Semenjak
bulan Juli hingga awal Agustus 2018, Malang sedang dilanda cuaca yang sangat
dingin. Apalagi kalau malam hingga menjelang pagi, suhunya bisa mencapai 12
derajat celcius. Hal ini mengingatkan saya ketika pergi berlibur ke Gunung
Bromo beberapa tahun yang lalu bersama Riri, kawan saya.
Perjalanan penuh liku menuju Gunung Bromo
Perjalanan ke Gunung Bromo ini disiasati oleh Riri, yang merupakan
anak Pencinta Alam. Kalau berurusan dengan petualangan, Riri memang dipenuhi dengan
semangat dan tekad membara. Sedangkan saya, orangnya lebih suka tidur-tiduran
dan bermalas-malasan di rumah. Namun tanpa disangka-sangka, jiwa petualang saya
yang sudah tertidur pulas, tiba-tiba terpanggil ketika mendengar ajakan Riri
untuk berwisata ke Gunung Bromo, atau lebih tepatnya saking malasnya untuk
bermalas-malasan, akhirnya saya pun setuju ikut ke Gunung Bromo.
Aksi ke Gunung Bromo ini bisa dibilang aksi nekat, karena kami, dua
orang gadis kuliahan dengan berbekal uang pas-pasan dan rasa penasaran yang
tinggi, nekat ke Gunung Bromo dengan mengendarai sepeda motor dari Kota Malang.
Kami berangkat pukul 6 pagi lebih satu jam, alias janjiannya jam 6
tapi ketemuannya jam 7, namanya juga penganut sistem “ngaret”, jadi susah untuk
tepat waktu huehehe... Okay, kembali ke topik, sebelum berangkat, tidak lupa
kami mengenakan pakaian lengkap mulai dari jaket, masker, sarung tangan,
sepatu, dan helm, hal ini dilakukan demi keamanan dalam berkendara. Dan yang
terpenting, jangan lupa berdoa agar sampai tempat tujuan dengan selamat. Amin.
Saat itu saya dibonceng oleh Riri karena kalau saya yang membonceng,
pasti sampai ke Gunung Bromo-nya bisa tahun depan, maklum saya orangnya
menganut semboyan “alon-alon sing penting kelakon”.
Masalah arah, saya serahkan semuanya pada Riri, dia tahu betul soal
arah, jalan dan tujuan hidup tanpa memerlukan GPS. Sementara saya seperti Roronoa
Zorro, bisa tersesat dimana dan kapan saja, apalagi kalau menuju hatimu. Bisa-bisa
saya tersesat dan tak tahu jalan pulang. Aduh...
Nah, kami berdua memilih jalur Malang yang melewati rute Tumpang, Ngandas
dan Jemplang. Kalau kalian pikir perjalanan melalui jalur ini mulus, maka
kalian salah besar. Jalur ini memang diperuntukan bagi orang-orang yang mempunyai
jiwa petualang seperti Riri. Bagaimana tidak, jalurnya terbilang terjal, jarang
ada persinggahan atau rumah penduduk dan jalannya masih berbatu alias gronjalan.
Bahkan berkali-kali saya harus turun dari motor supaya motornya kuat melewati
jalur berbatu tersebut.
Walaupun tergolong terjal, namun jalur ini menawarkan pemandangan
alam yang sangat indah. Kalian akan dimanjakan dengan hijaunya perkebunan apel,
hutan dan cagar alam. Setelah melewati
keindahan alam tersebut, kami melewati pertigaan bernama Jemplang. Pertigaan ini
memisahkan jalur menuju Ranu Pani arah Gunung Semeru dengan jalur ke lautan
pasir Gunung Bromo. Berhubung tujuan kami adalah menuju gunung Bromo, maka kami
mengambil jalur lautan pasir .
Sebelum melihat lautan pasir, kami disambut dengan
padang savana yang luas dan indah. Saya dan Riri pun tergoda untuk sejenak
mengabadikan gambar di padang rumput tersebut. Beberapa kali kami mencoba foto
melompat (levitation), syukurlah dari 20 lompatan, tidak dapat satu pun foto
yang bagus, malah dapat capeknya saja. Hadeuh...
![]() |
| Padang savana. Disinilah saksi bisu kegagalan foto levitasi kami... |
Drama Pasir Berbisik Ssssst...
Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju lautan pasir.
