Pernah gak kalian suka sama anak basket, sering nontonin dia latihan atau tanding tapi berakhir NT? wkkwkwkwkwkwkkkkkkaciandehlu (;sejak itu senyumku menjadi bola voli;)
Bab 18. One-on-one, si paling basket nih boss!!
Pukul setengah sembilan malam, Luna dengan rambut panjangnya yang terurai,
berjalan sendirian menyusuri trotoar jalan yang sepi. Sebuah tas jinjing warna
pink mengayun sesuai dengan langkah kakinya. Namun, tiba-tiba langkahnya
terhenti ketika dia melewati sebuah lapangan basket di kawasan perumahan elite.
Lapangan basket tersebut dikelilingi oleh pagar kawat dengan pencahayaan yang
terang dari beberapa lampu yang mengintarinya. Beberapa pohon berjajar rapi di
salah satu sisi luar lapangan tersebut.
Matanya yang lebar melihat sosok yang tak asing
lagi baginya. Seorang cowok tinggi dengan kaos oblong ini sedang asyik bermain
basket sendirian di lapangan. Sesekali cowok bercelana basket ini melakukan lay up dan shooting yang tepat masuk ke dalam ring. Tetapi wajahnya tak
menampakan rasa senang ataupun puas akan hasil usahanya. Dia terlihat
begitu kosong dan sedih.
Dia mencoba melakukan tembakan three points, namun kali ini bola tidak masuk ke dalam ring
melainkan memantul dan menggelinding ke kaki Luna yang beralaskan sepatu kets.
Cowok tersebut tak mempedulikan kemana arah bola
menggelinding. Dia masih tetap berdiri terpaku di tempatnya shot tadi, menatap kosong ke arah ring
basket.
Luna memungut bola tersebut dan men-dribble-nya. Suara pantulan bola dengan
lantai membuat cowok berjambul ini tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arah
Luna. Sejenak cowok yang bernama Alan ini memandang cewek berkaos lengan
panjang hitam di depannya, berusaha mengingat-ingat sesuatu.
“Ahhh! Kalo gak salah, kamu temennya si cewek gila
itu kan?” tanya cowok itu sembari menunjuk Luna.
“Cewek gila? Chia maksudmu?” tanya Luna,
menghentikan dribble-annya.
“Iya, siapa lagi kalo bukan dia. Sembunyi dimana
tuh anak? Jangan-jangan dia mau bikin masalah lagi.” kata Alan sembari
mengamati sekeliling lapangan, mencari-cari Chia.
“Chia gak ada disini.” ujar Luna, “Lagian dia tuh
gak gila.” lanjut Luna sambil mem-passing
bola basket dengan keras ke arah Alan.
“Aduh!” seru Alan saat bola basketnya mengenai
tubuhnya.
“Yah... walau kadang tingkahnya memang agak susah
ditebak sih.”
“Nah, itu maksudku.”
“Tapi dia gak gila!”
“Iya...iya...” ujar Alan. “Hmm kalo gak salah
namamu Lula, Lala, apa Lulu, kan?” tanya Alan mencoba mengingat-ingat.
“Luna.”
“Oh iya, Luna. Kenalin aku Alan.”
“Udah tahu.”
“Wow sepertinya aku terkenal ya?” Alan nyengir
kuda
“Bukannya
dulu kamu udah pernah ngenalin diri?”
“Oh gitu...” sahut Alan baru ingat, “Ngomong-ngomong
ngapain kamu malem-malem ada disini?”
“Abis pulang les. Emang gak boleh?”
“Gapapa sih, cuma penasaran aja.”
“Kamu sendiri ngapain disini?”
“Hmm.... Latihan basket, biar ntar bisa jadi
pemain basket profesional.”
“Tapi, bukannya kamu ikut ekskul voli?”
“Eh... iya.. ya...” Alan menggaruk kepalanya, “Ah,
kalo gitu pas SMA aku ikut ekskul basket lagi. Dan jadi pemain pro.”
