aku lebih deg-degan ngobrol sama kamu dibandingkan adu pinalti kiwkiw
Bab 20: Sang Leon el Chiuuuuuuu Messy
Esok harinya, sepulang sekolah, Luna yang masih
mengenakan seragam sekolah, tengah asyik duduk sendirian di taman sambil
mengamati anak-anak yang bermain
sepakbola di lapangan. Pandangannya tak lepas dari sosok cowok tinggi, berambut
curly yang sedang menggiring bola ke arah gawang. Ya, dia adalah Ronald. Dengan
gesit, Ronald melewati tiga pemain bertahan dan melesakkan tendangannya tepat
menuju arah gawang dan....
“GOAAALLLLL!!!!!” teriak teman-teman se-timnya
senang.
Ronald melakukan selebrasi dan tersenyum puas, dia
tak menghiraukan seragamnya yang basah oleh keringat.
“Kerennya....” gumam Luna tanpa sadar.
“Makasih, Lun.” sahut seseorang dari samping Luna.
“Ehh?! Loki!” seru Luna kaget melihat sosok cowok
berkacamata, berpakaian bebas yang ada di sampingnya.
“Hai Lun..” sapa Loki, “ternyata kamu juga
berpikir aku keren.” lanjut Loki tersenyum malu-malu kucing.
“Eh, bukan itu maksudku....” kata Luna mencoba
menjelaskan.
“Loh, itu kan Ronald.” sela Loki saat matanya
tanpa sengaja melihat ke lapangan dan mendapati Ronald sedang mengoper bola ke
salah satu temannya. “Ternyata dia beneran pindah ke sini ya....” gumam Loki.
“Eh?!”
“Dulu di SMP 05 dia terkenal jago olahraga,
apalagi kalau basket.”
“Basket?”
“Iya, dia juga termasuk salah satu pemain yang
bawa tim basket SMP 05 ke Final sama Alan.” jelas Loki. “Emang dia gak ikut
ekskul basket disini?”
Luna menggelengkan kepalanya, “Setahuku dia gak
ikut ekskul apa-apa.”
“Hmmm... sayang sekali.” gumam Loki.
“Ehh??”
“Oh, gapapa.”
“Ngomong-ngomong kenapa kamu ada disini?” tanya
Luna ingin tahu.
“Kebetulan lagi main di sekitar sini, jadi
sekalian mampir aja ke SMP-nya Bunda.”
“Bunda? Bu Demen maksudnya?”
“Iya. Eh.. kata Alan ntar ada ekskul voli ya?”
“Iya, mulai jam 4 nanti.”
“Aku udah gak sabar liat Alan maen voli, nih.” jawab
Loki.
Dari arah lapangan, Ronald yang sedang menunggu
bola, tanpa sengaja melihat ke arah Luna dan Loki yang asyik berbicara berdua
di taman. Sekilas dia terlihat kesal sampai-sampai dia tak menyadari bola yang
dioper ke arahnya, sehingga membuat bola tersebut keluar lapangan.
“Ronaalldd!!! Jangan diam aja!! Kejar bolanya!!”
teriak seseorang dari pinggir lapangan. Seketika lamunan Ronald buyar saat
mendengar suara cempreng tersebut. “Kalau kamu mainnya gak jelas, gimana
sepakbola kita bisa maju!” teriak si pemilik suara itu lagi, kali ini dengan
nada penuh emosi.
Ronald melihat ke sumber suara tersebut yang
berasal dari seorang cewek berpakaian training, lengkap dengan topi SMP Two
Hero yang menutupi rambut bob acak-acakannya, yup, tepat sekali, dia adalah
Chia yang berlagak bak seorang pelatih sepakbola.
“Sana, cepat ambil bolanya, kalo nggak kita bakal
di-skakmat.” perintahnya pada Ronald yang memang sudah bermaksud mengambil
bola. “Ingat kita harus menggunakan strategi 3 langkah mati. Pastikan untuk
menghancurkan perlindungan raja lawan..” jelas Chia penuh semangat pada Ronald
yang sudah siap-siap melakukan lemparan ke dalam. “..lalu kita bisa melakukan
serangan akhir dengan menteri yang kita pu...”
“Berisik.” kata Ronald sembari melemparkan bola
sepak tersebut, tapi bukannya melempar ke dalam lapangan, dia malah melemparkan
bola tersebut ke kepala Chia dengan sengaja.
“Adoohhh!!!” teriak Chia kesakitan.
“Ini sepakbola bukan catur. Bodoh!” seru Ronald ke
Chia yang masih mengelus-elus kepalanya.
“Siapa yang bodoh? Aku ini pelatihmu! Jangan
kurang ajar ya!” seru Chia emosi.
“Eh, aku cabut duluan.” ujar Ronald ke rekan
setimnya, tak menghiraukan ocehan Chia.
“Yaaahhh...... jumlah pemain tim kita jadi ga
imbang dong.” ujar salah seorang cowok yang bertindak sebagai centre back kecewa.
“Sorry. Ada keperluan nih.” sesal Ronald sambil
mengambil tasnya yang berada di pinggir lapangan dan pergi berlalu begitu saja.
“Ya udah, kita cari pemain satu lagi buat gantiin
Ronald.” saran seorang anak yang bertugas menjadi keeper.