Seperti namanya, pasirnya ada dimana-mana, luas seperti lautan. Untungnya, kami
tidak menemukan “bunga pasir” disini hehehe... Oh iya, sekadar info, berhubung
lautan pasir ini benar-benar luas, berdebu dan kadang berkabut (khususnya pada
malam hari), pastikan untuk selalu berhati-hati dan kenakan masker agar
terhindar dari debu. Selain itu, tak jarang di lautan pasir, ban sepeda motor bisa
selip sehingga susah untuk bergerak maju, bahkan terkadang membuat motor oleng
dan jatuh.
Berhubung di lautan pasir Riri ngebut
sehingga menyebabkan motor oleng dan nyaris jatuh, maka saya bertugas
menggantikan posisi Riri sebagai pembonceng, tentu dengan kemampuan berkendara
“alon-alon sing penting kelakon”.
Semuanya berjalan lancar,
walaupun saya yang buta arah ini kerap kepedean dan tersesat semakin menjauhi
Gunung Bromo, tapi tidak apa-apa, masih ada Riri sebagai GPS yang selalu
mengingatkan.
Tanpa diduga, masalah datang.
Tapi bukan Mas Salah, pemain Liverpool, tapi ‘masalah’! Jreng-jreng-jreng! Ya,
ternyata kemampuan menyetir saya yang penuh kehati-hatian terkendala ban selip sehingga
motor susah bergerak. Alhasil, Riri berinisiatif turun dari motor dan
mendorong motor untuk maju. Beruntung sekali saya memiliki kawan yang
pengertian seperti Riri.
Setelah sepeda motor yang saya
kendarai berhasil maju, saya pun berhenti sejenak supaya Riri bisa naik kembali
ke atas motor. Kemudian saya melanjutkan perjalanan sambil bercerita panjang
lebar kepada Riri. Namun, sedari tadi saya bicara dan bertanya ke Riri, entah
kenapa Riri tidak menjawab satu pun pertanyaan saya. Hal ini membuat saya khawatir,
jangan-jangan Riri ngambek.
Sembari mengendarai motor, saya
melirik ke jok belakang, eh ternyata Riri tidak ada di atas motor. Ya, tanpa
sadar, saya telah meninggalkan Riri di tengah lautan pasir. Sendirian. Maafkan
saya, Ri... wkwkwkw.... Jadi, dari tadi saya bicara sendiri alias bicara sama
pasir. Hmm... mungkin inilah yang dinamakan dengan pasir berbisik.
![]() |
| Ilustrasi adegan pasir berbisik dengan kemampuan gambar yang luar biasa 'biasa'. |
Drama “Naik-naik ke puncak gunung, capek... capek sekali...”
Setelah berhasil melewati lautan
pasir dan memarkirkan sepeda motor. Kami berjalan menuju kawah Gunung Bromo.
Untuk melihat kawah Gunung Bromo, para wisatawan harus rela menaiki tangga yang
tinggi, dengan kemiringan yang lumayan bikin deg-degan, sama seperti ketika saya melihatmu. Eaaa...
Bagi saya perjalanan menuju
kawah Bromo ini cukup melelahkan karena saya memang jarang olahraga. Sementara,
Riri yang merupakan anggota Pecinta Alam, bisa dipastikan kuat menaiki tangga
yang tinggi ini. Oh ya, sekadar info, di gunung Bromo, kalian juga dapat
menyewa kuda ataupun membeli makanan kecil di sekitar kawasan wisata. Asyik,
kan!
![]() |
| Tangga menuju kawah Gunung Bromo. Kalau tangga menuju hatimu, dimana...? |
Ketika sampai di pertengahan tangga menuju kawah Gunung Bromo, saya sudah kelelahan bukan main. Napas sudah tersengal-sengal, kaki pegal, rasanya ingin pulang dan tidur-tiduran saja di rumah. Capek. Tapi nasi sudah jadi bubur dan sudah ada di dalam perut. Kenyang. Ya sudah, saya berdiri diam di tangga tersebut, melamun, melihat ke arah puncak yang masih jauh, lalu beralih menatap ke bawah, yang juga sama jauhnya. Mungkin inilah yang dinamakan naik segan, turun pun tanggung.
Melihat saya terpaku diam di
anak tangga, Riri pun berhenti melangkah. Saat itu dia berada tak jauh di atas
saya, kami berdua saling pandang. Riri masih tampak fresh, tidak kelelahan
sedikit pun, sebuah senyum simpul terpancar dari raut mukanya ketika melihat wajah
saya yang sudah seperti Squidward.