“Lagi?”
“Ya, dulu di SMP 05 aku kan jadi tim inti basket
putra.” kata Alan bangga sambil mengambil bola basket dan men-dribble-nya.
SMP
05? Itukan SMP-nya Ronald dulu. Jadi, mereka dulu satu SMP... batin Luna.
“Trus kenapa kamu malah ikut ekskul voli?” tanya
Luna.
“Itu........ karena....” jawab Alan, dia terlihat
berpikir keras, ”...mau coba ekskul baru. Habis bosen sih kalau udah jago di
basket doang.” lanjut Alan
“Sombongnya...” gumam Luna sepet. “Hm, gimana kalo
kita tanding basket, One-on-One?”
“Emang kamu bisa maen basket?” tanya Alan meremehkan.
“Liat aja ntar. Jangan-jangan kamu takut kalah?”
cibir Luna.
“Siapa yang takut! Tapi ingat ya, kalau kalah
jangan sampai nangis.”
“Gak bakal.” kata Luna sembari meletakan tas
pink-nya di pinggir lapangan, tepat di sebelah tas ransel hitam milik Alan. “1
poin untuk normal shot, 2 poin untuk shot di garis three point. Yang dapet 7
point duluan, dia yang menang. Gimana?” lanjut Luna sambil menguncir rambut
panjangnya.
“Okey. Ga sampai semenit juga aku yang akan
menang.” kata Alan menyombongkan diri.
Bola pertama milik Luna, dia mencoba untuk
memasuki pertahanan Alan, namun dengan gesit Alan langsung menyambar bola di
tangan Luna. Luna mencoba kembali merebut bola tersebut. Namun sia-sia. Alan
melakukan lay up dan masuk. 1 poin
untuk Alan.
“See....” kata Alan nyengir sembari membenarkan
jambulnya.
Kali ini bola milik Alan. Di-dribble-nya bola itu sebentar lalu dia melakukan shot dari luar
garis three point dan masuk. 3 poin
untuk Alan.
“Bener-bener gak nyampe semenit.” ujar Alan
sembari tersenyum meremehkan. Luna menghela napas panjang.
Bola dipegang oleh Luna. Tapi tak lama kemudian
Alan berhasil merebut bola itu. Dengan penuh gaya ala streetball Alan men-dribble
bolanya, sesekali mempermainkan Luna yang terlihat dengan susah payah merebut
bola darinya. Lalu Alan melakukan shot yang tak bisa dijangkau oleh Luna. Dan 4
poin untuk Alan.
“Sial!!” gumam Luna kesal.
“Gimana? Udah mau nyerah?”
“Gak bakal.”
Bola kemudian di-dribble Alan. Luna memperhatikan setiap gerakan Alan. Dia berusaha
sebisa mungkin untuk merebut bola dari Alan. Tapi sepertinya Alan masih terlalu
tangguh untuknya. Dengan penuh percaya diri, Alan melakukan tembakan ke arah
ring. Namun kali ini tembakannya gagal masuk, Luna tak membiarkan kesempatan
itu berlalu begitu saja. Dia mengambil bola tersebut, men-dribble-nya keluar garis three
point. Alan mencoba menghadang tapi terlambat, Luna sudah melakukan shot
dan ....masuk.
“Dua poin!” seru Luna gembira. Alan masih berdiri
tak percaya melihat Luna yang baru saja memasukan bola dari jarak sekitar 7
meter.
“Hah, cuma kebetulan saja.” gumam Alan kembali ke
permainan.
Bola kembali milik Luna. Alan mencoba merebut bola
itu, tapi sepertinya Luna sudah tahu beberapa teknik Alan. Dengan gesit dia
melesat melewati Alan dan melakukan lay
up. Bola masuk dengan mulus ke dalam ring. 3 poin untuk Luna.
“Kayaknya udah semenit lebih nih...” sindir Luna
sambil menyeringai ke Alan yang terlihat sedikit kesal.
