy....iy....iyaa... Pak.” kata Fian terbata-bata.

Akhirnya Pak Ratno memutuskan untuk menyuruh satu per satu siswa kelas IX-C memimpin pemanasan. Namun dari sekian banyak siswa kelas IX-C, tak ada satu pun yang mampu memimpin pemanasan dengan benar. Ada yang malah asyik goyang dumang, ada yang berpose ala supermodel, ada yang cuma berdiri mematung, ada yang berlagak seperti tentara mau perang, dan ada pula yang cuma teriak-teriak ala roker.

“Selama ini, kalian kan sudah diajari cara pemanasan. Masa gak ada yang bisa mimpin pemanasan dengan bener.” keluh Pak Ratno.

“Kita kan anti mainstream, Pak.” sahut Chia.

“Hadeuuh...” ujar Pak Ratno mengelus dada.

Tiba-tiba seorang cowok Indo berpakaian olahraga berjalan menuju lapangan dan  mendekati Pak Ratno.

Ahhhh.... Ronald..... akhirnya pujaan hatiku datang juga..., batin Luna senang melihat cowok Indo tersebut.

“Maaf Pak, saya terlambat.” kata Ronald kepada Pak Ratno.

“Gak papa. Udah selesai ujian susulan geografinya?”

“Sudah, Pak.”

“Hmm... kalau gitu, coba kamu yang mimpin pemanasan.”

“Hah? Saya, Pak?” tanya Ronald tak percaya.

“Iya, kamu.” jawab Pak Ratno sambil menganguk.

Kali ini bakal seancur apa ya..., batin Pak Ratno sudah siap dikecewakan.

Walaupun Ronald terlihat enggan untuk memimpin pemanasan, namun dia tetap melakukannya. Dan tanpa diduga oleh Pak Ratno, pemanasan yang dilakukan Ronald tidak senyeleneh teman-teman sekelasnya, dia melakukannya dengan baik dan benar, sehingga pemanasan dapat berjalan lancar dan normal.

Ternyata masih ada murid yang bisa diandalkan dari kelas IX-C ini. batin Pak Ratno terharu melihat Ronald.

“Nah, itu tuh yang namanya pemanasan!! Kalian harus mencontohnya, jangan malah berimprovisasi sendiri.” ujar Pak Ratno saat Ronald selesai memimpin pemanasan sampai pendinginan. “Baiklah, sekarang mari kita masuk ke pelajaran olahraga hari ini, yaitu roll ke depan dan belakang. Semuanya ayo pindah kesana.” lanjut Pak Ratno sambil menunjuk ke arah matras di samping lapangan. Belum sempat mereka beranjak dari tempat barisan, tiba-tiba bel berbunyi satu kali.

“Pak, saatnya ganti jam pelajaran!” seru Chia.

“Iya Pak, kita belum sempat istirahat.” sahut beberapa murid yang lain.

“Ya udah, kalian boleh istirahat selama 15 menit sekarang.” kata Pak Ratno kecewa.

“Horreeeeeeeeeee!!!!!!” seru murid kelas IX-C senang.

“Fian!!” panggil Pak Ratno. “Lho, mana Fian?” tanya Pak Ratno saat tak melihat batang hidung Fian.

“Sudah kabur, Pak.” jawab Tony.

“Anak ituuu.... Kalau ketemu dia, suruh nemuin saya.” geram Pak Ratno. “Sekalian, tolong taruh buku absen ini di kelas.” kata Pak Ratno sambil memberikan buku absen kelas IX-C ke Tony.

“Siap, Pak.....”

Tanpa diperintahkan lagi, para murid kelas IX-C langsung bubar barisan. Beberapa murid cowok memutuskan untuk bermain sepakbola, beberapa murid wanita memutuskan ganti baju sambil ngerumpi cantik, sedangkan beberapa murid yang dilanda kelelahan sekaligus kelaparan memilih untuk pergi ke kantin, bahkan mereka sampai saling sikut dan me-tackle temannya sendiri hanya untuk sekedar menjadi yang pertama sampai di kantin ckckckck... bagaimana nasib bangsa ini kelak ya?

Sementara itu, Pak Ratno yang merasa kecewa karena gagal mengajar roll, pergi meninggalkan lapangan dan berjalan malas ke kantor.

 “Kenapa Pak, kok bermuram durja? Apa semangat anak kelas IX-C-nya kurang menggebu-gebu?” tanya Bu Demen ketika berpapasan dengan Pak Ratno di luar kantor.

Pak Ratno menghela napas panjang. “2 jam pelajaran cuma habis buat pemanasan. Bener-bener bikin hati panas.” keluh Pak Ratno. “Ternyata benar kata Ibu, mereka memang susah diprediksi.” lanjut Pak Ratno tidak bersemangat.