![]() |
| Seperti inilah ekspresi saya. Sumber : youtube |
Selain pengertian, sabar dan tahu arah bagaikan GPS, Riri juga merupakan penyemangat yang baik. Nah, berikut ini reka adegan yang intinya adalah... saya berkata, “Kamu duluan saja.” dan Riri menjawab, “Tidak, aku akan menunggumu, kamu pasti bisa.”. Nah, seperti itu... so sweet-kan... wkwkwkwk...
Berikut reka adegan drama “naik-naik
ke puncak gunung, capek... capek sekali...” versi Bahasa Jawa-nya:
Riri : “Ayo, semangat...”
Saya : “Disekan no Ri... gak
usah ngurus aku... jalanmu masih panjang...” *Walah lebay.*
Riri : “Ojo tah... wes istirahat
o disek. Tak enteni.”
Saya : “Gak usah, kamu desekano,
nkok tak susul.” *dengan napas tersengal-sengal*
Riri : “Wes talah, tak
enteni...” *kukuh sekali kawan saya yang satu ini*
Saya : “Gak usah. Disekano aku
wes gak kuat mlaku...”
Riri : “Kuat... kuat... mek
karek titik kok...”
Saya : “Titik dari Hongkong?
Adoh iku Ri...” *sudah mulai nge-gas saudara-saudara...*
Riri : “Kuat... kuat... wes
talah, iso... iso... saiki lereno disek. Tak enteni...” *masih tidak pantang
menyerah dalam memotivasi saya. Saya jadi terharu*
Adegan ini begitu intense,
sampai-sampai terdengar alunan lagu D’masiv “Jangan menyerah, jangan
menyerah...” dari kejauhan. Di tengah drama tidak berfaedah ini, beberapa orang
yang lewat memandang saya dengan tatapan “Aduh anak jaman sekarang, naik tangga
segini saja sudah lelah. Ckckckc... payah...”.
Sampai pada akhirnya ada orang
yang melewati saya, secara gamblang dia tertawa mengejek ke arah saya. Dan dalam
se-ke-jab-, rasa lelah itu pun hilang, berganti dengan rasa malu dan kesal. Masa
saya diketawain? Padahal saya kan bukan komedian. Huh! Singkat cerita, akhirnya
saya bisa sampai ke puncak Gunung Bromo yang berada di ketinggian 2.329 meter
dari permukaan laut. Rasanya lega sekali.
Dari atas sana, saya dan Riri menikmati indahnya kawah gunung Bromo dengan asap yang mengepul serta melihat luasnya lautan pasir dari ketinggian. Benar-benar indah! Tentu saja, momen ini kami abadikan dengan berfoto-foto. Setelah puas menikmati pemandangan Gunung Bromo, kami pun memutuskan untuk pulang.
![]() |
| Riri sedang merenungi arti kehidupan di depan kawah Gunung Bromo. Sangat dalam... |
Dari atas sana, saya dan Riri menikmati indahnya kawah gunung Bromo dengan asap yang mengepul serta melihat luasnya lautan pasir dari ketinggian. Benar-benar indah! Tentu saja, momen ini kami abadikan dengan berfoto-foto. Setelah puas menikmati pemandangan Gunung Bromo, kami pun memutuskan untuk pulang.
![]() |
| Saya sedang meratapi nasib yang terasingkan, dijauhi orang-orang... |
Saya selalu bertanya-tanya kenapa kalau traveling ke tempat baru, perjalanan pulang terasa lebih cepat dibandingkan ketika berangkat. Misalnya, jika waktu yang dibutuhkan ketika berangkat dari Malang ke Gunung Bromo membutuhkan 2 hingga 3 jam dengan mengendarai sepeda motor. Tapi kenapa saat pulang hanya membutuhkan waktu 1 menit lewat pintu kemana saja milik Doraemon? Heran saya tuh...
Baiklah, sekian blog pengalaman
liburan penuh drama ke Gunung Bromo yang tidak akan saya lupakan. Semoga
tulisan ini bermanfaat dan menginspirasi kalian agar tidak meninggalkan kawan
sendiri di lautan pasir. Huehehehe...
Bonus lagu yang cocok untuk petualangan ini, "Savana" dari Senar Senja feat Asteriska. "Seraya memberi warna, indahnya savana, hangatkan sang surya... mari bersua, mengukir cerita."







Comments
Post a Comment