Alan memegang bola, digiringnya bola tersebut
mendekati ring. Tapi Luna dengan sigap langsung merebut bola tersebut. Alan
mencoba merebut kembali bolanya. Dari luar garis three point, lagi-lagi Luna mencoba peruntungannya. Dia menge-shot bola tersebut namun Alan berhasil
menge-block tembakannya. Dan bola
jatuh ke tangan Alan.
“Keberuntungan gak dateng dua kali.” cibir Alan.
Tanpa pikir-pikir lagi Alan langsung melakukan
tembakan dari garis three point.
Sayangnya, tembakannya terlalu keras dan memantul ke papan ring tepat ke arah Luna.
Dengan sigap Luna mengambil bola tersebut dan jump shot dari luar garis three
point.
“Yass!!!” teriak Luna saat bolanya masuk ke dalam
ring. “Keberuntungan emang datang bagi mereka yang mau usaha.” ujar Luna
sembari tersenyum ke arah Alan yang
masih melongo.
Skor sementara Luna memimpin dengan 5 poin
sedangkan Alan 4 poin. Keringat mulai mengucur, namun mereka masih bersemangat
untuk melanjutkan permainan. Kemampuan Luna dalam bermain basket membuat Alan
tak sesombong sebelumnya. Kali ini Alan menanggapi permainan Luna dengan
serius.
Sekarang bola milik Luna. Luna mengambil
ancang-ancang untuk melakukan shot three
point lagi, Alan sudah siap menge-block
shot Luna di depannya. Tapi ternyata Luna tidak melakukan shot melainkan berlari dengan menggiring bola menuju ring basket, jump shot dan masuk. 6 poin untuk Luna.
“Damn!” gumam Alan.
Bola dipegang oleh Alan, dengan tenang dia
langsung melakukan shot three point,
Luna mencoba menge-block laju bola,
sayangnya loncatannya tak mampu menggapai bola. Dan bola pun melaju masuk ke
dalam ring. 6 poin untuk Alan.
Kini poin Alan dan Luna sama-sama imbang yaitu 6
poin. Jadi, saat ini merupakan detik-detik dimana pemenang dari One-on-One akan ditentukan.
Bola berada di tangan Luna, di-dribble-nya bola tersebut melewati Alan.
Dia melakukan jump shot namun
lagi-lagi mampu di block oleh Alan.
Bola pun berpindah tangan ke Alan. Luna berusaha untuk menghadangnya dan
merebut bola tersebut. Namun, dengan gesit Alan menghindar dan melakukan
tembakan langsung ke arah ring. Bola mengarah ke ring, memantul di papan,
berputar mengitari ring. Luna dan Alan yang sama-sama bercucuran keringat dan
terengah-engah, cemas menunggu apa yang akan terjadi pada bola tersebut. Tak
berapa lama kemudian bola tersebut masuk ke dalam ring. Alan pun memenangkan
pertandingan dengan 7 poin.
“YESS!!” sorak Alan.
“Well, selamat ya.” ucap Luna mengakui
kekalahannya.
“Sepertinya tadi aku terlalu meremehkanmu, hampir
aja aku kalah.” kata Alan menatap kagum Luna. “Tapi tetep aja butuh seribu
tahun buat kamu ngalahin aku.” lanjut Alan seraya mengalihkan pandangannya
ketika Luna menatapnya balik.
“Duh.. sombongnya kumat.” ucap Luna sembari duduk
di atas lapangan, meluruskan kedua kakinya yang pegal.
“Becanda, becanda....hehehe....”
Sementara Luna asyik duduk sambil memainkan bola
basket, Alan berjalan menuju tas hitamnya dan mengambil dua kaleng minuman dari
dalam tasnya.
“Nih” kata Alan, menyodorkan sekaleng minuman ke
Luna dan duduk di sampingnya.
“Eh, thanks.” kata Luna menerima minuman tersebut.