“Yang sabar ya, Pak.” kata Bu Demen menenangkan.

Pak Ratno menganguk.

“Ngomong-ngomong, sekarang ibu mau ngajar kelas berapa?” tanya Pak Ratno saat melihat Bu demen sudah siap membawa beberapa buku biologi.

Bu Demen menghela napas panjang, dengan tak bersemangat dia menjawab, “Kelas IX-C, Pak.”.

“Oh... kebetulan mereka baru saja selesai olahraga. Jadi, kemungkinan 15 menit lagi mereka baru siap pelajaran berikutnya.” jelas Pak Ratno. “Maaf ya, Bu...” ujar Pak Ratno tak enak hati melihat tatapan kecewa Bu Demen.

Bu Demen dan Pak Ratno berjalan lesu ke dalam kantor. Aura muram menyelimuti mereka berdua sampai-sampai tak ada yang berani mendekati mereka.

*****

Comments

Popular posts from this blog

Menikmati Pedasnya Ayam Gepuk Pak Gembus Malang

Ayam Gepuk Pak Gembus Malang Sudah dengar belum kalau Ayam Gepuk Pak Gembus buka cabang di Kota Malang? Sebenarnya saya juga baru tahu dari kawan saya yang berada nun jauh di Kota Jakarta. Dia, -sebut saja “Mawar Melati Indah Sekali”, disingkat MMIS- ini sangat merekomendasikan Ayam Gepuk Pak Gembus. Di Kota Jakarta, Jogjakarta dan beberapa daerah lainnya, nama Ayam Gepuk Pak Gembus memang sudah terkenal. Konon kabarnya, nama “Pak Gembus” ini berasal dari nama panggilan sang juragan, Rido Nurul semasa kecilnya. Sedangkan imbuhan “Pak” ditujukan sebagai kata sapaan untuk orang tua di Indonesia. Jadi, terciptalah nama “Ayam Gepuk Pak Gembus”. Nah, berhubung si MMIS ini bercerita dengan menggebu-gebu soal kelezatan rasa pedas Ayam Gepuk Pak Gembus, otomatis saya pun jadi tertarik. Tak butuh waktu lama bagi saya untuk merealisasikan cita-cita saya untuk mencicipi pedasnya Ayam Gepuk Pak Gembus cabang Malang yang berada di daerah Ruko Kalpataru Kav.3, tepatnya di sebel...

Yuk, Mampir ke Bakso Sudi Mampir Malang!

Bakso Sudi Mampir Malang Selain dikenal sebagai kota bunga dan kota pendidikan, Malang juga terkenal dengan berbagai macam kulinernya. Salah satu kuliner yang menjadi ciri khas Kota Malang adalah bakso. Siapa sih yang nggak tergoda dengan cita rasa bakso Malang yang gurih dan lezat? Hampir semua orang pasti setuju kalau bakso Malang memang enak. Nah, kalau kalian pergi ke Malang, jangan lupa untuk meluangkan waktu mencicipi kelezatan baksonya. Tenang saja, hampir di setiap sudut kota Malang terdapat rumah makan, restoran, warung sampai pedagang keliling yang menjual bakso. Jadi, kalian nggak akan kesulitan mencari kuliner khas Malang ini. Salah satu tempat yang   saya rekomendasikan dan sering sekali saya kunjungi adalah Bakso Sudi Mampir Malang. Letaknya berada di Jl.S.Supriadi, Sukun, Kota Malang, tepat di depan jalan raya, sangat mudah dijangkau dengan berbagai kendaraan. Menu Bakso Sudi Mampir Malang Bakso Sudi Mampir Malang menyediakan berbagai mac...

CHIAAAA!! (bab 21)

Ngomong-ngomong soal voli, dulu pas lagi jalan santai ke kantin, palaku pernah di smash sama salah satu anak voli. kampret tuh bocil, gak sekali dua kali coeg tapi berkali2!! Cemen beraninya nyerang dari belakang. Biar Tuhan yang balas #membekasdihati maaf tracing Haikyuu hehe BAB 21 LOKI DAN KLUB VOLI Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, jam dimulainya ekskul voli. Semua peserta ekskul sudah mengenakan pakaian olahraga masing-masing dan berbaris rapi di lapangan. Mereka sedang bersiap-siap melakukan pemanasan. “Tunggu!!” seru Chia sambil berlari tergopoh-gopoh menuju barisan. Dia berbaris tepat di sebelah Luna. ”Fuihh..... hampir aja telat.” kata Chia lega.             “Dari mana aja, Chi?” tanya Luna ingin tahu. Chia melihat ke Luna dengan ekspresi sedih.”Lun.... dari ruang kesehatan, disuruh bersih-bersih sama ganti kaca....hiks......hiksss......uang jajanku jadi abis buat beli kaca baru.... huaaa..... kejamnya dunia ini......”...