"SMA Punyanya Bang Satria" bjiiirr tajir banget punya SMA sendiri (+10000 aura)
Bab 19: Loki, TK Mutiara Kerang, SMA Punyanya Bang Satria
“Hmm... jadi begitu ceritanya, Lun?”
“Iya, seperti itu, Chi.”
“Masa dia bisa berbuat begitu?”
“Itu yang kudengar. Aku juga gak habis pikir dia
sampai begitu.”
“Padahal dia tidak terlihat seperti itu...”
“Benar. Gara-gara itu, mereka jadi begitu.”
“Eheemmm...” dehem seseorang diantara kedua
makhluk tersebut. “Itu, begitu, memangnya apa itu, itu?” tanya cowok tinggi
tersebut sambil memegang dagunya, selayaknya orang berpikir.
“Kyaaa....” teriak Luna kaget melihat seongok
rambut kribo yang ada di sampingnya.
“Hai, Lun...” sapa cowok tersebut. Luna masih
terlihat syok.
“Kakak? Sejak kapan ada disini?” tanya Chia
setelah sadar seongok rambut tersebut adalah kakaknya.
“Barusan.” jawab cowok berseragam SMA tersebut.
“Emang lagi ngomongin apa sih? Kok kayaknya seru?”
“Bukan urusanmu. Ini pembicaraan dua wanita
dewasa. Anak laki-laki dilarang menguping!” seru Chia sambil mendorong tubuh
Nathan. “Hussh...... hush....pergi sono!!”
“Tapi ini
kan kamarku.” ujar Nathan.
“Ehh?!!?!” seru Luna dan Chia kaget. Mereka
mengamati ruangan tempat mereka berada
tersebut yang dipenuhi dengan poster-poster band, majalah musik dan beberapa
instrumen gitar.
“Ah.. Maaf...” ujar Luna, bangkit berdiri dari
kasur berseprai-kan gambar The Beatles itu.
“Sono balik ke kamarmu yang ancur itu.” ujar
Nathan gantian mendorong Chia dari tempat tidurnya.
“Sorry Kak, maklum keasyikan ngerumpi.”
“Dasar cewek.”
Chia dan Luna beranjak keluar dari kamar Nathan,
meninggalkan Nathan yang asyik mengutak atik gitarnya. Mereka berjalan menuju
ruangan di seberang kamar Nathan.
“Kamarmu makin berantakan aja Chi.” kata Luna saat
memasuki kamar Chia yang penuh dengan buku dan baju-baju yang berserakan.
“Ya mau gimana lagi, aku kan gak sempet beresin
kamar. Maklum jadwalku padat.” ujar Chia sambil menggeser jatuh baju-baju yang
menumpuk di kasurnya.
“Jadwalmu kan cuma main doang.” sinis Luna sambil
mengenyakan diri di kasur Chia.
“Ngomong-ngomong soal main. Yuk main ke taman,
Lun.” ajak Chia.
“Aku kan baru nyampe di rumahmu, Chi. Lagian
rencana kita sekarang kan buat ngerjain tugas kelompok.”
“Luna, tugas itu bisa ditunda besok. Kalau main
itu gak bisa ditunda. Nanti bisa-bisa mood mainnya hilang. ” bijak Chia
“Tugasnya tuh dikumpulin besok tau! Jadi gak bisa
ditunda-tunda.”
“Okey, jadi kamu pilih maen atau tugas?”
“Ya tugaslah.”
“Okey, kalau gitu kamu yang ngerjain tugas, aku
yang main. Gimana? Ide cemerlang kan!”
“Enak aja.” kata Luna sambil memukul wajah Chia
dengan bantal. “Ini kan tugas kelompok. Kita musti ngerjain bareng-bareng.”
“Tapi aku males, Lun. Gimana kalau tidur siang
dulu, biar otak kita fresh.” bujuk Chia
“Tidur siang? Sekarang udah jam 4 sore, tahu.”
“Kalau gitu tidur sore.”, dan sebuah bantal
lagi-lagi menghantam muka Chia. “Aduh! Apa salahku hingga dikau tega melukai
wajahku yang kiyut ini?”
“Udah gak usah banyak ngomong, sana ambil bukumu.”
ujar Luna sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Dengan malas, Chia
mengambil buku dari meja belajarnya. Tanpa ba, bi, bu lagi, Luna dan Chia mulai
mengerjakan tugas kelompok tersebut, walaupun terkadang Chia tertidur, dan saat
itulah sebuah bantal melayang ke wajahnya sampai dia terbangun lagi.
*****
“Ah leganya... setelah bersusah-susah ngerjain
tugas, akhirnya kita bisa main di taman juga.” ujar Chia senang.