“Aku gak nyangka kamu bisa maen basket. Kirain
cuma bisa maen voli doang hehehe...”
“Makanya jangan menilai orang dari luarnya aja.”
“Bener juga ya. Sorry deh kalo gitu.”
“No problem.” ujar Luna.
Alan dan Luna sama-sama meneguk minuman kaleng di
tangan mereka sembari menikmati sepoi angin yang berhembus menerpa tubuh
mereka. Sesekali Alan menyeka keringat di dahinya dengan wristband-nya
“Btw,
thanks ya..” kata Luna tiba-tiba.
“Hmmm..??”
“Thanks, karena udah gak bilang ke Bu Demen
tentang kejadian di Lab. biologi tempo hari. Padahal sebenernya kita yang
salah. Makasih ya.”
“Ohh...”
“Ternyata bener kata Ronald, kamu gak akan bilang
ke Bu Demen.”
“Ronald....” gumam Alan seraya tersenyum sinis, “...penghianat
itu.” geram Alan. Wajahnya menunduk, nada suaranya bergetar menahan amarah,
tangannya meremas kaleng minumannya hingga menumpahkan air yang ada di
dalamnya.
“Peng... hianat...?” gumam Luna, mengulang
perkataan Alan dengan hati-hati.
“Ya, berandalan itu, orang yang pernah kuanggap
sebagai teman itu ternyata malah tega menghianatiku.” ujar Alan tersenyum
getir.
“Eehhh....” gumam Luna tak percaya
“Kami dulu sekelas di SMP 05, kami sering
nongkrong dan latihan basket bareng. Sampai suatu ketika, Ayahku, keluargaku
satu-satunya yang kupunya, tertangkap karena kasus dugaan korupsi. Dan orang
yang pertama kuberitahu adalah Ronald. Aku memintanya untuk merahasiakannya,
jangan sampai orang lain tahu, bahkan sodaraku sendiri saat itu belum tahu. Dan
tebak apa yang terjadi besoknya waktu aku masuk sekolah?” tanya Alan tersenyum
sinis. “Berita itu sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Hampir semua anak
di SMP 05 menghinaku habis-habisan, menjelek-jelekkan ayahku walaupun belum ada
bukti jelas akan kasusnya.” ujar Alan sambil meremas kuat kaleng minumannya
hingga penyok.
“Bisa aja orang lain yang nyebarin, kan? Pihak
kepolisian mungkin?” ucap Luna membela Ronald.
Alan menggelengkan kepalanya. “Ronald sendiri yang
ngaku kalau dia yang nyebarin berita itu, dan dengan gampangnya dia ngomong,
‘Sorry’.” Alan tertawa getir. “Sorry katanya. Apa dia gak tahu gimana rasanya
dibully? Apa dia gak tahu rasanya saat orang yang kita sayangi dihina dan
dituduh habis-habisan? Sorry katanya. Dan lihat sekarang, belum sampai 2 minggu
aku pindah ke SMP Two Hero, dia, penghianat itu, juga ikut pindah ke sini. Apa
dia juga berniat untuk menyebarkannya cerita itu di SMP Two Hero?” berang Alan,
meluapkan emosinya. “Semestinya aku tahu akibatnya kalau percaya sama
berandalan seperti dia.”
Luna bisa merasakan kepedihan dan amarah yang
terdengar dari suara Alan. Kedua tangannya masih mengepal, meremukan kaleng
yang isinya sudah tumpah semua. Sunyi sejenak. tak ada yang berkata-kata. Luna
masih tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, dia tak mengira Ronald
tega berbuat sekeji itu.
“Eh, sorry,” kata Alan memecah kesunyian. “gak
seharusnya aku ngeluapin amarahku ke kamu. Kamu jadi denger hal yang gak enak
kayak gini. Sorry.” kata Alan penuh penyesalan.
