Skip to main content

The Woodsman and the Rain (キツツキと雨)


Ohayou gozaimasu!
Pada kesempatan kali ini, saya akan menulis tentang salah satu film Jepang favorit saya, yaitu The Woodsman and the Rain (Kitsutsuki to Ame). Film ini berhasil menarik minat saya karena dalang dibalik pembuatan film ini merupakan salah satu sutradara Jepang panutan saya, Shuichi Okita.

Lewat tangan dinginnya, Shuichi Okita berhasil menghipnotis saya dengan film-film garapannya, termasuk  The Woodsman and the Rain yang dirilis pada Februari 2012 (hmmm... entah kenapa dua postingan blog awal saya kembali ke tahun 2012. Ada apa dengan 2012? Okay, abaikan). Nah, selain “faktor” Shuichi Okita sendiri, film Kitsutsuki to Ame juga dibintangi oleh aktor-aktor kenamaan Jepang seperti Koji Yokusho, Shun Oguri, Kengo Kora, dan Asami Usuda.


Singkat cerita, film The Woodsman and The Rain berkisah tentang Katsuhiko Kishi (Koji Yakusho) seorang tukang kayu berusia 60 tahun yang bertemu dengan Koichi Tanabe (Shun Oguri), seorang sutradara pemula berusia 25 tahun. Awalnya Katsuhiko memang terlihat enggan untuk membantu Koichi dalam proses pembuatan filmnya yang bertema zombie. Namun seiring berjalannya waktu, Katsuhiko semakin menikmati proses pembuatan film tersebut, bahkan dia juga diminta untuk menjadi salah satu pemeran ekstra. Sementara, di sisi lain, Koichi yang bersifat pemalu dan introvert memiliki masalah dalam hal kepercayaan diri. Dia merasa kurang mampu dalam memimpin para krunya dan justru berusaha untuk melarikan diri dari tanggung jawabnya sebagai seorang sutradara. Namun, berkat kehadiran Katsuhiko, Koichi pun merasa bersemangat kembali untuk menyelesaikan film zombie-nya. 

Film The Woodsman and the Rain (Kitsutsuki to Ame) menyuguhkan sebuah kisah heartwarming yang sederhana namun memikat. Alur ceritanya yang mengalir begitu saja dan tidak bertele-tele sangat nikmat untuk ditonton. Ditambah lagi dengan sentuhan komedi segarnya yang menjadi salah satu daya tarik dari film ini. Kemampuan akting para pemainnya juga tidak diragukan lagi, sehingga pantas saja kalau The Woodsman and The Rain berhasil memenangkan Special Jury Prize di Tokyo International Film Festival.


Apabila kalian bercita-cita untuk menjadi filmmaker seperti Koichi Tanabe, maka The Woodsman and the Rain (Kitsutsuki to Ame) merupakan film yang layak untuk kalian tonton.

Comments

Popular posts from this blog

Menikmati Pedasnya Ayam Gepuk Pak Gembus Malang

Ayam Gepuk Pak Gembus Malang Sudah dengar belum kalau Ayam Gepuk Pak Gembus buka cabang di Kota Malang? Sebenarnya saya juga baru tahu dari kawan saya yang berada nun jauh di Kota Jakarta. Dia, -sebut saja “Mawar Melati Indah Sekali”, disingkat MMIS- ini sangat merekomendasikan Ayam Gepuk Pak Gembus. Di Kota Jakarta, Jogjakarta dan beberapa daerah lainnya, nama Ayam Gepuk Pak Gembus memang sudah terkenal. Konon kabarnya, nama “Pak Gembus” ini berasal dari nama panggilan sang juragan, Rido Nurul semasa kecilnya. Sedangkan imbuhan “Pak” ditujukan sebagai kata sapaan untuk orang tua di Indonesia. Jadi, terciptalah nama “Ayam Gepuk Pak Gembus”. Nah, berhubung si MMIS ini bercerita dengan menggebu-gebu soal kelezatan rasa pedas Ayam Gepuk Pak Gembus, otomatis saya pun jadi tertarik. Tak butuh waktu lama bagi saya untuk merealisasikan cita-cita saya untuk mencicipi pedasnya Ayam Gepuk Pak Gembus cabang Malang yang berada di daerah Ruko Kalpataru Kav.3, tepatnya di sebel...

Yuk, Mampir ke Bakso Sudi Mampir Malang!

Bakso Sudi Mampir Malang Selain dikenal sebagai kota bunga dan kota pendidikan, Malang juga terkenal dengan berbagai macam kulinernya. Salah satu kuliner yang menjadi ciri khas Kota Malang adalah bakso. Siapa sih yang nggak tergoda dengan cita rasa bakso Malang yang gurih dan lezat? Hampir semua orang pasti setuju kalau bakso Malang memang enak. Nah, kalau kalian pergi ke Malang, jangan lupa untuk meluangkan waktu mencicipi kelezatan baksonya. Tenang saja, hampir di setiap sudut kota Malang terdapat rumah makan, restoran, warung sampai pedagang keliling yang menjual bakso. Jadi, kalian nggak akan kesulitan mencari kuliner khas Malang ini. Salah satu tempat yang   saya rekomendasikan dan sering sekali saya kunjungi adalah Bakso Sudi Mampir Malang. Letaknya berada di Jl.S.Supriadi, Sukun, Kota Malang, tepat di depan jalan raya, sangat mudah dijangkau dengan berbagai kendaraan. Menu Bakso Sudi Mampir Malang Bakso Sudi Mampir Malang menyediakan berbagai mac...

CHIAAAA!! (bab 21)

Ngomong-ngomong soal voli, dulu pas lagi jalan santai ke kantin, palaku pernah di smash sama salah satu anak voli. kampret tuh bocil, gak sekali dua kali coeg tapi berkali2!! Cemen beraninya nyerang dari belakang. Biar Tuhan yang balas #membekasdihati maaf tracing Haikyuu hehe BAB 21 LOKI DAN KLUB VOLI Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, jam dimulainya ekskul voli. Semua peserta ekskul sudah mengenakan pakaian olahraga masing-masing dan berbaris rapi di lapangan. Mereka sedang bersiap-siap melakukan pemanasan. “Tunggu!!” seru Chia sambil berlari tergopoh-gopoh menuju barisan. Dia berbaris tepat di sebelah Luna. ”Fuihh..... hampir aja telat.” kata Chia lega.             “Dari mana aja, Chi?” tanya Luna ingin tahu. Chia melihat ke Luna dengan ekspresi sedih.”Lun.... dari ruang kesehatan, disuruh bersih-bersih sama ganti kaca....hiks......hiksss......uang jajanku jadi abis buat beli kaca baru.... huaaa..... kejamnya dunia ini......”...