“Iya sih,” jeda Luna ”tapi mainnya gak di taman
kanak-kanak juga kali!” seru Luna kesal. Dia duduk malas di salah satu bagian
jungkat-jungkit, sementara Chia duduk di sisi lainnya sambil memainkan jungkat
jungkit itu dengan penuh semangat.
“Mumpung sepi, Lun. Gak ada anak TK nya lagi.”
“Ya iyalah, sekarang kan udah malam, Chi. Kalau
ketahuan penjaganya bisa-bisa kita dikira maling.”
“Tenang aja, gak ada penjaganya kok.”
“Beneran?” tanya Luna tak yakin.
Chia menganguk penuh kepastian.
Luna mengamati Taman Kanak-Kanak yang bernama TK
Mutiara Kerang tersebut yang jaraknya tak jauh dari rumah Chia. Halaman TK
tersebut digunakan sebagai taman bermain, tempat dimana Chia dan Luna sedang
bermain jungkat-jungkit sekarang. TK tersebut gelap dan sepi, tak ada satu pun
lampu yang menyala, taman bermainnya sendiri hanya bersinarkan cahaya dari
bulan dan pantulan lampu yang menerangi jalanan. Seperti kata Chia, tak
terlihat tanda-tanda adanya orang selain mereka di dalam TK tersebut. Mengetahui
hal ini membuat Luna lega.
Setelah puas bermain jungkat-jungkit mereka
beralih ke permainan prosotan dan ayunan, sampai akhirnya sebuah lampu di salah
satu ruangan menyala dan seorang pria gemuk dengan kumis tipis keluar dari
ruangan itu.
“Katamu gak
ada penjaganya?” tanya Luna berbisik.
“Emang gak ada penjaganya, yang ada cuma satpam.”
“Sama aja bohong.” ketus Luna kesal.
“Hoi siapa itu?” tanya pria berseragam satpam
tersebut galak saat melihat Chia dan Luna duduk terpaku di ayunan.
“Kabuuurr.... Lun...!” seru Chia sambil menarik
tangan Luna.
Mereka pun langsung lari tunggang langgang menaiki
pagar TK dan berlari sejauh mungkin dari TK tersebut.
“Hoii berhenti!! Jangan kaburrr!!!!!” teriak si
satpam sambil berlari mengejar Chia dan Luna. “Dasar anak jaman sekarang!
Gangguin orang tidur aja!” berang si Satpam kesal. Namun, karena faktor berat
badan dan umur, kecepatan lari si satpam tak sebanding dengan kecepatan lari
Chia dan Luna.
Saking takutnya dikejar satpam, Chia dan Luna
terus berlari, tak menghiraukan apapun. Sampai di pertigaan jalan, mereka tanpa
sengaja menabrak seorang cowok yang juga berlari dari arah berlawanan. Tabrakan
yang dasyat ini membuat ketiga orang tersebut jatuh dengan gaya masing-masing.
Luna jatuh terduduk, sedangkan cowok berkacamata tersebut jatuh menelungkup,
sementara Chia jatuh bangun aku mengejarmu namun dirimu tak mau mengerti.....
halah malah nyanyi.
“Luna?” tanya cowok berambut cepak tersebut saat
melihat Luna.
“Loki?” balas Luna saat melihat cowok tinggi
bernama Loki tersebut.
“Chia?” tanya Chia saat melihat bayangan dirinya
sendiri di kaca jendela di depannya, tak mau kalah.
Sejenak mereka saling pandang satu sama lain. Lalu
ketiga orang yang terlihat kecapekan tersebut sama-sama bangkit berdiri. Dengan
digelayuti rasa takut, mereka menoleh ke belakang, ke arah dimana mereka tadi
berlari, seakan mereka tengah dikejar-kejar sesuatu.
“Jangan kesana ada satpam TK.”
“Jangan kesana ada anak-anak SMA Punyanya
Bang Satria.”
Kata Luna dan Loki bebarengan sambil menunjuk ke
arah mereka berlari tadi.
“Kalau gitu kita kesana aja.” saran Chia, menunjuk
ke sebuah gang kecil yang berada di seberang jalan. Luna dan Loki menganguk
setuju. Mereka pun bergegas menuju gang sempit tersebut. Sesekali mereka
menoleh ke belakang, memastikan tak ada yang mengejar.
“Kayaknya udah aman deh.” ujar Luna setelah
berjalan agak jauh dari tempat mereka bertabrakan tadi.
Ketiga orang ini terlihat terengah-engah dan
kecapekan. Mereka memutuskan untuk beristirahat di bangku depan pos kampling
yang kosong.
“Eh emang kenapa kalau ada satpam TK?” tanya Loki
penasaran.
“Soalnya satpam TK-nya ngejar kita.” jawab Luna
sambil meluruskan kakinya.
“Kok bisa sampai dikejar satpam TK?”