“Nggak,” kata Luna menggelengkan kepalanya. “Aku
gak tahu kenapa Ronald bisa berbuat seperti itu, mungkin dia juga punya
alasannya tersendiri.” kata Luna. “Tapi aku senang kamu mau cerita semua ini.
Seolah kamu berhasil meluapkan apa yang selama ini kamu pendam.” lanjut Luna,
Alan menoleh ke arah Luna. “Dan gak ada salahnya untuk membagi beban yang kamu
pikul dengan temanmu. Mulai sekarang aku akan jadi salah satu temanmu.” kata
Luna tersenyum tulus ke arah Alan. Sejenak Alan terperangah melihat senyum
manis Luna yang meluluhkan hatinya.
“Teman ya....” kata Alan membalas senyuman Luna.
Luna menganguk pasti. “Tapi walaupun kita
berteman, bukan berarti aku juga membenci Ronald.”
“Ya aku tahu itu.”
“Aku yakin kalau kelak kalian berdua akan kembali
berteman lagi.”
“Itu hal yang gak mungkin.”
“LAN!!” tiba-tiba teriak seseorang dari belakang
mereka. Alan dan Luna menoleh ke sumber suara tersebut yang berasal dari
seorang cowok tinggi, berkacamata, dengan rahang menonjol. Wajahnya
mengingatkan Luna akan seseorang yang dia kenal. Cowok tersebut berlari menuju
Alan yang langsung bangkit berdiri diikuti oleh Luna.
“Sorry telat.” kata cowok berseragam SMP 05
tersebut terengah-engah. “Belum sempat pulang gara-gara kerja kelompok.”
“Bu Dhe, udah kamu kabarin?” tanya Alan.
“Belum, hapeku lowbat.” jawab cowok berambut cepak
tersebut.
“Alamat kamu bakal diceramahi.” ujar Alan.
“Yah, gimana lagi.” ujar cowok tersebut sambil
menggaruk rambutnya. “Oh, temenmu nih Lan? Kenalin dong.” pinta cowok tersebut
setengah berbisik saat melihat Luna.
“Oh... kenalin ini sepupuku.” ujar Alan.
“Loki.” kata cowok bernama Loki tersebut tersenyum
seraya menjabat tangan Luna.
“Luna.” balas Luna, “Sepupu? Jangan-jangan...”
“Iya, dia anaknya Bu Demen.”
“Pantesan aja mirip.” gumam Luna.
“Temen sekelasnya Alan?” tanya Loki
Luna menggeleng, “Temen ekskul voli.”
“Ohh... padahal Alan jago maen basket loh, dia
sempet bawa SMP 05 ke Final turnamen basket antar SMP sebelum kejadian itu.”
ujar Loki, wajah Alan terlihat sedikit tak enak hati, “Sayang dia malah milih
ekskul voli di SMP Two Hero.”
“Ehh... kayaknya
udah malem,” kata Luna saat melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul
setengah 10 malam. “Aku pulang duluan ya...” lanjut Luna sambil mengambil tas
pink-nya.
“Gimana kalo kita anterin?” tanya Loki.
“Gak usah, rumahku deket kok.”
“Ohh.. gitu...” kata Loki kecewa.
“Hati-hati di jalan” kata Alan tersenyum.
“Yup. Bye...” ujar Luna.
“Byeee......” ujar Loki sambil melambaikan
tangannya.
Luna pun beranjak pergi menuju rumahnya. Sementara
kedua cowok tersebut masih berdiri tanpa suara melihat Luna yang semakin
menjauh.
“Dia cantik ya?” tanya Loki.
Tanpa sadar Alan menganguk.
“Comblangin dong.”
Alan terkejut. Loki menatapnya dengan penuh harap.
“Pulang yuk.” ajak Alan, pura-pura tak mendengar perkataan Loki, sembari mengambil
bola basket dan tasnya.
“Latihannya, gimana?”
“Tadi aku udah latihan bareng Luna.”
“Sialan, dia nyuri start duluan.” gumam Loki.
*****

Comments
Post a Comment