“Tenang. Ga perlu dicari, Aku, Lionel ‘Chia’ Messi
sudah ada disini.” ujar Chia dengan penuh percaya diri sembari berjalan masuk
ke dalam lapangan. “Sebagai player manager, selain melatih tim, aku juga bisa
jadi pemain sepakbola profesional sekelas Messi ci luk ba.” kata Chia bangga.
“Jangan dia deh, bisa kacau ntar.” kata anak yang
menjadi keeper tersebut sedikit
khawatir. Beberapa temannya pun menganguk setuju.
“Hmm... sepertinya kalian butuh bukti nyata.
Baiklah akan kutunjukkan kemampuanku dalam bermain sepakbola.” lanjut Chia
sambil menggiring bola yang tadi mengenai kepalanya ke tengah lapangan. Chia
memandang tajam bola di depannya lalu beralih ke gawang lawan, wajahnya
terlihat serius. Dia mengambil ancang-ancang dan menendang bola tersebut
sembari berteriak, “TENDANGAN DARI TADIII!!”.
Bola sepak tersebut melayang jauh tinggi di
angkasa raya menggapai langit menembus cakrawala, memutari bumi dan kembali
jatuh horizontal tertarik gravitasi bumi menuju ke arah gawang lawan, namun
sepertinya bola tersebut kurang enak badan sehingga dia memutuskan untuk
melesat tajam menuju ruang kesehatan untuk beristirahat sejenak, dan....
“PRRRAAANGGG!!!!” suara peraduan sang bola dengan
si kaca di Ruang Kesehatan terdengar menggema di sekitar lapangan. Semua anak
yang berada di lapangan tersebut berdiri terpaku dan memandang Chia tak
percaya.
“Ups! Gawat.....” gumam Chia menelan ludah.
“Hmmm... se...sepertinya aku ad..ada... per...pertan...dingan di..di..tem...pat
la...lain.” ujar Chia terbata-bata sambil menunduk karena tak tahan dengan
tatapan orang-orang di sekelilingnya.
Namun ketika dia melihat kembali ke lapangan,
dalam sekelebat mata saja, lapangan tersebut sudah kosong melompong. Tak ada
siapa-siapa, kecuali dirinya yang berdiri terdiam di tengah lapangan, sendirian
bersama dengan berhembusnya angin sore yang menerpanya. Ya, para pemain yang
tadi berada di lapangan sudah kabur duluan dengan kecepatan kilat, menghilang
bagai ditelan bumi.
“Ehhemmm...” terdengar deheman dari balik bahu
Chia. Dengan perlahan Chia menoleh ke belakang dan mendapati seorang pria paruh
baya berbadan bungkuk dan berhidung bengkok sedang menatap kejam ke arah Chia.
“Pa...Paak... Re..Resa....” kata Chia ketakutan.
“Jadi kamu yang mecahin kaca jendela ruang
kesehatan?” tanya Pak Resa sambil berkacak pinggang.
“Ehh...he...he...hee....” Chia hanya bisa tertawa
hambar saking takutnya.
“Kamu musti tanggung jawab!! Bersihkan pecahannya
sama ganti kacanya!!” perintah Pak Resa sambil menyeret Chia meninggalkan
lapangan.
“Seseorang...tolong aku....” rengek Chia.
Sementara itu, Loki masih asyik mengobrol dengan
Luna di taman sekolah, sampai-sampai dia tak menyadari kehadiran Alan yang
sedari tadi sudah berdiri di sampingnya. Dengan kesal, Alan langsung memegang
pundak Loki.
“Alan?? Ngapain kamu disini?” tanya Loki kaget.
“Semestinya aku yang tanya ngapain kamu disini?’
tanya Alan ketus.
“Ohh... cuma mampir, kali aja ketemu Bunda.”
“Bu Dhe udah pulang dari tadi.”
“Iya, aku tahu.”
“Terus ngapain kamu masih disini?”
“Emang gak boleh?” Loki balik tanya. Alan seperti
kesulitan menjawab pertanyaan tersebut. Seraya mendekatkan wajahnya ke telinga
Alan, Loki berbisik pelan, “Sebenernya aku pingin ketemu Luna hehehe.....”.
“Heeh??!!” Alan terkejut. “Sekarang udah ketemu
kan, sono pulang.” usir Alan.
“Luna, masa aku diusir, padahal aku kan cuma mau
ngeliat sepupuku ini latihan voli.” ujar Loki ke Luna dengan nada memelas.
“Alann...kasihan Loki udah jauh-jauh kesini buat
liat kamu.” ucap Luna.
“Tapi Lun.....”
“Ah, Alan, sebagai sepasang sepupu seharusnya kita
kan saling mendukung.” kata Loki
Di saat Loki dan Alan saling berdebat satu sama
lain, Luna melirik ke arah lapangan yang kosong.
Loh?
Ronald kemana? Perasaan tadi Ronald baru aja nge-goal-in deh. Kok lapangannya
udah kosong? Emang sepakbolanya udah selesai ya? batin Luna kecewa saat melihat lapangan yang tadi
ramai sekejap menjadi sepi mamring.
*****

Comments
Post a Comment