“Hmm... Itu berkat ide brilian dia,” jawab Luna
sambil melirik kesal ke Chia, “yang ngajakin buat nerobos masuk ke taman
bermain TK Mutiara Kerang. Thanks Chia.” lanjut Luna tersenyum sinis.
“Sama-sama, Lun...” balas Chia tersenyum, tak
merasa bersalah.
“Oy, katamu
tadi ada anak SMA Punyanya Bang
Satria, emang kenapa sama mereka?”
tanya Luna gantian.
“Mereka kan SMA yang terkenal suka tawuran itu.”
sahut Chia antusias.
“Mereka ngejar kamu?” tanya Luna sedikit panik
“Nggak.” jawab Loki cepat sambil menggelengkan
kepalanya.
“Terus kenapa kamu lari?” tanya Luna.
“Ehh...ituu... anuuu...” Loki berpikir sejenak
sambil menggaruk kepalanya, “Ahh... ya, aku tadi lagi olahraga lari, gitu.. ”
jawab Loki gugup.
“Terus hubungannya sama anak SMA Punyanya Bang Satria apa?”
“Gak ada.” jawab Loki. Tapi Chia dan Luna
memandang Loki penuh keheranan.
“Trus kenapa kita tadi gak boleh lewat situ?”
tanya Luna
“Daripada kalian ntar kenapa-napa pas ketemu
mereka, mending cari amannya, kan.” jawab Loki
“Bener juga ya” gumam Luna.
“Jadi, kamu olahraganya malem-malem gini?
Olahraganya pake seragam sekolah ya?” cerca Chia dengan berbagai pertanyaan
sambil mengamati seragam SMP 05 Loki yang basah oleh keringat.
“Eh....iya...” jawab Loki mulai gelisah,
“ini... so..so...soalnya aku....aku lupa bawa baju olahraga.” lanjut Loki
terbata-bata,
“Oh lupa bawa baju olahraga, mencurigakan.” gumam
Chia.
“Eh, emangnya kenapa kalau aku olahraganya pake
seragam, masalah buat kamu? Toh baju-baju aku, bukan kamu aja yang nyuci, cih.”
nyolot Loki ke Chia.
“Ihh... ditanyain gitu doang aja udah nyolot,
mengingatkanku pada seseorang.” ketus Chia.
“Oh iya, kalian kan belum kenal,” ujar Luna, “Chi,
kenalin ini Loki, sepupunya Alan.” kata Luna ke Chia, “Lok, ini Chia, temenku.”
lanjut Luna mengenalkan kedua orang tersebut.
“Sepupunya Alan?” tanya Chia
“Iya, anaknya Bu Demen.” ucap Luna
Chia langsung terkejut. “Ohh... pantes sama-sama
nyebelin.” gumamnya.
Loki terlihat tak terima dengan perkataan Chia,
dengan ketus dia berkata, “Ohh.. jadi nih yang namanya Chia, anak SMP Two Hero
yang suka bikin keributan.” ketus Loki memandang remeh ke Chia.
“Sudah...sudah...” kata Luna menengahi. “Haus
nih, kita beli minum dulu yuk di warung itu.” ajak Luna. Chia dan Loki
menganguk setuju dengan usul dari Luna tersebut. Mereka pun menuju ke warung
yang berada di sisi kanan jalan.
Sementara Chia, Luna dan Loki asyik minum kopi sembari
berbincang-bincang di warung, di tempat lain, tepat dimana Loki tadi berlari,
muncul 3 anak cowok berseragam SMA sedang terlihat kebingungan mencari sesuatu.
“Lari kemana tuh bocah?” tanya cowok tinggi
berambut gondrong merah.
“Kesana kali, Rei.” jawab Aguz, cowok berambut
spike sambil menunjuk ke tempat Chia dan Luna tadi berlari yaitu TK Mutiara
Kerang.
“Cari Loki sialan itu secepatnya!” seru pria
berambut gondrong yang bernama Rei itu, memberi aba-aba.
Ketiga anak berseragam SMA awut-awutan tersebut
mematuhi aba-aba Rei dan berlari menuju
ke arah TK Mutiara Kerang. Tanpa diduga, mereka bertemu dengan satpam TK yang
mengejar Chia dan Luna.
“Gawat ada
satpam, Rei!!!” ujar Nate, cowok bertubuh pendek.
“Sial! Bisa ribet kalo urusannya sama satpam. Kita
balik!” perintah Rei sambil berbalik arah diikuti teman-temannya.
“Heiii....tunggu!!! Kalian pasti temennya anak
tadi!! Sini, jangan kabur, kalian!!! Seenaknya nerobos TK aja. Inget umur!!
Dasar anak jaman sekarang buandellnya minta ampun.” teriak si satpam yang kali
ini mengejar gerombolan anak SMA yang lari pontang panting tak karuan.
*****

Comments
Post a Comment